Jumat, 02 Januari 2026

MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH MATA PELAJARAN : AKIDAH AKHLAK BAB 8 : AYO MENUNDUKKAN NAFSU SYAHWAT DAN GADHLAB

 

MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH

MATA PELAJARAN : AKIDAH AKHLAK

BAB 8 : AYO MENUNDUKKAN NAFSU SYAHWAT DAN GADHLAB

 

INFORMASI UMUM

 

A.   Identitas Modul

Nama Madrasah              :    MA Muhammadiyah Blabak

Nama Penyusun               :    Kuni Hiriyanti, S. Pd

Mata Pelajaran                :    Akidah Akhlak

Kelas / Fase Semester      :    X/ E / 2

Elemen                              :    Ayo Menundukkan Nafsu Syahwat Dan Gadhlab

Alokasi waktu                  :    2 x 45 Menit

 

Capaian Pembelajaran

Pada akhir Fase E, dalam elemen akidah, peserta didik mampu menganalisis sifat wajib dan mustahil bagi Allah Swt. (nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah) dan sifat-sifat jaiz Allah Swt., asma' al-Husna, Islam wasathiyah (moderat) dan Islam radikal. Pada elemen akhlak, peserta didik membiasakan akhlak terpuji (taubat, hikmah, iffah, syaja 'ah dan 'adalah);dan menghindari akhlak tercela (hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, riya' dan sifat-sifat turunannya, nafsu syahwat, licik, tamak, zhalim, dan diskriminatif, għadlab); serta cara menundukkannya melalui mujahadah, riyadlah, dan tazkiyatun nufus. Pada elemen adab peserta didik mampu menganalisis dan membiasakan adab mengunjungi orang sakit, berbakti kepada orang tua dan guru berdasarkan dalil dan pendapat ulama. Dalam elemen kisah teladan, peserta didik mampu menganalisis dan mengambil ibrah dari kisah Nabi Luth a.s. dalam kehidupan sehari-hari.

Elemen

Capaian Pembelajaran

Akidah

Peserta didik mampu menganalisis sifat wajib, mustahil Allah Swt. (nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah) dan sifat jaiz Allah Swt., asma' al-husna (al-Karim, al-Mu'min, al-Wakiil, al- Matiin, al-Jaami, al-Hafiz, al-Rafi', al-Wahhab, al-Rakib, al-Mubdi, al-Muhyi, al-Hayyu, al-Qoyyum, al-Akhir, al-Mujib, dan al-Awwal, dan nama lainnya), serta pemahaman Islam wasathiyah (moderat) sebagai upaya membentuk sikap moderasi beragama dalam akidah dan muamalah untuk mewujudkan harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkebinekaan.

Akhlak

Peserta didik mampu menganalisis akhlak terpuji-hikmah, iffah, syaja 'ah, dan 'adalah; menghindari akhlak tercela hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, riya, dan sifat-sifat turunannya, serta syahwat, ghadlab, licik, tamak, dzalim, dan diskriminatif, melalui tazkiyatun nufus dengan cara mujahadah dan riyadlah, sehingga terbentuk pribadi yang memiliki kesalehan individual dan sosial dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Adab

Peserta didik mampu membiasakan dan mengevaluasi adab berbakti kepada orang tua dan guru, mengunjungi orang sakit berdasarkan dalil dalam konteks kehidupan global sehingga terbentuk pribadi yang peduli dan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah Keteladanan

Peserta didik mampu meneladani kisah Nabi Luth a.s. dalam kesabaran, ketangguhan dan ke beranian dalam menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar, sehingga dapat diambil inspirasi dalam menghadapi tantangan kehidupan yang hedonis, materialistis dan sekuler di era global.

 

B    Kompetensi Awal

Nafsu merupakan perangkat yang pasti ada pada diri manusia. Tiada seorang pun yang tidak memilikinya.

Karena nafsu merupakan pendorong manusia yang kuat untuk bisa melakukan segala perbuatan, baik itu perbuatan baik maupun buruk. Perbuatan baik ataupun buruk digerakkan oleh nafsu, artinya nafsu menjadi komando segala kegiatan manusia, sekaligus sebagai motor penggerak yang menggerakkan segala macam tingkah laku manusia. Dari nafsu inilah manusia bisa berbuat baik dan bisa juga berbuat jelek. Sebetulnya setiap manusia diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat menghambat potensi itu muncul di permukaan. Potensi yang dimaksud di sini adalah potensi untuk menciptakan keadilan, ketentraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya.

Dalam kenyataannnya manusia cenderung mengikuti nafsu syahwatnya, padahal pada hakikatnya syahwat (keinginan) nafsu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang sesuai dengan tabiatnya (watak), dan menjauhi sesuatu yang tidak disukai dan dicintai, padahal seringkali kerusakan jiwa disebabkan karena hal-hal yang amat disukainya itu, dan keselamatan karena menjauhi hal-hal tersebut.

 

C.   Profil Pelajar Pancasila (PPP) dan Pelajar Rahmatan lil Alamin (PRA)

§  Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global.

§  Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin yang ingin dicapai adalah taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh.

 

D.   Sarana dan Prasarana

Media                    :    LCD proyektor, komputer/laptop, jaringan internet, dan lain-lain

Sumber Belajar    :    LKPD, Buku Teks, laman E-learning, E-book, dan lain-lain

 

E.   Target Peserta Didik

Peserta didik cerdas istimewa berbakat dan peserta didik regular

 

F.    Model DAN METODE Pembelajaran

Model Pembelajaran       :    Discovery learning

Metode Pembelajaran     :    Karya kunjung, market of place, demonstrasi


 

KOMPETENSI INTI

 

A.   Tujuan Pembelajaran

§  Menela’ah hakikat dan sifat dasar nafsu

§  Menguraikan pengertian nafsu syahwat dan ghadlab

§  Memerinci bahaya menuruti nafsu syahwat dan ghadlab

§  Menguraikan cara menundukkan nafsu syahwat dan ghadlab melalui mujaahadah dan riyaadhah (tazkiyatunnafsi)

§  Menguraikan hikmah menundukkan nafsu syahwat dan ghadlab

§  Mendiskusikan hasil analisis tentang hakikat dan sifat dasar nafsu syahwat dan ghadlab; serta cara menundukkannya melalui mujaahadah dan riyaadhah (tazkiyatunnafsi)

 

B.   Pemahaman Bermakna

§  Menganalisis hakikat dan sifat dasar nafsu syahwat dan gadab, serta cara menundukkannya melalui mujaadah dan riyaadah (tazkiyah al-nafs)

§  Menyajikan hasil analisis tentang hakikat dan sifat dasar nafsu syahwat dan gadab, serta cara menundukkannya melalui mujaadah dan riyaadah (tazkiyah al-nafs)

 

C.   Pertanyaan Pemantik

Guru menanyakan kepada peserta didik seputar materi Ayo Menundukkan Nafsu Syahwat Dan Gadhlab

 

D.   Kegiatan Pembelajaran

PERTEMUAN KE-1

Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu

KEGIATAN PENDAHULUAN

§  Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam.

§  Melakukan pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas.

§  Guru memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan diajarkan.

§  Guru memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global) dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh)

KEGIATAN INTI

Kegiatan Literasi

§ Peserta didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu

Critical Thinking

§ Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami, dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik. Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu

Collaboration

§ Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu

Communication

§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang mempresentasikan

Creativity

§ Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari terkait : Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu

KEGIATAN PENUTUP

§  Guru membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan

§  Melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan

§  Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

 

PERTEMUAN KE-2

Memahami Nafsu Syahwat

KEGIATAN PENDAHULUAN

§  Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam.

§  Melakukan pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas.

§  Guru memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan diajarkan.

§  Guru memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global) dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh)

KEGIATAN INTI

Kegiatan Literasi

§ Peserta didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Memahami Nafsu Syahwat

Critical Thinking

§ Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami, dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik. Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi :

Collaboration

§ Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Memahami Nafsu Syahwat

Communication

§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang mempresentasikan

Creativity

§ Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari terkait : Memahami Nafsu Syahwat

KEGIATAN PENUTUP

§  Guru membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan

§  Melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan

§  Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

 

 

PERTEMUAN KE-3

Memahami Nafsu Amarah (Nafsu Gadab)

KEGIATAN PENDAHULUAN

§  Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam.

§  Melakukan pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas.

§  Guru memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan diajarkan.

§  Guru memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global) dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh)

KEGIATAN INTI

Kegiatan Literasi

§ Peserta didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Memahami Nafsu Amarah (Nafsu Gadab)

Critical Thinking

§ Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami, dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik. Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Memahami Nafsu Amarah (Nafsu Gadab)

Collaboration

§ Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Memahami Nafsu Amarah (Nafsu Gadab)

Communication

§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang mempresentasikan

Creativity

§ Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari terkait : Memahami Nafsu Amarah (Nafsu Gadab)

KEGIATAN PENUTUP

§  Guru membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan

§  Melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan

§  Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

 

 

 

E.   Pembelajaran Diferensiasi

§  Untuk siswa yang sudah memahami materi ini sesuai dengan tujuan pembelajaran dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh, disarankan untuk membaca materi Ayo Menundukkan Nafsu Syahwat Dan Gadhlab dari berbagai referensi yang relevan.

§  Guru dapat menggunakan alternatif metode dan media pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing agar pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan (joyfull learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.

§  Untuk siswa yang kesulitan belajar topik ini, disarankan untuk belajar kembali tata cara pada pembelajaran di dalam dan atau di luar kelas sesuai kesepataan antara guru dengan siswa. Siswa juga disarankan untuk belajar kepada teman sebaya.

 

F.    ASESMEN / PENILAIAN

1.    Asesmen Formatif (selama proses pembelajaran)

a.    Asesmen awal

Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam memasuki pembelajaran, dengan pertanyaan:

No

Pertanyaan

Jawaban

Ya

Tidak

1

Apakah pernah membaca buku terkait ?

 

 

2

Apakah kalian ingin menguasai materi pelajaran dengan baik ?

 

 

3

Apakah kalian sudah siap melaksanakan pembelajaran dengan metode inquiry learning, diskusi ?

 

 

 

b.    Asesmen selama proses pembelajaran

Asesmen ini dilakukan guru selama pembelajaran, khususnya saat peserta didik melakukan kegiatan diskusi, presentasi dan refleksi tertulis. Asesmen saat inquiry learning (ketika peserta didik melakukan kegiatan belajar dengan metode inquiry learning)

 

Lembar kerja pengamatan kegiatan pembelajaran dengan metade inquiry learning

No

Nama Siswa

Arpak yang diamati

Skor

Gagasan

Aktif

Kerjasama

1

2

3

4

1

Sultan Haykal

 

 

 

 

 

 

 

2

Aisy Anindya

 

 

 

 

 

 

 

3

Dias Abdalla

 

 

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

 

 

 

dst

 

 

 

 

 

 

 

 

Nilai akhir x 25

 

2.    Asesmen Sumatif

a.    Asesmen Pengetahuan

 

Soal Asesmen Pengetahuan

A)   Jawablah pertanyaan berikut ini!

1. Jelaskan pentingnya nafsu bagi manusia dan bagaimana seandainya manusia tidak menggunakan nafsunya!

2. Tuliskan contoh manusia yang berperilaku menuruti syahwat terhadap kedudukan!

3. Uraikan dampak negatif manusia yang menuruti syahwat terhadap harta dengan melakukan korupsi, baik bagi dirinya maupun orang lain!

4. Sebutkan tiga hal yang menyebabkan manusia menuruti nafsu marah!

5. Uraikan peranan riyaadah dalam menundukkan nafsu marah!

 

B)   Portofolio dan Penilaian Sikap

1. Carilah beberapa ayat dan hadis yang berhubungan dengan nafsu syahwat dan gadab dengan mengisi kolom di bawah ini.

No

Nama Surah + No. Ayat/ Hadis + Riwayat

Redaksi Ayat/ Hadis

1

 

 

2

 

 

3

 

 

4

 

 

5

 

 

Dst

 

 

 

2. Setelah kalian memahami uraian mengenai nafsu syahwat dan gadab, coba anda amati wacana perilaku berikut ini dan berikan komentar!

REMAJA DAN PERILAKU KONSUMTIF

Konsumtif merupakan perilaku dimana timbulnya keinginan untuk membeli barang-barang yang kurang diperlukan untuk memenuhi kepuasan pribadi. Dalam psikologi dikenal istilah compulsive buying disorder (kecanduan belanja) orang yang terjebak didalamnya tidak bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan.

Remaja yang kini banyak terjebak dalam kehidupan konsumtif, dengan rela mengeluarkan uangnya untuk menuruti segala keinginan, bukan kebutuhan, dalam keseharianya remaja menghabiskan uang mereka untuk membeli makanan, pakaian, perangkat elektronik, hiburan seperti menonton film dan sebagainya. Semua ini dilakukan remaja kebanyakan hanya untuk ajang pamer, gengsi dan menuruti hawa nafsunya. Kita tahu remaja merupakan fase dimana mereka masih dalam situasi labil seperti rumput yang jika tertiup angin ia akan mengikuti kemana arah angin itu berhembus. Remaja yang dalam pergaulanya dikelilingi oleh remaja lain yang juga berprilaku konsumtif maka ia akan mengikuti gaya, penamilan, seolah tidak mau kalah dari temanya.

Masa remaja disebut masa kehausan sosial yakni adanya keinginan untuk bergaul dan diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group), jadi kebanyakan remaja berpikir untuk dapat diterima di dalam kelompok mainnya ia harus menyesuaikan diri dengan kelompok tersebut, termasuk dalam segi penampilan, dan gaya hidup, jika seorang remaja tidak diterima di dalam kelompok sebayanya maka ia akan merasa terasingkan, dan lebih memilih untuk menyendiri.

Maka dari itu, hindari perilaku konsumtif karena merugikan dirinya dan keluarganya.

 

b.    Asesmen keterampilan

1)    Peserta didik mempraktikkan berkenalan secara lisan dan tulis

 

Contoh rubrik penilaian praktek:

 

Nama       :    …………………………………..

Kelas        :    …………………………………..

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Kelancaran (kompetensi gramatikal di aspek bunyi bahasa)

20

2

Ketepatan (kompetensi gramatikal aspek nahwu sharaf)

20

3

Isi (kompetensi wacana dan sosiolinguistik)

20

4

Ucapan/pelafalan (kompetensi gramatikal aspek bunyi bahasa)

20

5

Gestur (kompetensi strategi)

20

Total

100

 

Indikator Penilaian aspek kelancaran (fluency)

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Tidak ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif

15 - 20

2

Ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif

10 - 14

3

Tidak ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif

5 - 9

4

Ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif

0 - 4

 

Indikator penilaian aspek ketepatan (accuracy)

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Tidak ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat

15 - 20

2

Tidak ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat

10 - 14

3

Ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat

5 - 9

4

Ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat

0 - 4

 

Indikator penilaian aspek isi

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Memiliki struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari klasifikasi detail

25 -30

2

Memiliki struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari klasifikasi kurang detail

20 - 24

3

Memiliki struktur teks deskriptif tidak lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari klasifikasi kurang detail

15 - 19

4

Memiliki struktur teks deskriptif kurang lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, dan deskripsi khusus kurang sesuai

10 - 14

5

Tidak ada komponen struktur deskriptif

1 - 9

Petunjuk penskoran:

Penghitungan skor akhir menggunakan rumus:

Skor Perolehan x 10 = ….

 

 

 

 

2)    Peserta didik membuat kartu nama

Contoh rubrik penilaian produk kartu nama

No

Nama Siswa

Perencanaan Bahan

Aspek Yang Dinilai

Jml

Proses Pembuatan

Hasil Produk

Langkah pembuatan

Teknik pembuatan

Bentuk fisik

Inovasi

1

Sultan Haykal

 

 

 

 

 

 

2

Aisy Anindya

 

 

 

 

 

 

3

Dias Abdalla

 

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

 

 

dst

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

Skor antara 1 – 5

Aspek yang dinilai disesuaikan dengan tugas yang diberikan

 

G.   PENGAYAAN DAN REMEDIAL

Pengayaan

§  Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang telah mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.

§  Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang lebih variatif dengan menambah keluasan dan kedalaman materi yang mengarah pada high order thinking

§  Program pengayaan dilakukan di luar jam belajar efektif.

 

Remedial

§  Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran

§  Guru melakukan pembahasan ulang terhadap materi yang telah diberikan dengan cara/metode yang berbeda untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih memudahkan peserta didik dalam memaknai dan menguasai materi ajar misalnya lewat diskusi dan permainan.

§  Program remedial dilakukan di luar jam belajar efektif.

 

H.   REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK

Refleksi Guru:

Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan kegiatan pengajaran di kelas, misalnya:

§  Apakah semua peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran iniv ?

§  Apakah ada kesulitan yang dialami peserta didik?

§  Apakah semua peserta didik sudah dapat melampaui target pembelajaran?

§  Sudahkan tumbuh sikap yang mencerminkan profil pelajar pancasila dan profil pelajar rahmatal lil ‘alamin?

§  Apa langkah yang perlu dilakukan untuk memperbaiki proses belajar?

 

Refleksi Peserta Didik:

No

Pertanyaan Refleksi

Jawaban Refleksi

1

Bagian manakah yang menurut kamu hal paling sulit dari pelajaran ini?

 

2

Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki hasil belajarmu?

 

3

Kepada siapa kamu akan meminta bantuan untuk memahami pelajaran ini?

 

4

Jika kamu diminta untuk memberikan bintang 1 sampai 5, berapa bintang yang akan kamu berikan pada usaha yang telah dilakukan

 

 

 

Mengetahui,

Kepala Sekolah

 

 

 

 

LUFIANA, S. S

NBM. 1024550

MAGELANG, ...... JANUARI 2025

Guru Mata Pelajaran

 

 

 

 

KUNI HIRIYANTI, S. Pd

NIP. -

 

 

 


 

LAMPIRAN- LAMPIRAN

 

Lampiran 1

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

Setelah Anda mendalami materi Nafsu Syahwat dan Gadab, maka selanjutnya lakukanlah diskusi dengan kelompok Anda! Bentuk kelompok kecil beranggotakan 4-6 siswa/ kelompok, kemudian persiapkan diri untuk mempresentasikan hasil diskusi tersebut di depan kelas.

Adapun hal-hal yang perlu didiskusikan adalah sebagai berikut.

1. Hakikat dan sifat dasar nafsu syahwat dan gadab

2. Cara menundukkan nafsu syahwat dan gadab melalui mujaahadah dan riyaadah

 

Lampiran 2

MATERI BAHAN AJAR

1. Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu

Kenapa hawa nafsu diciptakan? Pada hakikatnya semua manusia memiliki nafsu, karena manusia tidak dapat hidup jika tidak ada nafsu. Allah menciptakan manusia disertai dengan hawa nafsu. Banyak mengandung faedah, meski tidak bisa hidup jika tidak ada nafsu. Andaikata nafsu makan dicabut (misalnya) pasti binasalah manusia. Jika nafsu terhadap lawan jenis dihilangkan, mereka tidak punya keturunan dan akhirnya binasa. Nafsu adalah keinginan seseorang atau dorongan hati yang kuat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Hawa nafsu adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa, baik bersifat positif maupun negatif, baik bersifat jasmani maupun ruhani. Perbuatan baik ataupun buruk digerakkan oleh nafsu, artinya menjadi pusat komando segala kegiatan manusia, sekaligus sebagai motor penggerak yang menggerakkan segala macam tingkah laku manusia. Nafsu itu ibarat seperti sungai dia bisa mengalir dengan tenang dan bisa meluap atau menghancurkan, dan karena itu perlu dikontrol dengan sistem bendungan dan irigasi yang baik sehingga memberikan manfaat yang maksimal bagi kehidupan manusia dan lingkungannya. Sehingga pada hakikatnya nafsu itu penting bagi diri manusia akan tetapi penggunaan nafsu yang tidak terkontrol pada diri manusia itu yang berbahaya.

 

2. Memahami Nafsu Syahwat

a. Pengertian Nafsu Syahwat

Secara istilah, nafsu adalah keinginan seseorang atau dorongan hati yang kuat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Syahwat secara lughawi artinya menyukai atau menyenangi. Yaitu kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai hatinya.

Kecintaan itu sering menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allah ’azza wa Jalla dengan tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang lezatt. Adapun secara istilah syari’at, nafsu syahwat adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga keluar dari batas syari’at.

Maka hakikat syahwat (keinginan) nafsu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang sesuai dengan tabi’atnya (watak) dan menjauhi sesuatu yang tidak disukai dan dicintai.

Akan tetapi, sebenarnya keberadaan syahwat pada manusia itu tidak tercela, karena terdapat faedah dan manfaat didalamnya. Celaan itu tertuju jika manusia melewati batas dalam memenuhi syahwat. Misalnya, menuruti nafsu syahwat dengan melakukan kemaksiatan mulai dari menonton film porno, berpacaran dan akhirnya sampai pada perzinaan.

Dorongan nafsu syahwat mengarah kepada tiga hal besar, yaitu :

1) Syahwat dan kesenangan terhadap harta benda, sehingga melahirkan kerakusan, perampokan, pencurian, manipulasi, korupsi, bahkan kekerasan fisik, seperti pembunuhan dan penganiayaan.

2) Syahwat dari kesenangan terhadap seks, sehingga melahirkan kejahatan dan kekejian berupa perzinaan, pemerkosaan dan penyimpangan seksualitas lainnya, bahkan hanya karena seks terjadi pembunuhan dan penganiayaan fisik.

3) Syahwat dan kesenangan terhadap jabatan dan kedudukan, sehingga melahirkan para pejabat dan pemimpin yang zalim, otoriter, bahkan diktator. Akhirnya menindas siapa saja yang akan menghalang-halangi.

 

 

b. Bahaya Menuruti Nafsu Syahwat

Salah satu sifat dari nafsu syahwat adalah “tidak pernah terpuaskan”, disaat kita menuruti satu keinginannya, nafsu itu akan menuntut hal lain dan akan terus begitu hingga tak ada habisnya. Mempunyai satu gunung emas pun masih tak cukup ia masih ingin yang lebih. Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak akan mementingkan agamanya dan tidak mendahulukan ridha Allah Swt. dan Rasul-Nya. Dia akan selalu menjadikan hawa nafsu menjadi tolak ukurnya, dia dibuat buta dan tuli oleh hawa nafsunya. Orang yang mengikuti hawa nafsu tanpa terkendali akan mengakibatkan bahaya besar sebagai berikut.

1) Merusak potensi diri seseorang. Nabi Saw. mengingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan membawa kehancuran.

Tiga perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Adapaun tiga perkara yang membinasakan adalah kebakhilan, dan kerakusan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, dan seseorang yang membanggakan diri sendiri. Sedangkan tiga perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allah di waktu sendirian dan dilihat orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat) adil di waktu marah dan ridha.” (HR. Anas, Ibnu Abbas, Abu Hurairah, Adullah bin Abi aufa, dan Ibnu Umar).

2) Mendatangkan kesusahan dan kesempitan

3) Mengakibatkan rusaknya lingkungan alam karena nafsu mengeksploitasi alam yang berlebih-lebihan.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS. ar- Rum [30]: 41).

4) Melahirkan kerakusan, perampokan, pencurian, manipulasi, korupsi, bahkan kekerasan fisik, seperti pembunuhan dan penganiayaan. Sebagai dampak menuruti syahwat harta.

5) Lahirnya para pejabat dan pemimpin yang zalim, otoriter, bahkan diktator.

6) Dampak menuruti syahwat kesenangan terhadap kelezatan makanan, akan menimbulkan berbagai macam penyakit tubuh.

7) Nafsu akan mendorong manusia untuk berbuat jahat, melampiaskan syahwat dan menentang ajaran agama. Apabila pelampiasan nafsu syahwat sex pada remaja akan menimbulkan dampak yang lebih berbahaya diantaranya adalah putus sekolah, suramnya masa depan, perceraian, melahirkan anak terlantar, dan tumbuhnya generasi yang memerosotkan harkat dan martabat negara.

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf [12]: 53).

c. Cara Menundukkan Nafsu Syahwat

Walaupun memenuhi kebutuhan hidup yang disukainya itu diperbolehkan, namun bukan berarti seorang mukmin dibolehkan selalu menuruti hawa nafsunya bahkan dia harus mengendalikannya. Termasuk menahan syahwat perut, yang kemudian timbul syahwat kemaluan dan rakus harta benda. Maka wajib bagi kita berusaha untuk menundukkan nafsu itu demi keselamatan dan kesejahteraan dunia akhirat dengan jalan sebagai berikut.

1) Meningkatkan taqwa kepada Allah dengan menerapi diri dengan rasa takut kepada Allah Swt.

2) Dengan Mujahadah

Mujahadah berasal dari kata al-jihad yaitu berusaha dengan segala kesungguhan, kekuatan dan kesanggupan pada jalan yang diyakini benar. Mujahadah artinya berusaha untuk melawan dan menundukkan kehendak hawa nafsu. Rasulullah bersabda seorang mujahid yaitu seorang yang berjihad, yaitu dia yang melawan hawa nafsunya karena Allah.

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al- Ankabut [29]: 69)

Dengan kata lain, seorang yang bermujahadah rela meninggalkan apa yang disukainya demi memburu sesuatu yang diyakininya benar, baik dan betul. Imam al-Ghazali berkata: ”Antara tanda kecintaan hamba kepada Allah ialah mengutamakan perkara yang disukai Allah dari pada kehendak nafsu serta pribadinya.”

Mujahadah melawan nafsu dengan cara menempuh tiga langkah seperti berikut :

1) Takhalli, mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela.

2) Tahalli, menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji

3) Tajalli, tersingkapnya tabir yang menghalangi antara manusia dan Allah, rasa dilihat dan diawasi oleh Tuhan, kerinduan hanya tertuju pada Tuhan.

Ketiga peringkat ini hendaklah dilakukan dengan melaksanakan latihan-latihan rohaniah yang dinamakan riyadah al nafs yakni latihan untuk melawan atau menentang atau memerangi semua kehendak-kehendak nafsu yang jahat.

Latihan menundukkan hawa nafsu ini perlu dilaksanakan sedikit demi sedikit tetapi istiqamah, selain itu hendaklah bermujahadah dalam beramal. Perjuangan untuk melawan hawa nafsu tidaklah mudah. Imam al- Ghazali dalam Raudatu al-taalibin berkata ”Berhati-hatilah kamu dengan hawa nafsu. Ia adalah musuh kita yang paling ketat dan yang paling sukar untuk dikalahkan.

4) Dengan jalan riyadah

Riyadah adalah latihan kerohanian dengan menjalankan ibadah dan menundukkan keinginan nafsu syahwat. Riyadah ini dapat ditempuh dengan dua cara yaitu riyadah badan yaitu dengan mengurangi makan, minum, tidur dan mengurangi berkata-kata. Yang kedua riyadah rohani yaitu dengan memperbanyak ibadah, berzikir, bertafakkur, memperhatikan kejadian alam dan susunannya, serta memperhatikan segala keadaan masyarakat yang penuh kejahilan akibat menuruti hawa nafsu.

 

d. Hikmah Menundukkan Nafsu Syahwat

Nafsu syahwat pada diri manusia itu tidak boleh dihilangkan, tetapi penting untuk ditundukkan dan diarahkan sehingga akan memperoleh manfaat kebaikannya sebagai berikut.

1) Menjadi motivasi untuk berbuat baik, beribadah dan meraih kesuksesan

2) Hidup lebih terarah dan terkontrol. Selamat dan bahagia dunia akhirat

3) Terhindar dari perbuatan keji dan mungkar

4) Disukai banyak orang

 

3. Memahami Nafsu Amarah (Nafsu Gadab)

a. Pengertian Marah (Gadab)

Marah dalam pengertian gadab artinya merasa tidak senang dan panas hati karena suatu peristiwa atau sebabsebab tertentu. Marah adalah sifat alamiah yang ada pada manusia, namun diantara mereka ada yang bisa mengendalikannya ada juga yang tidak bisa. Maka itulah Islam mengajarkan untuk bisa mengendalikan marah.

Nafsu amarah selalu mendorong diri manusia untuk melahirkan perbuatan, sikap, dan tindakan kejahatan atau syahwat hewani dan kesenangan kepada kejahatan. Kecenderungan ini begitu kuat, sehingga banyak orang dibuat tak berdaya, kecuali sedikit orang yang mendapat rahmat dari Allah Swt.

Memang sifat marah merupakan tabiat manusia, karena mereka memiliki nafsu yang cenderung ingin selalu dituruti dan tidak mau ditolak keinginannya. Nafsu amarah adalah satu musuh dalam (musuh batin) yaitu nafsu yang selalu memerintahkan kepada keburukan dan jauh lebih berbahaya dibandingkan musuh-musuh yang lainnya.

“Sesungguhnya amarah itu datangnya dari setan dan setan diciptakan dari api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah, hendaknya berwudhu” (HR. Abu Daud, no. 4784 Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)

Di samping itu juga sifat marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka. Karena dengan kemarahan, seseorang bisa menjadi gelap mata sehingga melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan yang berakibat buruk bagi dirinya.

Oleh karena itu, umat Islam yang bertakwa kepada Allah Swt. Meskipun tidak luput dari sifat marah, akan tetapi karena mereka selalu berusaha melawan keinginan nafsu. Sehingga mereka mampu meredam kemarahan mereka. Allah berfirman:

(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS.ali- Imran [3]: 134).

b. Bahaya Marah (Gadab)

Marah akan mengakibatkan bahaya besar baik bagi pelakunya maupun orang lain. Berikut bahaya marah.

1) Bagi diri sendiri, akan mengakibatkan tekanan darah menjadi tinggi, sehingga membuka peluang terkena serangan jantung, cepat tua, gangguan tidur, gangguan pernapasan, sakit kepala, struk dan depresi

2) Bagi orang lain dan lingkungan, keputusan dan tindakan orang marah cenderung menambah masalah bukan menyelesaikan masalah, menimbulkan kerusakan hubungan dengan teman, dapat merusak keharmonisan keluarga, bisa mengakibatkan rusaknya lingkungan, bisa mengakibatkan pembunuhan

c. Cara Menundukkan Marah (Gadab)

Sebagaimana diketahui bahwa obat atas setiap penyakit seperti virus dan faktor penyebab timbulnya penyakit itu harus dapat dihilangkan. Karena itulah untuk bisa mengobati marah kita juga harus tahu sebab-sebabnya.

Sebab-sebab marah antara lain karena tidak kuat menahan nafsu, sombong, ujub, banyak melakukan sendau gurau, perbuatan yang sia-sia, melecehkan orang lain, menghina, berdebat, bertengkar, berkhianat, serta cinta kepada harta dan kedudukan.

Semua itu merupakan perangai yang buruk dan tercela dalam Islam. Seseorang tidak dapat terhindar dari amarah apabila masih ada sifat-sifat itu.

a) Dengan riyadah

Cara menundukan sifat-sifat tercela marah diperlukan pelatihan diri (riyadah) dan kesabaran dalam menghadapi segala rintangan. Riyaadah yang diperlukan diantaranya adalah dengan mengetahui akibat-akibat buruk dari sifat-sifat tersebut. Setelah itu menerapkan dalam diri anda kembalikan dari sifat-sifat itu, misalnya sombong dengan tawadhu’, haus harta dengan qana’ah, dan lain sebagainya. Selain itu dengan memperbanyak berzikir, membaca ta’awudz, beristighfar, dan memberi maaf. Sifatsifat mulia ini terus diterapkan dalam diri. Memang memerlukan waktu yang cukup lama hingga merasa ringan mengerjakannya karena sifat itu telah menyatu dalam dirinya.

b) Mujahadah

Berusaha sungguh-sungguh dengan sekuat tenaga menahan hawa nafsu untuk tidak melampiaskannya kepada kemarahan, dan menyadari akan dampak negatifnya bila melampiaskan marah.

c) Menahan hawa nafsu

Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan meminta diberi wasiat. Lalu Rasulullah bersabda:

Dari Abu Hurairah ra. Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Saw.: Berilah wasiat kepadaku. Sabda Nabi Saw.: Janganlah engkau marah. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda Beliau: Janganlah engkau marah”. (HR. Bukhari).

Dalam kitab adab al-Dunya wa al-Din, Imam al- Mawardi mengemukakan beberapa metode penyembuhan marah yaitu dengan cara yang pertama, menimbulkan rasa takut (khauf) kepada Allah, yang kedua menyadari dampaknya dan yang ketiga menyadari betapa besar pahalanya bila mampu menahannya.

d. Hikmah Menghindari Marah

Tak tanggung-tanggung, Allah menjanjikan surga bagi mereka yang menahan amarah dan memaafkan. Mereka akan disukai oleh Allah Swt. Sesama manusia, dan juga malaikat-Nya. Mendatangkan kebaikan, di tempatkan di surga. Selain itu orang yang bisa menahan marah akan mempermudah urusan dan memperlancar rezeki.

 

Lampiran 3

GLOSARIUM

Bid’ah : Perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan

Dalil Aqli : Berdasarkan akal

Dalil Naqli : Berdasarkan Qur’an Hadis

Doktriner : Ajaran (tentang asas suatu aliran politik, keagamaan)

Ekstremisme : Orang yang melampaui batas kebiasaan

Fasik : Orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

Ghadzabillah : Murka Allah

Hablum minallah : Hubungan dengan Allah

Hablum minannas : Hubungan dengan sesama manusia

Hilm : Tidak cepat emosi dan tidak bersikap masa bodoh

Ikhtilaf : Perbedaan pendapat atau pikiran

Kafir : Mengikuti kesalahan tetapi tetap menjalankan

Khawarijiyah : Berontak

Ma’ani : Sudah tetap, tidak boleh tidak

Ma’nawiyah : Tabi’at, sifat-sifat kejiwaan

Mistisisme : Ajaran yang menyatakan hal-hal yang yang tidak terjangkau oleh akal manusia

Mujaahadah : Bersungguh-sungguh

Mukallaf : Dewasa dan tidak mengalami gangguan jiwa maupun akal

Musyrik : Orang yang menyekutukan Allah

Mutasyabihah : Ayat al-qur’an yang membutuhkan penafsiran dalam memahaminya

Nafsiyah : Orang seseorang, sendiri sendiri

Radikalisme : Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan social dan politik dengan cara kekerasan atau drastic

Sum’ah : Suka memperdengarkan atau menceritakan kebaikannya kepada orang lain.

Ummatan wasathan : Umat yang adil atau pertengahan

Zalim : Kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan

 

Lampiran 4

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karim

Abdul Hiyadh, Terjemah Durrotun Nasihin, Mesir, Surabaya, 1993

Abu Hudzaifah. Lc, Kisah Para Nabi dan Rasul, Pustaka as-Sunah, Jakarta, 2007

Derektorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, Akhlak Ilmu Tauhid, PT. Karya Unipres, Jakarta, 1982

’Aidh al-Qarni, La Tahzan ,Jangan Bersedih, Qisthi Pres, Jakarta Timur, 2004

A. Ilyas Ismail, M.A, Pilar-pilar Takwa, (Doktrin. Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan Spiritual), Rajawali Pers, (PT. Raja Grafindo Persada), Jakarta, 2009

Handono, Aris Musthafa, zaenuri Siroj, Meneladani Akhlak Untuk Kelas XI Madrasah Aliyah Program Keagamaan , PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017

Handono, Aris Musthafa, Zaenuri Siroj, Meneladani Akhlak Untuk Kelas XII Madrasah Aliyah Program Keagamaan , PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017

Hasyim Asy’ari, Penerjemah Rosidin, Pendidikan Khas Pesantren (Adabul ’Alim wal Muta’allim), Tira Smart,Tangerang, 2017

M. Ali Haidar, Nahdhatul Ulama’ dan Islam di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998

M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, Tranmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia, Erlangga, Jakarta , 2005

Muhammad bin Abdul Wahab, Syarah Kitab al-Tauhid, PT. Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984

Roli Abdul Rohman-M. Khamzah. Menjaga Akidah dan Akhlak untuk kelas X Madrasah Aliyah, PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo 2017

Sa’id Hawwa, Tazkiyatun Nafs (Intisari Ihya Ulumuddin), Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2007

Salim Bahreisy, Irsyadul ’Ibad Ilasabilirrasyad (Petunjuk ke Jalan Lurus ), Darussaggaf, Surabaya, 1977

Salim Bahreisy, Riyadhus Shalihin, PT. Alma’arif, Bandung , 1987

Umar Sulaiman al-Asyqar , al-Asma’ al- Husna, Qisthi Press, Jakarta timur Cetakan ke-6, Mei 2009

Zainuddin, Terjemah Hadis Shahih Bukkhari, Widjaya, Jakarta 1992

Mengetahui,

Kepala Sekolah

 

 

 

 

LUFIANA, S. S

NBM. 1024550

MAGELANG, ...... JANUARI 2025

Guru Mata Pelajaran

 

 

 

 

KUNI HIRIYANTI, S. Pd

NIP. -

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar