MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH
MATA PELAJARAN : AKIDAH AKHLAK
BAB 8 : AYO MENUNDUKKAN NAFSU SYAHWAT DAN
GADHLAB
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Madrasah : MA Muhammadiyah Blabak
Nama
Penyusun : Kuni Hiriyanti, S. Pd
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Kelas / Fase Semester :
X/ E / 2
Elemen : Ayo Menundukkan Nafsu Syahwat Dan
Gadhlab
Alokasi waktu : 2 x 45 Menit
Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, dalam elemen akidah,
peserta didik mampu menganalisis sifat wajib dan mustahil bagi Allah Swt. (nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah) dan sifat-sifat jaiz Allah
Swt., asma' al-Husna, Islam wasathiyah (moderat) dan Islam radikal.
Pada elemen akhlak, peserta didik membiasakan akhlak terpuji (taubat, hikmah, iffah, syaja 'ah dan 'adalah);dan menghindari akhlak tercela
(hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, riya' dan sifat-sifat turunannya, nafsu
syahwat, licik, tamak, zhalim, dan
diskriminatif, għadlab); serta cara
menundukkannya melalui mujahadah, riyadlah, dan tazkiyatun nufus. Pada
elemen adab peserta didik mampu menganalisis dan membiasakan adab mengunjungi
orang sakit, berbakti kepada orang tua dan guru berdasarkan dalil dan pendapat
ulama. Dalam elemen kisah teladan, peserta didik mampu menganalisis dan
mengambil ibrah dari kisah Nabi Luth a.s. dalam kehidupan sehari-hari.
|
Elemen |
Capaian Pembelajaran |
|
Akidah |
Peserta didik mampu
menganalisis sifat wajib, mustahil Allah Swt. (nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah) dan sifat jaiz Allah Swt., asma' al-husna (al-Karim, al-Mu'min, al-Wakiil, al- Matiin, al-Jaami,
al-Hafiz, al-Rafi', al-Wahhab, al-Rakib, al-Mubdi, al-Muhyi, al-Hayyu,
al-Qoyyum, al-Akhir, al-Mujib, dan al-Awwal,
dan nama lainnya), serta pemahaman Islam wasathiyah (moderat) sebagai upaya membentuk sikap moderasi
beragama dalam akidah dan muamalah untuk mewujudkan harmoni kehidupan
berbangsa dan bernegara yang berkebinekaan. |
|
Akhlak |
Peserta didik mampu
menganalisis akhlak terpuji-hikmah,
iffah, syaja 'ah, dan 'adalah; menghindari akhlak tercela hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, riya, dan sifat-sifat turunannya,
serta syahwat, ghadlab, licik,
tamak, dzalim, dan diskriminatif, melalui tazkiyatun
nufus dengan cara mujahadah dan
riyadlah, sehingga terbentuk
pribadi yang memiliki kesalehan individual dan sosial dalam menjalankan
kehidupan berbangsa dan bernegara. |
|
Adab |
Peserta didik mampu
membiasakan dan mengevaluasi adab berbakti kepada orang tua dan guru,
mengunjungi orang sakit berdasarkan dalil dalam konteks kehidupan global
sehingga terbentuk pribadi yang peduli dan santun dalam kehidupan
sehari-hari. |
|
Kisah Keteladanan |
Peserta didik mampu
meneladani kisah Nabi Luth a.s. dalam kesabaran, ketangguhan dan ke beranian
dalam menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar, sehingga dapat diambil inspirasi
dalam menghadapi tantangan kehidupan yang hedonis, materialistis dan sekuler
di era global. |
B Kompetensi Awal
Nafsu merupakan perangkat yang pasti ada pada diri manusia.
Tiada seorang pun yang tidak memilikinya.
Karena nafsu merupakan pendorong
manusia yang kuat untuk bisa melakukan segala perbuatan, baik itu perbuatan
baik maupun buruk. Perbuatan baik ataupun buruk digerakkan oleh nafsu, artinya
nafsu menjadi komando segala kegiatan manusia, sekaligus sebagai motor
penggerak yang menggerakkan segala macam tingkah laku manusia. Dari nafsu
inilah manusia bisa berbuat baik dan bisa juga berbuat jelek. Sebetulnya setiap
manusia diciptakan dengan potensi diri yang luar biasa, tetapi hawa nafsu dapat
menghambat potensi itu muncul di permukaan. Potensi yang dimaksud di sini
adalah potensi untuk menciptakan keadilan, ketentraman, keamanan,
kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya.
Dalam kenyataannnya manusia cenderung
mengikuti nafsu syahwatnya, padahal pada hakikatnya syahwat (keinginan) nafsu
adalah kecenderungan kepada sesuatu yang sesuai dengan tabiatnya (watak), dan
menjauhi sesuatu yang tidak disukai dan dicintai, padahal seringkali kerusakan
jiwa disebabkan karena hal-hal yang amat disukainya itu, dan keselamatan karena
menjauhi hal-hal tersebut.
C. Profil Pelajar Pancasila
(PPP) dan Pelajar Rahmatan lil Alamin (PRA)
§ Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai
adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis
dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global.
§ Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin yang ingin dicapai adalah taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh.
D. Sarana dan Prasarana
Media : LCD proyektor,
komputer/laptop, jaringan internet, dan lain-lain
Sumber
Belajar : LKPD, Buku Teks, laman
E-learning, E-book, dan lain-lain
E. Target Peserta Didik
Peserta didik cerdas istimewa berbakat dan peserta didik regular
F. Model DAN METODE
Pembelajaran
Model
Pembelajaran : Discovery learning
Metode
Pembelajaran : Karya kunjung, market of place, demonstrasi
KOMPETENSI INTI
A. Tujuan Pembelajaran
§ Menela’ah hakikat dan sifat dasar nafsu
§ Menguraikan pengertian nafsu syahwat dan
ghadlab
§ Memerinci bahaya menuruti nafsu syahwat dan ghadlab
§ Menguraikan cara menundukkan nafsu syahwat
dan ghadlab melalui mujaahadah dan riyaadhah (tazkiyatunnafsi)
§ Menguraikan
hikmah menundukkan nafsu syahwat dan ghadlab
§ Mendiskusikan
hasil analisis tentang hakikat dan sifat dasar nafsu syahwat dan ghadlab; serta
cara menundukkannya melalui mujaahadah dan riyaadhah (tazkiyatunnafsi)
B. Pemahaman Bermakna
§ Menganalisis
hakikat dan sifat dasar nafsu syahwat dan gadab, serta cara
menundukkannya melalui mujaadah dan riyaadah (tazkiyah al-nafs)
§ Menyajikan
hasil analisis tentang hakikat dan sifat dasar nafsu syahwat dan gadab, serta
cara menundukkannya melalui mujaadah dan riyaadah (tazkiyah al-nafs)
C. Pertanyaan Pemantik
Guru menanyakan kepada peserta didik seputar
materi Ayo Menundukkan
Nafsu Syahwat Dan Gadhlab
D. Kegiatan Pembelajaran
PERTEMUAN KE-1
Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Hakikat
dan Sifat Dasar Nafsu |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu |
|
Communication |
§ Peserta
didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal,
mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok
atau individu yang mempresentasikan |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Hakikat dan Sifat Dasar Nafsu |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
PERTEMUAN KE-2
Memahami Nafsu Syahwat
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Memahami
Nafsu Syahwat |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Memahami Nafsu Syahwat |
|
Communication |
§ Peserta
didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal,
mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok
atau individu yang mempresentasikan |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Memahami Nafsu Syahwat |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
PERTEMUAN KE-3
Memahami Nafsu Amarah (Nafsu
Gadab)
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Memahami
Nafsu Amarah (Nafsu Gadab) |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Memahami Nafsu Amarah (Nafsu Gadab) |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Memahami Nafsu Amarah (Nafsu Gadab) |
|
Communication |
§ Peserta
didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal,
mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok
atau individu yang mempresentasikan |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Memahami Nafsu Amarah (Nafsu Gadab) |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
E. Pembelajaran Diferensiasi
§ Untuk siswa yang sudah memahami materi ini
sesuai dengan tujuan pembelajaran dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh,
disarankan untuk membaca materi Ayo
Menundukkan Nafsu Syahwat Dan Gadhlab dari berbagai referensi yang relevan.
§ Guru dapat menggunakan alternatif metode dan
media pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing agar pelaksanaan
pembelajaran menjadi lebih menyenangkan (joyfull
learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.
§ Untuk siswa yang kesulitan belajar topik ini,
disarankan untuk belajar kembali tata cara pada pembelajaran di dalam dan atau
di luar kelas sesuai kesepataan antara guru dengan siswa. Siswa juga disarankan
untuk belajar kepada teman sebaya.
F. ASESMEN / PENILAIAN
1. Asesmen Formatif (selama proses pembelajaran)
a. Asesmen
awal
Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam
memasuki pembelajaran, dengan pertanyaan:
|
No |
Pertanyaan |
Jawaban |
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
1 |
Apakah
pernah membaca buku terkait ? |
|
|
|
2 |
Apakah
kalian ingin menguasai materi pelajaran dengan baik ? |
|
|
|
3 |
Apakah
kalian sudah siap melaksanakan pembelajaran dengan metode inquiry learning,
diskusi ? |
|
|
b. Asesmen
selama proses pembelajaran
Asesmen ini dilakukan guru selama
pembelajaran, khususnya saat peserta didik melakukan kegiatan diskusi,
presentasi dan refleksi tertulis. Asesmen saat inquiry learning (ketika peserta didik melakukan kegiatan belajar
dengan metode inquiry learning)
Lembar kerja
pengamatan kegiatan pembelajaran dengan metade
inquiry learning
|
No |
Nama Siswa |
Arpak yang diamati |
Skor |
|||||
|
Gagasan |
Aktif |
Kerjasama |
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai akhir x 25 |
||||||||
2. Asesmen Sumatif
a. Asesmen
Pengetahuan
Soal Asesmen Pengetahuan
A) Jawablah
pertanyaan berikut ini!
1. Jelaskan
pentingnya nafsu bagi manusia dan bagaimana seandainya manusia tidak menggunakan
nafsunya!
2. Tuliskan contoh
manusia yang berperilaku menuruti syahwat terhadap kedudukan!
3. Uraikan dampak
negatif manusia yang menuruti syahwat terhadap harta dengan melakukan korupsi,
baik bagi dirinya maupun orang lain!
4. Sebutkan tiga
hal yang menyebabkan manusia menuruti nafsu marah!
5. Uraikan peranan riyaadah
dalam menundukkan nafsu marah!
B) Portofolio
dan Penilaian Sikap
1. Carilah beberapa
ayat dan hadis yang berhubungan dengan nafsu syahwat dan gadab dengan
mengisi kolom di bawah ini.
|
No |
Nama Surah + No.
Ayat/ Hadis + Riwayat |
Redaksi Ayat/ Hadis |
|
1 |
|
|
|
2 |
|
|
|
3 |
|
|
|
4 |
|
|
|
5 |
|
|
|
Dst |
|
|
2. Setelah kalian
memahami uraian mengenai nafsu syahwat dan gadab, coba anda amati wacana
perilaku berikut ini dan berikan komentar!
REMAJA DAN PERILAKU KONSUMTIF
Konsumtif
merupakan perilaku dimana timbulnya keinginan untuk membeli barang-barang yang kurang
diperlukan untuk memenuhi kepuasan pribadi. Dalam psikologi dikenal istilah compulsive
buying disorder (kecanduan belanja) orang yang terjebak didalamnya tidak
bisa membedakan mana kebutuhan dan keinginan.
Remaja
yang kini banyak terjebak dalam kehidupan konsumtif, dengan rela mengeluarkan
uangnya untuk menuruti segala keinginan, bukan kebutuhan, dalam keseharianya
remaja menghabiskan uang mereka untuk membeli makanan, pakaian, perangkat
elektronik, hiburan seperti menonton film dan sebagainya. Semua ini dilakukan
remaja kebanyakan hanya untuk ajang pamer, gengsi dan menuruti hawa nafsunya.
Kita tahu remaja merupakan fase dimana mereka masih dalam situasi labil seperti
rumput yang jika tertiup angin ia akan mengikuti kemana arah angin itu
berhembus. Remaja yang dalam pergaulanya dikelilingi oleh remaja lain yang juga
berprilaku konsumtif maka ia akan mengikuti gaya, penamilan, seolah tidak mau
kalah dari temanya.
Masa
remaja disebut masa kehausan sosial yakni adanya keinginan untuk bergaul dan
diterima di lingkungan kelompok sebayanya (peer group), jadi kebanyakan
remaja berpikir untuk dapat diterima di dalam kelompok mainnya ia harus
menyesuaikan diri dengan kelompok tersebut, termasuk dalam segi penampilan, dan
gaya hidup, jika seorang remaja tidak diterima di dalam kelompok sebayanya maka
ia akan merasa terasingkan, dan lebih memilih untuk menyendiri.
Maka
dari itu, hindari perilaku konsumtif karena merugikan dirinya dan keluarganya.
b. Asesmen
keterampilan
1) Peserta
didik mempraktikkan berkenalan secara lisan dan tulis
Contoh rubrik
penilaian praktek:
Nama : …………………………………..
Kelas :
…………………………………..
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Kelancaran
(kompetensi gramatikal di aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
2 |
Ketepatan
(kompetensi gramatikal aspek nahwu sharaf) |
20 |
|
3 |
Isi (kompetensi
wacana dan sosiolinguistik) |
20 |
|
4 |
Ucapan/pelafalan
(kompetensi gramatikal aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
5 |
Gestur
(kompetensi strategi) |
20 |
|
Total |
100 |
|
Indikator
Penilaian aspek kelancaran (fluency)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
15 - 20 |
|
2 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
10 - 14 |
|
3 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
5 - 9 |
|
4 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek ketepatan (accuracy)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
15 - 20 |
|
2 |
Tidak ada kesalahan
gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
10 - 14 |
|
3 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
5 - 9 |
|
4 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek isi
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi
khusus dari klasifikasi detail |
25 -30 |
|
2 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi
khusus dari klasifikasi kurang detail |
20 - 24 |
|
3 |
Memiliki
struktur teks deskriptif tidak lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari
klasifikasi kurang detail |
15 - 19 |
|
4 |
Memiliki
struktur teks deskriptif kurang lengkap (deskripsi umum dan deskripsi
khusus), deskripsi umum meliputi definisi, dan deskripsi khusus kurang sesuai |
10 - 14 |
|
5 |
Tidak ada
komponen struktur deskriptif |
1 - 9 |
Petunjuk penskoran:
Penghitungan skor akhir menggunakan rumus:
Skor Perolehan x 10 = ….
2) Peserta
didik membuat kartu nama
Contoh rubrik
penilaian produk kartu nama
|
No |
Nama Siswa |
Perencanaan Bahan |
Aspek Yang Dinilai |
Jml |
|||
|
Proses Pembuatan |
Hasil Produk |
||||||
|
Langkah pembuatan |
Teknik pembuatan |
Bentuk fisik |
Inovasi |
||||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan:
Skor antara 1 – 5
Aspek yang dinilai disesuaikan dengan tugas
yang diberikan
G. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Pengayaan
§ Pengayaan diberikan kepada
peserta didik yang telah mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.
§ Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan
yang lebih variatif dengan menambah keluasan dan kedalaman materi yang mengarah
pada high order thinking
§ Program pengayaan dilakukan di luar
jam belajar efektif.
Remedial
§ Remedial diberikan kepada peserta didik yang
belum mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran
§ Guru melakukan pembahasan ulang terhadap
materi yang telah diberikan dengan cara/metode yang berbeda untuk memberikan
pengalaman belajar yang lebih memudahkan peserta didik dalam memaknai dan
menguasai materi ajar misalnya lewat diskusi dan permainan.
§ Program remedial dilakukan di luar jam
belajar efektif.
H. REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK
Refleksi Guru:
Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan
kegiatan pengajaran di kelas, misalnya:
§ Apakah semua peserta didik terlibat aktif
dalam pembelajaran iniv ?
§ Apakah ada kesulitan yang dialami peserta
didik?
§ Apakah semua peserta didik sudah dapat
melampaui target pembelajaran?
§ Sudahkan tumbuh sikap yang mencerminkan
profil pelajar pancasila dan profil pelajar rahmatal lil ‘alamin?
§ Apa langkah yang perlu dilakukan untuk
memperbaiki proses belajar?
Refleksi Peserta Didik:
|
No |
Pertanyaan Refleksi |
Jawaban Refleksi |
|
1 |
Bagian manakah yang menurut kamu hal paling sulit dari
pelajaran ini? |
|
|
2 |
Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki hasil
belajarmu? |
|
|
3 |
Kepada siapa kamu akan meminta bantuan untuk memahami
pelajaran ini? |
|
|
4 |
Jika kamu diminta untuk memberikan bintang 1 sampai 5,
berapa bintang yang akan kamu berikan pada usaha yang telah dilakukan |
|
|
|
LAMPIRAN- LAMPIRAN
Lampiran 1
LEMBAR KERJA PESERTA
DIDIK (LKPD)
Setelah
Anda mendalami materi Nafsu Syahwat dan Gadab, maka selanjutnya
lakukanlah diskusi dengan kelompok Anda! Bentuk kelompok kecil beranggotakan
4-6 siswa/ kelompok, kemudian persiapkan diri untuk mempresentasikan hasil
diskusi tersebut di depan kelas.
Adapun
hal-hal yang perlu didiskusikan adalah sebagai berikut.
1. Hakikat dan
sifat dasar nafsu syahwat dan gadab
2. Cara menundukkan nafsu syahwat dan gadab melalui
mujaahadah dan riyaadah
Lampiran 2
MATERI
BAHAN AJAR
1. Hakikat
dan Sifat Dasar Nafsu
Kenapa
hawa nafsu diciptakan? Pada hakikatnya semua manusia memiliki nafsu, karena
manusia tidak dapat hidup jika tidak ada nafsu. Allah menciptakan manusia disertai
dengan hawa nafsu. Banyak mengandung faedah, meski tidak bisa hidup jika tidak
ada nafsu. Andaikata nafsu makan dicabut (misalnya) pasti binasalah manusia.
Jika nafsu terhadap lawan jenis dihilangkan, mereka tidak punya keturunan dan
akhirnya binasa. Nafsu adalah keinginan seseorang atau dorongan hati yang kuat
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Hawa
nafsu adalah sesuatu yang disenangi oleh jiwa, baik bersifat positif maupun negatif,
baik bersifat jasmani maupun ruhani. Perbuatan baik ataupun buruk digerakkan oleh
nafsu, artinya menjadi pusat komando segala kegiatan manusia, sekaligus sebagai
motor penggerak yang menggerakkan segala macam tingkah laku manusia. Nafsu itu ibarat
seperti sungai dia bisa mengalir dengan tenang dan bisa meluap atau menghancurkan,
dan karena itu perlu dikontrol dengan sistem bendungan dan irigasi yang baik
sehingga memberikan manfaat yang maksimal bagi kehidupan manusia dan lingkungannya.
Sehingga pada hakikatnya nafsu itu penting bagi diri manusia akan tetapi penggunaan
nafsu yang tidak terkontrol pada diri manusia itu yang berbahaya.
2. Memahami
Nafsu Syahwat
a. Pengertian
Nafsu Syahwat
Secara
istilah, nafsu adalah keinginan seseorang atau dorongan hati yang kuat untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya. Syahwat secara lughawi artinya menyukai atau menyenangi.
Yaitu kecintaan terhadap sesuatu sehingga kecintaan itu menguasai hatinya.
Kecintaan
itu sering menyeret seseorang untuk melanggar hukum Allah ’azza wa Jalla dengan
tujuan untuk mendapatkan sesuatu yang lezatt. Adapun secara istilah syari’at,
nafsu syahwat adalah kecondongan jiwa terhadap sesuatu yang disukainya sehingga
keluar dari batas syari’at.
Maka
hakikat syahwat (keinginan) nafsu adalah kecenderungan kepada sesuatu yang sesuai
dengan tabi’atnya (watak) dan menjauhi sesuatu yang tidak disukai dan dicintai.
Akan
tetapi, sebenarnya keberadaan syahwat pada manusia itu tidak tercela, karena terdapat
faedah dan manfaat didalamnya. Celaan itu tertuju jika manusia melewati batas dalam
memenuhi syahwat. Misalnya, menuruti nafsu syahwat dengan melakukan kemaksiatan
mulai dari menonton film porno, berpacaran dan akhirnya sampai pada perzinaan.
Dorongan
nafsu syahwat mengarah kepada tiga hal besar, yaitu :
1) Syahwat dan
kesenangan terhadap harta benda, sehingga melahirkan kerakusan, perampokan, pencurian,
manipulasi, korupsi, bahkan kekerasan fisik, seperti pembunuhan dan
penganiayaan.
2) Syahwat dari
kesenangan terhadap seks, sehingga melahirkan kejahatan dan kekejian berupa
perzinaan, pemerkosaan dan penyimpangan seksualitas lainnya, bahkan hanya
karena seks terjadi pembunuhan dan penganiayaan fisik.
3) Syahwat dan
kesenangan terhadap jabatan dan kedudukan, sehingga melahirkan para pejabat dan
pemimpin yang zalim, otoriter, bahkan diktator. Akhirnya menindas siapa saja
yang akan menghalang-halangi.
b. Bahaya
Menuruti Nafsu Syahwat
Salah
satu sifat dari nafsu syahwat adalah “tidak pernah terpuaskan”, disaat kita menuruti
satu keinginannya, nafsu itu akan menuntut hal lain dan akan terus begitu hingga
tak ada habisnya. Mempunyai satu gunung emas pun masih tak cukup ia masih ingin
yang lebih. Orang yang mengikuti hawa nafsu tidak akan mementingkan agamanya dan
tidak mendahulukan ridha Allah Swt. dan Rasul-Nya. Dia akan selalu menjadikan hawa
nafsu menjadi tolak ukurnya, dia dibuat buta dan tuli oleh hawa nafsunya. Orang
yang mengikuti hawa nafsu tanpa terkendali akan mengakibatkan bahaya besar
sebagai berikut.
1) Merusak potensi
diri seseorang. Nabi Saw. mengingatkan bahwa mengikuti hawa nafsu akan membawa
kehancuran.
“Tiga
perkara yang membinasakan dan tiga perkara yang menyelamatkan. Adapaun tiga
perkara yang membinasakan adalah kebakhilan, dan kerakusan yang ditaati, hawa
nafsu yang diikuti, dan seseorang yang membanggakan diri sendiri. Sedangkan tiga
perkara yang menyelamatkan adalah takut kepada Allah di waktu sendirian dan dilihat
orang banyak, sederhana di waktu kekurangan dan kecukupan, dan (berkata/berbuat)
adil di waktu marah dan ridha.” (HR. Anas, Ibnu Abbas, Abu Hurairah,
Adullah bin Abi aufa, dan Ibnu Umar).
2) Mendatangkan
kesusahan dan kesempitan
3) Mengakibatkan
rusaknya lingkungan alam karena nafsu mengeksploitasi alam yang berlebih-lebihan.
”Telah
nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia,
supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka,
agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”(QS. ar- Rum [30]: 41).
4) Melahirkan
kerakusan, perampokan, pencurian, manipulasi, korupsi, bahkan kekerasan fisik,
seperti pembunuhan dan penganiayaan. Sebagai dampak menuruti syahwat harta.
5) Lahirnya para
pejabat dan pemimpin yang zalim, otoriter, bahkan diktator.
6) Dampak menuruti
syahwat kesenangan terhadap kelezatan makanan, akan menimbulkan berbagai macam
penyakit tubuh.
7) Nafsu akan
mendorong manusia untuk berbuat jahat, melampiaskan syahwat dan menentang
ajaran agama. Apabila pelampiasan nafsu syahwat sex pada remaja akan menimbulkan
dampak yang lebih berbahaya diantaranya adalah putus sekolah, suramnya masa
depan, perceraian, melahirkan anak terlantar, dan tumbuhnya generasi yang
memerosotkan harkat dan martabat negara.
”Dan
aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena Sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya
Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.” (QS. Yusuf [12]: 53).
c. Cara
Menundukkan Nafsu Syahwat
Walaupun
memenuhi kebutuhan hidup yang disukainya itu diperbolehkan, namun bukan berarti
seorang mukmin dibolehkan selalu menuruti hawa nafsunya bahkan dia harus
mengendalikannya. Termasuk menahan syahwat perut, yang kemudian timbul syahwat
kemaluan dan rakus harta benda. Maka wajib bagi kita berusaha untuk menundukkan
nafsu itu demi keselamatan dan kesejahteraan dunia akhirat dengan jalan sebagai
berikut.
1) Meningkatkan
taqwa kepada Allah dengan menerapi diri dengan rasa takut kepada Allah Swt.
2) Dengan Mujahadah
Mujahadah
berasal dari kata al-jihad yaitu berusaha dengan segala kesungguhan, kekuatan
dan kesanggupan pada jalan yang diyakini benar. Mujahadah artinya berusaha untuk
melawan dan menundukkan kehendak hawa nafsu. Rasulullah bersabda seorang mujahid
yaitu seorang yang berjihad, yaitu dia yang melawan hawa nafsunya karena Allah.
”Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta
orang-orang yang berbuat baik.” (QS. al- Ankabut [29]: 69)
Dengan
kata lain, seorang yang bermujahadah rela meninggalkan apa yang disukainya demi
memburu sesuatu yang diyakininya benar, baik dan betul. Imam al-Ghazali
berkata: ”Antara tanda kecintaan hamba kepada Allah ialah mengutamakan
perkara yang disukai Allah dari pada kehendak nafsu serta pribadinya.”
Mujahadah melawan nafsu dengan cara menempuh tiga
langkah seperti berikut :
1) Takhalli,
mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela.
2) Tahalli,
menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji
3) Tajalli,
tersingkapnya tabir yang menghalangi antara manusia dan Allah, rasa dilihat dan
diawasi oleh Tuhan, kerinduan hanya tertuju pada Tuhan.
Ketiga
peringkat ini hendaklah dilakukan dengan melaksanakan latihan-latihan rohaniah
yang dinamakan riyadah al nafs yakni latihan untuk melawan atau menentang
atau memerangi semua kehendak-kehendak nafsu yang jahat.
Latihan
menundukkan hawa nafsu ini perlu dilaksanakan sedikit demi sedikit tetapi istiqamah,
selain itu hendaklah bermujahadah dalam beramal. Perjuangan untuk melawan
hawa nafsu tidaklah mudah. Imam al- Ghazali dalam Raudatu al-taalibin berkata ”Berhati-hatilah
kamu dengan hawa nafsu. Ia adalah musuh kita yang paling ketat dan yang paling
sukar untuk dikalahkan.”
4) Dengan jalan riyadah
Riyadah adalah latihan kerohanian dengan menjalankan ibadah dan
menundukkan keinginan nafsu syahwat. Riyadah ini dapat ditempuh dengan
dua cara yaitu riyadah badan yaitu dengan mengurangi makan, minum, tidur
dan mengurangi berkata-kata. Yang kedua riyadah rohani yaitu dengan
memperbanyak ibadah, berzikir, bertafakkur, memperhatikan kejadian alam dan
susunannya, serta memperhatikan segala keadaan masyarakat yang penuh kejahilan
akibat menuruti hawa nafsu.
d. Hikmah
Menundukkan Nafsu Syahwat
Nafsu
syahwat pada diri manusia itu tidak boleh dihilangkan, tetapi penting untuk ditundukkan
dan diarahkan sehingga akan memperoleh manfaat kebaikannya sebagai berikut.
1) Menjadi motivasi
untuk berbuat baik, beribadah dan meraih kesuksesan
2) Hidup lebih
terarah dan terkontrol. Selamat dan bahagia dunia akhirat
3) Terhindar dari
perbuatan keji dan mungkar
4) Disukai banyak orang
3. Memahami
Nafsu Amarah (Nafsu Gadab)
a. Pengertian
Marah (Gadab)
Marah
dalam pengertian gadab artinya merasa tidak senang dan panas hati karena
suatu peristiwa atau sebabsebab tertentu. Marah adalah sifat alamiah yang ada
pada manusia, namun diantara mereka ada yang bisa mengendalikannya ada juga
yang tidak bisa. Maka itulah Islam mengajarkan untuk bisa mengendalikan marah.
Nafsu
amarah selalu mendorong diri manusia untuk melahirkan perbuatan, sikap, dan
tindakan kejahatan atau syahwat hewani dan kesenangan kepada kejahatan.
Kecenderungan ini begitu kuat, sehingga banyak orang dibuat tak berdaya,
kecuali sedikit orang yang mendapat rahmat dari Allah Swt.
Memang
sifat marah merupakan tabiat manusia, karena mereka memiliki nafsu yang cenderung
ingin selalu dituruti dan tidak mau ditolak keinginannya. Nafsu amarah adalah satu
musuh dalam (musuh batin) yaitu nafsu yang selalu memerintahkan kepada keburukan
dan jauh lebih berbahaya dibandingkan musuh-musuh yang lainnya.
“Sesungguhnya amarah itu datangnya dari setan dan setan diciptakan dari
api. Api akan padam dengan air. Apabila salah seorang dari kalian marah,
hendaknya berwudhu” (HR. Abu Daud, no. 4784 Al-Hafizh Abu Thahir
mengatakan bahwa sanad hadis ini hasan)
Di
samping itu juga sifat marah merupakan bara api yang dikobarkan oleh setan dalam
hati manusia untuk merusak agama dan diri mereka. Karena dengan kemarahan, seseorang
bisa menjadi gelap mata sehingga melakukan tindakan atau mengucapkan perkataan
yang berakibat buruk bagi dirinya.
Oleh
karena itu, umat Islam yang bertakwa kepada Allah Swt. Meskipun tidak luput dari
sifat marah, akan tetapi karena mereka selalu berusaha melawan keinginan nafsu.
Sehingga mereka mampu meredam kemarahan mereka. Allah berfirman:
“(Yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan mema'afkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS.ali- Imran [3]: 134).
b. Bahaya
Marah (Gadab)
Marah
akan mengakibatkan bahaya besar baik bagi pelakunya maupun orang lain. Berikut bahaya
marah.
1) Bagi diri
sendiri, akan mengakibatkan tekanan darah menjadi tinggi, sehingga membuka peluang
terkena serangan jantung, cepat tua, gangguan tidur, gangguan pernapasan, sakit
kepala, struk dan depresi
2) Bagi orang lain
dan lingkungan, keputusan dan tindakan orang marah cenderung menambah masalah
bukan menyelesaikan masalah, menimbulkan kerusakan hubungan dengan teman, dapat
merusak keharmonisan keluarga, bisa mengakibatkan rusaknya lingkungan, bisa
mengakibatkan pembunuhan
c. Cara
Menundukkan Marah (Gadab)
Sebagaimana
diketahui bahwa obat atas setiap penyakit seperti virus dan faktor penyebab
timbulnya penyakit itu harus dapat dihilangkan. Karena itulah untuk bisa mengobati
marah kita juga harus tahu sebab-sebabnya.
Sebab-sebab
marah antara lain karena tidak kuat menahan nafsu, sombong, ujub, banyak
melakukan sendau gurau, perbuatan yang sia-sia, melecehkan orang lain, menghina,
berdebat, bertengkar, berkhianat, serta cinta kepada harta dan kedudukan.
Semua
itu merupakan perangai yang buruk dan tercela dalam Islam. Seseorang tidak dapat
terhindar dari amarah apabila masih ada sifat-sifat itu.
a) Dengan riyadah
Cara
menundukan sifat-sifat tercela marah diperlukan pelatihan diri (riyadah)
dan kesabaran dalam menghadapi segala rintangan. Riyaadah yang diperlukan
diantaranya adalah dengan mengetahui akibat-akibat buruk dari sifat-sifat
tersebut. Setelah itu menerapkan dalam diri anda kembalikan dari sifat-sifat
itu, misalnya sombong dengan tawadhu’, haus harta dengan qana’ah, dan lain
sebagainya. Selain itu dengan memperbanyak berzikir, membaca ta’awudz, beristighfar,
dan memberi maaf. Sifatsifat mulia ini terus diterapkan dalam diri. Memang
memerlukan waktu yang cukup lama hingga merasa ringan mengerjakannya karena
sifat itu telah menyatu dalam dirinya.
b) Mujahadah
Berusaha
sungguh-sungguh dengan sekuat tenaga menahan hawa nafsu untuk tidak
melampiaskannya kepada kemarahan, dan menyadari akan dampak negatifnya bila
melampiaskan marah.
c) Menahan hawa
nafsu
Seorang
laki-laki datang kepada Rasulullah Saw. dan meminta diberi wasiat. Lalu Rasulullah
bersabda:
“Dari
Abu Hurairah ra. Bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Saw.: Berilah
wasiat kepadaku. Sabda Nabi Saw.: Janganlah engkau marah. Maka diulanginya
permintaan itu beberapa kali. Sabda Beliau: Janganlah engkau marah”. (HR.
Bukhari).
Dalam
kitab adab al-Dunya wa al-Din, Imam al- Mawardi mengemukakan beberapa metode
penyembuhan marah yaitu dengan cara yang pertama, menimbulkan rasa takut (khauf)
kepada Allah, yang kedua menyadari dampaknya dan yang ketiga menyadari betapa
besar pahalanya bila mampu menahannya.
d. Hikmah
Menghindari Marah
Tak
tanggung-tanggung, Allah menjanjikan surga bagi mereka yang menahan amarah dan
memaafkan. Mereka akan disukai oleh Allah Swt. Sesama manusia, dan juga malaikat-Nya.
Mendatangkan kebaikan, di tempatkan di surga. Selain itu orang yang bisa menahan
marah akan mempermudah urusan dan memperlancar rezeki.
Lampiran 3
GLOSARIUM
Bid’ah :
Perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan
Dalil Aqli :
Berdasarkan akal
Dalil
Naqli : Berdasarkan Qur’an Hadis
Doktriner : Ajaran
(tentang asas suatu aliran politik, keagamaan)
Ekstremisme : Orang
yang melampaui batas kebiasaan
Fasik : Orang
yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya
Ghadzabillah : Murka
Allah
Hablum
minallah : Hubungan dengan Allah
Hablum
minannas : Hubungan dengan sesama manusia
Hilm : Tidak
cepat emosi dan tidak bersikap masa bodoh
Ikhtilaf :
Perbedaan pendapat atau pikiran
Kafir :
Mengikuti kesalahan tetapi tetap menjalankan
Khawarijiyah : Berontak
Ma’ani : Sudah
tetap, tidak boleh tidak
Ma’nawiyah : Tabi’at,
sifat-sifat kejiwaan
Mistisisme : Ajaran
yang menyatakan hal-hal yang yang tidak terjangkau oleh akal manusia
Mujaahadah :
Bersungguh-sungguh
Mukallaf : Dewasa
dan tidak mengalami gangguan jiwa maupun akal
Musyrik : Orang
yang menyekutukan Allah
Mutasyabihah : Ayat
al-qur’an yang membutuhkan penafsiran dalam memahaminya
Nafsiyah : Orang
seseorang, sendiri sendiri
Radikalisme : Paham
atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan social dan politik
dengan cara kekerasan atau drastic
Sum’ah : Suka
memperdengarkan atau menceritakan kebaikannya kepada orang lain.
Ummatan
wasathan : Umat yang adil atau pertengahan
Zalim : Kejam,
bengis, tidak berperikemanusiaan
Lampiran 4
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Karim
Abdul Hiyadh, Terjemah Durrotun Nasihin, Mesir,
Surabaya, 1993
Abu Hudzaifah. Lc, Kisah Para Nabi dan Rasul,
Pustaka as-Sunah, Jakarta, 2007
Derektorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam
Departemen Agama, Akhlak Ilmu Tauhid, PT. Karya Unipres, Jakarta, 1982
’Aidh al-Qarni, La Tahzan ,Jangan Bersedih, Qisthi
Pres, Jakarta Timur, 2004
A. Ilyas Ismail, M.A, Pilar-pilar Takwa, (Doktrin.
Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan Spiritual), Rajawali Pers, (PT. Raja
Grafindo Persada), Jakarta, 2009
Handono, Aris Musthafa, zaenuri Siroj, Meneladani
Akhlak Untuk Kelas XI Madrasah Aliyah Program Keagamaan , PT. Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017
Handono, Aris Musthafa, Zaenuri Siroj, Meneladani
Akhlak Untuk Kelas XII Madrasah Aliyah Program Keagamaan , PT. Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017
Hasyim Asy’ari, Penerjemah Rosidin, Pendidikan Khas
Pesantren (Adabul ’Alim wal Muta’allim), Tira Smart,Tangerang, 2017
M. Ali Haidar, Nahdhatul Ulama’ dan Islam di Indonesia,
PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998
M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, Tranmisi
Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia, Erlangga, Jakarta , 2005
Muhammad bin Abdul Wahab, Syarah Kitab al-Tauhid,
PT. Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984
Roli Abdul Rohman-M. Khamzah. Menjaga Akidah dan
Akhlak untuk kelas X Madrasah Aliyah, PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri,
Solo 2017
Sa’id Hawwa, Tazkiyatun Nafs (Intisari Ihya
Ulumuddin), Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2007
Salim Bahreisy, Irsyadul ’Ibad Ilasabilirrasyad (Petunjuk
ke Jalan Lurus ), Darussaggaf, Surabaya, 1977
Salim Bahreisy, Riyadhus
Shalihin, PT. Alma’arif, Bandung , 1987
Umar Sulaiman al-Asyqar , al-Asma’ al- Husna,
Qisthi Press, Jakarta timur Cetakan ke-6, Mei 2009
Zainuddin, Terjemah
Hadis Shahih Bukkhari, Widjaya, Jakarta 1992
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar