MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH
MATA PELAJARAN : AL-QUR'AN HADITS
BAB 10 : MENGHAYATI FUNGSI HADIS TERHADAP
AL-QUR’AN
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Madrasah : MA MUHAMMADIYAH BLABAK
Nama Penyusun : KUNI HIRIYANTI, S.Pd
Mata Pelajaran : Al-Qur'an Hadits
Kelas / Fase Semester :
X/ E / 2
Elemen : Menghayati Fungsi Hadis Terhadap Al-Qur’an
Alokasi waktu : 2 x 45 Menit
Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, pada elemen Ilmu
Al-Qur'an, Peserta didik dapat menganalisis hal ihwal ilmu Al-Qur'an tentang
pengertian Al-Quran menurut pendapat para ulama', sejarah turun dan
kodifikasinya, bukti-bukti keautentikan, kemukjizatan, pokok-pokok kandungan,
dan struktur Al-Qur’an, untuk meyakini kebenaran Al-Qur'an dan mengamalkan
pesan Al-Qur'an dalam konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Pada elemen Ilmu Hadis, peserta didik mampu menganalisis hal ihwal tentang ilmu
hadis yang meliputi; perbedaan hadis, sunah, khabar, dan asar, sejarah
kodifikasi dan perkembangan hadis, unsur-unsur hadis, kedudukan dan fungsi
hadis terhadap ayat Al-Qur’an, pembagian hadis, serta tokoh-tokoh ulama hadis
untuk meyakini kebenaran hadis-hadis tersebut bersumber dari Rasulullah saw.,
baik secara sanad dan matan maupun kualitas kesahihannya serta mengamalkan ilmu
hadis agar lebih kritis dalam menerima dan merespon berita di masyarakat dalam
konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
|
Elemen |
Capaian Pembelajaran |
|
Ilmu Al-Qur'an |
Peserta didik dapat
menganalisis hal ihwal ilmu Al-Qur'an yang meliputi; pengertian Al-Quran
menurut pendapat para ulama', sejarah turun dan kodifikasinya, bukti-bukti
keautentikan, kemukjizatan, pokok-pokok kandungan, dan struktur Al-Qur'an,
untuk meyakini kebenaran Al-Qur'an dan mengamalkan pesan Al-Qur'an dalam
konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. |
|
Ilmu Hadis |
Peserta didik mampu
menganalisis hal ihwal tentang ilmu hadis yang meliputi; perbedaan hadis,
sunah, khabar, dan asar, sejarah kodifikasi dan perkembangan hadis, unsur-unsur
hadis, kedudukan dan fungsi hadis terhadap ayat Al-Quran, pembagian hadis,
serta tokoh-tokoh ulama hadis untuk meyakini kebenaran hadis-hadis tersebut
bersumber dari Rasulullah saw., baik secara sanad dan matan maupun kualitas
kesahihannya serta menggunakan ilmu hadis agar selektif terhadap hadis yang
dijadikan dasar beramal, sebagai sarana menanamkan sikap kritis dalam
menerima dan merespon berita di masyarakat dalam konteks kehidupan berbangsa
dan bernegara. |
B Kompetensi Awal
Dalam hukum Islam, hadis menjadi
sumber hukum kedua setelah al-Qur’an. Sejak masa sahabat sampai hari ini para
ulama telah bersepakat dalam penetapan hukum didasarkan juga kepada sunah Nabi,
terutama yang berkaitan dengan petunjuk operasional.
Hadis berfungsi sebagai penjelas bagi
al-Qur’an dan perinci pesan-pesan al-Qur’an karena kebanyakan kandungan
al-Qur’an yang bersifat ijmali (global). Rasululllah juga menetapkan mana yang
baik dan mana yang buruk dengan istilah halal dan haram. Segala hewan-hewan
(binatang-binatang) buas, yang mempunyai taring, dan burungburung yang
mempunyai kuku yang mencakar dan yang menyambar diharamkan melalui hadis.
C. Profil Pelajar Pancasila
(PPP) dan Pelajar Rahmatan lil Alamin (PRA)
§ Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai adalah
bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan
kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global.
§ Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin yang ingin dicapai adalah taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh.
D. Sarana dan Prasarana
Media : LCD proyektor,
komputer/laptop, jaringan internet, dan lain-lain
Sumber
Belajar : LKPD, Buku Teks, laman
E-learning, E-book, dan lain-lain
E. Target Peserta Didik
Peserta didik cerdas istimewa berbakat dan peserta didik regular
F. Model DAN METODE Pembelajaran
Discovery
learning, Diskusi, Tanya jawab dan
games
KOMPETENSI INTI
A. Tujuan Pembelajaran
§ Menghayati fungsi hadis terhadap al-Qur’an
§ Mengimplementasikan fungsi hadis dalam
memahami al-Qur’an.
§ Menganalisis fungsi hadis terhadap al-Qur’an
§ Menyajikan contoh-contoh fungsi
hadis terhadap al-Qur’an
B. Pemahaman Bermakna
§ Menganalisis fungsi hadis terhadap al-Qur’an
§ Menyajikan contoh-contoh fungsi
hadis terhadap al-Qur’an
C. Pertanyaan Pemantik
Guru menanyakan kepada peserta didik seputar
materi Menghayati Fungsi Hadis Terhadap Al-Qur’an
D. Kegiatan Pembelajaran
PERTEMUAN KE-1
Fungsi
Hadis terhadap Al-Qur`an
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Fungsi Hadis terhadap Al-Qur`an |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Fungsi Hadis terhadap Al-Qur`an |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Fungsi Hadis terhadap Al-Qur`an |
|
Communication |
§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja
kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi
yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang
mempresentasikan. |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Fungsi Hadis
terhadap Al-Qur`an § Peserta didik kemudian diberi kesempatan
untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
PERTEMUAN KE-2
Kedudukan
Hadis terhadap al-Qur’an
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Kedudukan Hadis terhadap al-Qur’an |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Kedudukan Hadis terhadap al-Qur’an |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Kedudukan Hadis terhadap al-Qur’an |
|
Communication |
§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja
kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi
yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang
mempresentasikan. |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Kedudukan Hadis
terhadap al-Qur’an § Peserta didik kemudian diberi kesempatan
untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
E. Pembelajaran Diferensiasi
§ Untuk siswa yang sudah memahami materi ini
sesuai dengan tujuan pembelajaran dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh,
disarankan untuk membaca materi Menghayati Fungsi Hadis Terhadap Al-Qur’an dari
berbagai referensi yang relevan.
§ Guru dapat menggunakan alternatif metode dan
media pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing agar pelaksanaan
pembelajaran menjadi lebih menyenangkan (joyfull
learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.
§ Untuk siswa yang kesulitan belajar topik ini,
disarankan untuk belajar kembali tata cara pada pembelajaran di dalam dan atau
di luar kelas sesuai kesepataan antara guru dengan siswa. Siswa juga disarankan
untuk belajar kepada teman sebaya.
E. ASESMEN / PENILAIAN
1. Asesmen Formatif (selama proses pembelajaran)
a. Asesmen
awal
Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam
memasuki pembelajaran, dengan pertanyaan:
|
No |
Pertanyaan |
Jawaban |
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
1 |
Apakah
pernah membaca buku terkait ? |
|
|
|
2 |
Apakah
kalian ingin menguasai materi pelajaran dengan baik ? |
|
|
|
3 |
Apakah
kalian sudah siap melaksanakan pembelajaran dengan metode inquiry learning,
diskusi ? |
|
|
b. Asesmen
selama proses pembelajaran
Asesmen ini dilakukan guru selama pembelajaran,
khususnya saat peserta didik melakukan kegiatan diskusi, presentasi dan
refleksi tertulis. Asesmen saat inquiry
learning (ketika peserta didik melakukan kegiatan belajar dengan metode inquiry learning)
Lembar kerja
pengamatan kegiatan pembelajaran dengan metade
inquiry learning
|
No |
Nama Siswa |
Arpak yang diamati |
Skor |
|||||
|
Gagasan |
Aktif |
Kerjasama |
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai akhir x 25 |
||||||||
2. Asesmen Sumatif
a. Asesmen
Pengetahuan
Soal Asesmen Pengetahuan
Jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan jawaban yang benar!
1. Apa
fungsi-fungsi hadis terhadap al-Qur’an? Jelaskan!
2. Bagaimana sikap
proaktif dalam lingkungannya sebagai implementasi dari pemahaman fungsi hadis
terhadap al-Qur’an?
3. Analisis fungsi
hadis terhadap al-Qur’an!
4. Sajikan
contoh-contoh fungsi hadis terhadap al-Qur’an!
b. Asesmen
keterampilan
1) Peserta
didik mempraktikkan berkenalan secara lisan dan tulis
Contoh rubrik
penilaian praktek:
Nama : …………………………………..
Kelas :
…………………………………..
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Kelancaran
(kompetensi gramatikal di aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
2 |
Ketepatan
(kompetensi gramatikal aspek nahwu sharaf) |
20 |
|
3 |
Isi (kompetensi
wacana dan sosiolinguistik) |
20 |
|
4 |
Ucapan/pelafalan
(kompetensi gramatikal aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
5 |
Gestur
(kompetensi strategi) |
20 |
|
Total |
100 |
|
Indikator
Penilaian aspek kelancaran (fluency)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
15 - 20 |
|
2 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
10 - 14 |
|
3 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
5 - 9 |
|
4 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek ketepatan (accuracy)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
15 - 20 |
|
2 |
Tidak ada kesalahan
gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
10 - 14 |
|
3 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
5 - 9 |
|
4 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek isi
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi
khusus dari klasifikasi detail |
25 -30 |
|
2 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi
khusus dari klasifikasi kurang detail |
20 - 24 |
|
3 |
Memiliki
struktur teks deskriptif tidak lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari
klasifikasi kurang detail |
15 - 19 |
|
4 |
Memiliki
struktur teks deskriptif kurang lengkap (deskripsi umum dan deskripsi
khusus), deskripsi umum meliputi definisi, dan deskripsi khusus kurang sesuai |
10 - 14 |
|
5 |
Tidak ada
komponen struktur deskriptif |
1 - 9 |
Petunjuk penskoran:
Penghitungan skor akhir menggunakan rumus:
Skor Perolehan x 10 = ….
2) Peserta
didik membuat kartu nama
Contoh rubrik
penilaian produk kartu nama
|
No |
Nama Siswa |
Perencanaan Bahan |
Aspek Yang Dinilai |
Jml |
|||
|
Proses Pembuatan |
Hasil Produk |
||||||
|
Langkah pembuatan |
Teknik pembuatan |
Bentuk fisik |
Inovasi |
||||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan:
Skor antara 1 – 5
Aspek yang dinilai disesuaikan dengan tugas
yang diberikan
F. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Pengayaan
§ Pengayaan diberikan kepada
peserta didik yang telah mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.
§ Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan
yang lebih variatif dengan menambah keluasan dan kedalaman materi yang mengarah
pada high order thinking
§ Program pengayaan dilakukan di luar
jam belajar efektif.
Remedial
§ Remedial diberikan kepada peserta didik yang
belum mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran
§ Guru melakukan pembahasan ulang terhadap
materi yang telah diberikan dengan cara/metode yang berbeda untuk memberikan
pengalaman belajar yang lebih memudahkan peserta didik dalam memaknai dan
menguasai materi ajar misalnya lewat diskusi dan permainan.
§ Program remedial dilakukan di luar jam
belajar efektif.
G. REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK
Refleksi Guru:
Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan
kegiatan pengajaran di kelas, misalnya:
§ Apakah semua peserta didik terlibat aktif
dalam pembelajaran iniv ?
§ Apakah ada kesulitan yang dialami peserta
didik?
§ Apakah semua peserta didik sudah dapat
melampaui target pembelajaran?
§ Sudahkan tumbuh sikap yang mencerminkan
profil pelajar pancasila dan profil pelajar rahmatal lil ‘alamin?
§ Apa langkah yang perlu dilakukan untuk
memperbaiki proses belajar?
Refleksi Peserta Didik:
|
No |
Pertanyaan Refleksi |
Jawaban Refleksi |
|
1 |
Bagian manakah yang menurut kamu hal paling sulit dari
pelajaran ini? |
|
|
2 |
Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki hasil
belajarmu? |
|
|
3 |
Kepada siapa kamu akan meminta bantuan untuk memahami
pelajaran ini? |
|
|
4 |
Jika kamu diminta untuk memberikan bintang 1 sampai 5,
berapa bintang yang akan kamu berikan pada usaha yang telah dilakukan |
|
|
|
LAMPIRAN- LAMPIRAN
Lampiran 1
LEMBAR KERJA PESERTA
DIDIK (LKPD)
Nama : …………………………………..
Kelas : …………………………………..
Tugas
Amatilah
perilaku orang di sekitarmu. Sebutkan contoh penggunaan hadis sebagai penjelas
dari al-Qur’an dan tuliskan tanggapanmu.
|
Perilaku yang diamati |
Tanggapan dan dalil |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Lampiran 2
MATERI
BAHAN AJAR
1. Fungsi Hadis terhadap Al-Qur`an
Al-Qur’an
dan hadis Rasulullah adalah dasar dari pengetahuan Islam. Sunah Rasulullah yang
diberitakan dan diinformasikan melalui hadis tentu memiliki fungsi terhadap
pemahaman dan penafsiran al-Qur’an.
Fungsi
hadis terhadap al-Quran tentu saja sangat dipengaruhi dari kevalidan hadis
tersebut. Hadis berfungsi memperjelas pesan-pesan al-Quran secara lebih lengkap
dan juga dalam mencapai tujuan penciptaan manusia dan menjabarkan hukum-hukum
dan ajaran Islam.
Manafsirkan
dan memfungsikan hadis tidak bisa sembarangan, dan harus dilakukan oleh orang
yang benar-benar ahli dan memiliki ilmu pengetahuan terkait tentangnya. Untuk
itu, berikut adalah penjelasan mengenai fungsi hadis terhadap al- Qur’an.
a. Bayan at-Taqrir
Bayan
at-taqrir adalah menetapkan juga memperkuat dari apa yang sudah diterangkan
dalam al-Quran. Di sini hadis berfungsi untuk membuat kandungan al-Qur’an
semakin kokoh dengan adanya penjelasan hadis tersebut. Contoh fungsi ini
seperti sebuah hadis yang menjelaskan firman Allah swt. dalam QS al Baqarah
[2]: 185
Terjemahnya
: Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an, sebagai petunjuk
bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda
(antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada
di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan
(dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang
ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan
bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu,
agar kamu bersyukur.
Ayat
ini dikuatkan dan ditetapkan oleh hadis :
Artinya
: Berpuasalah ketika kalian melihat (ru’yah ) bulan sabit dan berbukalah ketika
kalian juga melihat (ru’yah) bulan sabit. (HR Muslim)
Contoh
lain dari bayan at-taqrir ini adalah sabda Rasulullah saw., ‚Tidak diterima
salat seseorang yang berhadas sampai ia berwudu‛ (HR.Bukhari dan Abu Hurairah)
Hadis
ini mentakrir (menetapkan dan menguatkan) firman Allah swt. dalam QS al-Maidah
[5]: 6 yang berbunyi:
Terjemahnya
: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah
muka dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu
sampai dengan kedua mata kaki.
b. Bayan at-Tafsir
Fungsi
hadis sebagai bayan at-tafsir berarti memberikan tafsiran (perincian) terhadap
isi al-Qur’an yang masih bersifat umum (mujmal) serta memberikan
batasan-batasan (persyaratan) pada ayat-ayat yang bersifat mutlak (taqyid).
Mungkin di dalam al-Qur’an masih bersifat umum, sedangkan dalam hadis diperinci
dan didetailkan serta mentekniskan apa yang tidak dijelaskan dalam al-Qur’an.
Misalnya Allah memerintahkan orang beriman untuk melaksanakan salat. Mengenai
teknis detail dan caranya, hal ini diperjelas dengan hadis sebagaimana yang
telah Rasulullah lakukan.
Contoh
hadis sebagai bayan at-tafsir adalah penjelasan nabi Muhammad saw. mengenai
hukum pencurian.
Artinya:
Rasulullah saw. didatangi seseorang yang membawa pencuri, maka beliau memotong
tangan pencuri tersebut dari pergelangan tangan. Hadis ini menafsirkan frman
Allah swt. dalam QS al-Maidah [5] : 38
Terjemahnya:
Laki-laki
yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai)
pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah.
Al-Quran
memerintahkan hukuman bagi seorang pencuri dengan memotong tangannya. Ayat ini
masih bersifat umum, kemudian Nabi saw. memberikan batasan bahwa yang dipotong
dari pergelangan tangan.
c. Bayan at-Tasyri’
Hadis
sebagai bayan at-tasyri’ ialah sebagai pemberi kepastian hukum atau ajaran-ajaran
Islam yang tidak dijelaskan dalam al-Qur’an. Biasanya al-Qur’an hanya
menerangkan pokok-pokoknya saja. Sebagaimana contohnya hadis mengenai zakat
fitrah, dibawah ini:
Artinya
: Rasulullah telah mewajibkan zakat fitrah kepada umat Islam pada bulan Ramadan
satu sa’ kurma atau gandum untuk setiap orang, beik merdeka atau hamba,
laki-laki atau perempuan. (HR. Muslim)
Bayan
at-tasyri’ memiliki maksud untuk mewujudkan hukum atau aturan yang tidak
didapat dalam al-Qur’an secara eksplisit. Hal ini berfungsi untuk menunjukkan
suatu kepastian hukum dengan berbagai persoalan yang ada di kehidupan namun
tidak dijelaskan al-Qur’an.
d. Bayan an-Nasakh
Secara
etimologi, an-nasakh memiliki banyak arti di antaranya at-tagyir (mengubah),
al-ibtal (membatalkan), at-tahwil (memindahkan), atau izalah (menghilangkan).
Para ulama mendefinisikan bayan an-nasakh sebagai ketentuan yang datang
kemudian dapat menghapuskan ketentuan yang terdahulu, sebab ketentuan yang baru
dianggap lebih cocok dengan lingkungannya dan lebih luas.
Salah
satu contohnya yakni hadis:
Artinya:
Tidak ada wasiat bagi ahli waris.
Hadis
ini menasakh QS al-Baqarah [2] : 180
Terjemahnya:
Diwajibkan atas kamu, apabila seseorang diantara kamu kedatangan (tandatanda) maut,
jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibubapak dan karib
kerabat secara makruf. (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.
Untuk
fungsi hadis sebagai bayan nasakh ini masih terjadi perdebatan di kalangan
ulama. Para ulama Ibn Hazm dan Mutaqaddimin membolehkan menasakh al-Qur’an
dengan segala hadis walaupun hadis ahad. Kelompok Hanafiyah berpendapat boleh
menasakh dengan hadis masyhur tanpa harus mutawatir.
Sedangkan
para muktazilah membolehkan menasakh dengan syarat hadis harus mutawatir.
Selain itu, ada juga yang berpendapat bayan nasakh bukanlah fungsi hadis.
2. Kedudukan Hadis terhadap al-Qur’an
Al-Qur`an
sebagai sumber pokok dan hadis sebagai sumber kedua mengisyaratkan pelaksanaan
dari keyakinan terhadap Allah dan Rasul-Nya yang tertuang dalam dua kalimat
syahadat. Karena itu menggunakan hadis sebagai sumber ajaran merupakan suatu
keharusan bagi umat Islam. Setiap muslim tidak bisa hanya menggunakan
al-Qur’an, tetapi ia juga harus percaya kepada hadis sebagai sumber kedua
ajaran Islam.
Hadis
mempunyai kedudukan sebagai sumber hukum Islam kedua. Hadis tidak boleh
diabaikan peranannya dalam ajaran Islam karena Allah swt. berfirman dalam QS
an-Nisa [4]: 80
Terjemahnya
: Barangsiapa yang mentaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah mentaati
Allah. Dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah)
Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi pemelihara mereka.
Allah
swt. juga menekankan dalam QS al-Hasyr [59]:7
Terjemahnya
: Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu
maka tinggalkanlah.
Lampiran 3
GLOSARIUM
Ijmal : ringkasan, secara umum ikhtisar, tidak terinci
Maknawi : tentang makna, berkaitan dengan makna, yang
tersirat, inti, penting
Masdar : bentuk asli, bentuk asal, verbal
Mukjizat : kejadian luar biasa yang dialami nabi yang di
luar jangkauan akal manusia
Rida : rela, suka, senag hati
Risalah : ringkasan yang dikirimkan, surat edaran,
notulensi rapat, keterangan ringkas tentang suatu bahasan ilmu pengetahuan
Tarikh : Penanggalan, perhitungan tantang tanggal,
penanda waktu
Tasrif : Sistem perubahan bentuk kata dalam bahasa arab
yang menandakan waktu, pelaku dan, pekerjaan, benda atau keterangan
Lampiran 4
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Wahid Ramli. Ulumul Qur’an, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2002
Ahad Syadali,. Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an 1, CV Pustaka
setia abadi, Bandung, 1997
Ahmad Syadali. ‘Ulumul Qur’an I. Cet. I; Bandung: Pustaka
Setia, 1997.
Al-Alwi Sayyid Muhammad Ibn Sayyid Abbas, Faidl
Al-Khobir, Al-Hidayah, Surabaya
Al-Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Litera
Antar Nusa, Jakarta, 2000
Al-Shalih, Shubhi, Mabahits fi ‘Ulum al-Quran, Dar al
‘Ilm Li al-Malayin, Beirut, 1977
Al-Shobuny, Mohammad Aly, at-Tibyan fi Ulumil Qur’an,
Alam al-Kitab, Beirut
al-Suyuti, Jalaluddin, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Cet.I;
Beirut: Muassasah al-Risalah, 2008
Al-Salih, Subhi, Membahas Ilmu – Ilmu Hadis. Pustaka
Firdaus: Jakarta, 2000.
Al-Zarqany, Muhammad Abd al-Azhim, Manahil al-Irfan fi
Ulum al-Qur’an, Juz I, Isa al-Baby al-Halaby wa Syirkah, Mesir
Factur Rahman. Ikhtisar Musthalahul Hadis. Al-Ma’rif,
Bandung, 1985
Hasbi ash-Shidiqi, Tengku Muhammad, Sejarah dan Pengantar
Ilmu Hadis, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2009
Hudhari Bik, Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, (Terj. Mohammad
Zuhri, Rajamurah Al-Qanaah), 1980,
Ismail, Muhammad Bakri, Dirasat fi Ulum al-Qur’an, Cet.
II; Kairo: Dar al-Manar, 1999
Jalal al-Din ‘Abd al- Rahman ibn Abi bakr al-Suyuthi,
Tadrib al-RAwi fi Syarh Taqrib an- Nawawi, jilid 1, Beirut: Dar al-Fikr
Kahar Masyur, Pokok-pokok Ulumul Qur’an,Rineka Cipta,
Jakarta, 1992
Kamaluddin Marzuki, Ulumul Quran, PT Remaja Rosda Karya,
Bandung, 1994
Khatib, Al.M. Ajjaj. Al Sunah Qobla Al Tadwin.Dar Al
Fikr: Beirut, 1997
Mana’ul Quthan, Pembahasan ilmu Al-Qur’an, PT Rineka
cipta, Jakarta, 1993
M. Hasbi Ashshiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu
alqur’an dan Tafsir, PT Bulan Bintang, Jakarta, 1992
Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, Dana Bakti
Primayasa, Yogyakarta, 1998
M. Quraish Shihab, ‚Membumikan‛ Al-Qur’an: Fungsi dan
Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Cet. XIX; Bandung: Mizan, 1999)
Muhammad Ahmad &
M. Mudzakir, Ilmu Hadis (Cet – 10), Pustaka Setia, Bandung, 2000
Muhammad Ahmad. Ulumul Hadis. Pustaka Setia, Bandung,
2004
Nawir Yuslem. MA, ulumul Hadis, Mutiara sumber widya, Jakarta
2001
Rofi’i, Ahmad & Ahmad Syadali. Ulumul Quran Pustaka
Setia, Bandung 1997.
Subhi Ash-Shalih, Membahas ilmu-ilmu Al-quran, terjemah
Nur Rakhim, Pustaka Firdaus Jakarta, 1993
Suparta, Munzier. Ilmu Hadis, Raja Grapindo: Jakarta,
2002
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy Sejarah dan
Pengantar Ilmu Hadis, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 1998
Zarkasih, M.Ag.,
Pengantar Studi Hadis, Aswaja Presindo, Yogyakarta, 2012
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar