MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH
MATA PELAJARAN : AKIDAH AKHLAK
BAB 6 : INDAHNYA ASMA’UL HUSNA
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Madrasah : MA Muhammadiyah Blabak
Nama
Penyusun : Kuni Hiriyanti, S. Pd
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Kelas / Fase Semester :
X/ E / 2
Elemen : Indahnya Asma’ul Husna
Alokasi waktu : 6 X pertemuan ( 1 x 45 menit )
Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, dalam elemen akidah,
peserta didik mampu menganalisis sifat wajib dan mustahil bagi Allah Swt. (nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah) dan sifat-sifat jaiz Allah
Swt., asma' al-Husna, Islam wasathiyah (moderat) dan Islam radikal.
Pada elemen akhlak, peserta didik membiasakan akhlak terpuji (taubat, hikmah, iffah, syaja 'ah dan 'adalah);dan menghindari akhlak tercela
(hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, riya' dan sifat-sifat turunannya, nafsu
syahwat, licik, tamak, zhalim, dan
diskriminatif, għadlab); serta cara
menundukkannya melalui mujahadah, riyadlah, dan tazkiyatun nufus. Pada
elemen adab peserta didik mampu menganalisis dan membiasakan adab mengunjungi
orang sakit, berbakti kepada orang tua dan guru berdasarkan dalil dan pendapat
ulama. Dalam elemen kisah teladan, peserta didik mampu menganalisis dan
mengambil ibrah dari kisah Nabi Luth a.s. dalam kehidupan sehari-hari.
|
Elemen |
Capaian Pembelajaran |
|
Akidah |
Peserta didik mampu
menganalisis sifat wajib, mustahil Allah Swt. (nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah) dan sifat jaiz Allah Swt., asma' al-husna (al-Karim, al-Mu'min, al-Wakiil, al- Matiin, al-Jaami,
al-Hafiz, al-Rafi', al-Wahhab, al-Rakib, al-Mubdi, al-Muhyi, al-Hayyu,
al-Qoyyum, al-Akhir, al-Mujib, dan al-Awwal,
dan nama lainnya), serta pemahaman Islam wasathiyah (moderat) sebagai upaya membentuk sikap moderasi
beragama dalam akidah dan muamalah untuk mewujudkan harmoni kehidupan
berbangsa dan bernegara yang berkebinekaan. |
|
Akhlak |
Peserta didik mampu
menganalisis akhlak terpuji-hikmah,
iffah, syaja 'ah, dan 'adalah; menghindari akhlak tercela hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, riya, dan sifat-sifat turunannya,
serta syahwat, ghadlab, licik,
tamak, dzalim, dan diskriminatif, melalui tazkiyatun
nufus dengan cara mujahadah dan
riyadlah, sehingga terbentuk
pribadi yang memiliki kesalehan individual dan sosial dalam menjalankan
kehidupan berbangsa dan bernegara. |
|
Adab |
Peserta didik mampu
membiasakan dan mengevaluasi adab berbakti kepada orang tua dan guru,
mengunjungi orang sakit berdasarkan dalil dalam konteks kehidupan global
sehingga terbentuk pribadi yang peduli dan santun dalam kehidupan
sehari-hari. |
|
Kisah Keteladanan |
Peserta didik mampu
meneladani kisah Nabi Luth a.s. dalam kesabaran, ketangguhan dan ke beranian
dalam menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar, sehingga dapat diambil inspirasi
dalam menghadapi tantangan kehidupan yang hedonis, materialistis dan sekuler
di era global. |
B Kompetensi Awal
Beragam cara ditempuh oleh manusia untuk mendekatkan diri
pada Sang Pencipta yaitu Allah Swt. Cara tersebut ada yang ditempuh melalui
jalan merenung atau ber-tafakkur dan ada pula yang melalui berdzikir.
Kedekatan hamba dengan Tuhannya tentu
saja akan mengantarkannya mendapatkan berbagai fasilitas hidup, yaitu
kesenangan dan kenikmatan yang tiada tara. Sebagaimana apabila anak dekat dengan
orang tua, pegawai dekat dengan pimpinannya, siswa dekat dengan gurunya, maka
akan mudah sekali mendapatkan kasih sayang dan dikabulkan permintaanya. Salah
satu cara untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah dengan berdzikir dan salah
satu cara untuk dikabulkannya permohonan dengan berdoa. Sedangkan adab berdoa
agar mudah dikabulkannya permohonan adalah diawali memuji kepada allah
sedangkan pujian yang paling baik adalah dengan menyebut-nyebut namanya yaitu
Asma’ul Husna .
Maka bukan hanya setelah shalat saja
berdzikir asma’ul Husna itu dilakukan, tetapi sangatlah tepat apabila Asma’ul
Husna itu dibaca ketika akan memulai pelajaran di waktu pagi, karena ilmu itu berasal
dari Allah Yang Maha Suci, maka ilmu akan mudah diterima oleh orang-orang yang
mau mendekatkan diri kepada-nya, dengan memperbanyak menyebut-nyebut nama-Nya
yaitu al-Asma’ al-Husna.
C. Profil Pelajar Pancasila
(PPP) dan Pelajar Rahmatan lil Alamin (PRA)
§ Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai
adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis
dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global.
§ Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin yang ingin dicapai adalah taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh.
D. Sarana dan Prasarana
Media : LCD proyektor,
komputer/laptop, jaringan internet, dan lain-lain
Sumber
Belajar : LKPD, Buku Teks, laman
E-learning, E-book, dan lain-lain
E. Target Peserta Didik
Peserta didik cerdas istimewa berbakat dan peserta didik regular
F. Model DAN METODE
Pembelajaran
Model
Pembelajaran : Discovery learning
Metode
Pembelajaran : Karya kunjung, market of place, demonstrasi
KOMPETENSI INTI
A. Tujuan Pembelajaran
§ Menafsirkan
pengertian al-Asma’ alhusna
§ Menafsirkan
arti dan makna al-Asma` al-Husna (al-Kariim, al-Mu’min, al- Wakiil,
al-Matiin, al-Jaami‘, al-Hafiidz, al-Rofii’, al-Wahhaab, al-Rakiib, al- Mubdi’,
al-Muhyi, al-Hayyu,al- Qoyyuum, al-Aakhir, al-Mujiib, dan al- Awwal)
§ Menelaah
dalil (al-Qur’an atau Hadits ) tentang al-Asma` al-Husna (al-Kariim, al-Mu’min,
al-Wakiil, al-Matiin, al- Jaami‘, al-Hafiidz, al-Rofii’, al- Wahhaab,
al-Rakiib, al-Mubdi’, al- Muhyi, al-Hayyu,al-Qoyyuum, al- Aakhir, al-Mujiib, dan
al-Awwal)
§ Menganalisis
makna al-Asma` al-Husna (al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al- Matiin,
al-Jaami‘, al-Hafiidz, al-Rofii’, al-Wahhaab, al-Rakiib, al-Mubdi’, al- Muhyi,
al-Hayyu,al-Qoyyuum, al- Aakhir, al-Mujiib, dan al-Awwal)
§ Mengidentifikasi
contoh perilaku seharihari yang mencerminkan makna al- Asma` al-Husna (al-Kariim,
al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami‘, al- Hafiidz, al-Rofii’, al-Wahhaab,
al- Rakiib, al-Mubdi’, al-Muhyi, al- Hayyu,al-Qoyyuum, al-Aakhir, al- Mujiib, dan
al-Awwal)
§ Mempresentasikan
hasil analisis tentang makna al-Asma` al-Husna (al-Kariim, al-Mu’min,
al-Wakiil, al-Matiin, al- Jaami‘, al-Hafiidz, al-Rofii’, al- Wahhaab,
al-Rakiib, al-Mubdi’, al- Muhyi, al-Hayyu,al-Qoyyuum, al- Aakhir, al-Mujiib, dan
al-Awwal)
B. Pemahaman Bermakna
§ Menganalisis
makna al-Asama’u
al-husna (al-Kariim, al-Mukmin,al-Wakiil, al- Matiin, al-Jami’, al- Hafiidz,
al-Rafii’al-Wahhaab, al-Rakiib, al-Mubdi’, al-Muhyi, al-Hayyu , al-Qayyuum,
al-Aakhir, al- Mujiib, al-Awwal)
§ Menyajikan
hasil analisis tentang makna al-Asama’u al-husna (al-Kariim,
al-Mukmin,al-Wakiil, al- Matiin, al-Jami’, al-Hafiidz, al-Rafii’,al-Wahhaab,
al-Rakiib, al-Mubdi’, al-Muhyi, al-Hayyu , al- Qayyuum, al-Aakhir, al-Mujiib,
al-Awwal)
C. Pertanyaan Pemantik
Guru menanyakan kepada peserta didik seputar
materi Indahnya Asma’ul Husna
D. Kegiatan Pembelajaran
PERTEMUAN KE-1
Pengertian al- Asma’ al- Husna
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Pengertian
al- Asma’ al- Husna |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Pengertian al- Asma’ al- Husna |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Pengertian al- Asma’ al- Husna |
|
Communication |
§ Peserta
didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal,
mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok
atau individu yang mempresentasikan |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Pengertian al- Asma’ al- Husna |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
PERTEMUAN KE-2
Mengkaji 16 Asma’ul Husna
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Mengkaji
16 Asma’ul Husna |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Mengkaji 16 Asma’ul Husna |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Mengkaji 16 Asma’ul Husna |
|
Communication |
§ Peserta
didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal,
mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok
atau individu yang mempresentasikan |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Mengkaji 16 Asma’ul Husna |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
E. Pembelajaran Diferensiasi
§ Untuk siswa yang sudah memahami materi ini
sesuai dengan tujuan pembelajaran dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh,
disarankan untuk membaca materi Indahnya Asma’ul Husna dari
berbagai referensi yang relevan.
§ Guru dapat menggunakan alternatif metode dan
media pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing agar pelaksanaan
pembelajaran menjadi lebih menyenangkan (joyfull
learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.
§ Untuk siswa yang kesulitan belajar topik ini,
disarankan untuk belajar kembali tata cara pada pembelajaran di dalam dan atau
di luar kelas sesuai kesepataan antara guru dengan siswa. Siswa juga disarankan
untuk belajar kepada teman sebaya.
F. ASESMEN / PENILAIAN
1. Asesmen Formatif (selama proses pembelajaran)
a. Asesmen
awal
Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam
memasuki pembelajaran, dengan pertanyaan:
|
No |
Pertanyaan |
Jawaban |
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
1 |
Apakah
pernah membaca buku terkait ? |
|
|
|
2 |
Apakah
kalian ingin menguasai materi pelajaran dengan baik ? |
|
|
|
3 |
Apakah
kalian sudah siap melaksanakan pembelajaran dengan metode inquiry learning,
diskusi ? |
|
|
b. Asesmen
selama proses pembelajaran
Asesmen ini dilakukan guru selama
pembelajaran, khususnya saat peserta didik melakukan kegiatan diskusi,
presentasi dan refleksi tertulis. Asesmen saat inquiry learning (ketika peserta didik melakukan kegiatan belajar
dengan metode inquiry learning)
Lembar kerja
pengamatan kegiatan pembelajaran dengan metade
inquiry learning
|
No |
Nama Siswa |
Arpak yang diamati |
Skor |
|||||
|
Gagasan |
Aktif |
Kerjasama |
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai akhir x 25 |
||||||||
2. Asesmen Sumatif
a. Asesmen
Pengetahuan
Soal Asesmen Pengetahuan
A) Jawablah
pertanyaan berikut ini!
1. Al-Asma’
al-Husna secara bahasa berasal dari dua kata ”asma” yang berarti nama atau penyebutan
dan ”Husna” berarti yang indah dan baik. Jadi Al-Asma’ al-Husna adalah
nama-nama milik Allah yang baik dan indah. Nama Allah disini mengandung arti
yang tidak boleh disamakan dengan nama-nama yang dimiliki oleh manusia atau
makhluk lainnya. Jelaskan maksud dari pernyataan tersebut !
2. Apa tindakan
yang patut dilakukan oleh siswa agar tetap bisa mengamalkan Al-Asma’ al-Husna
al-Mu’min, ” ketika menyelesaikan soal ulangan tetapi tidak bisa menjawabnya”!
3. Salah satu
contoh meneladani asma Allah al-Hayyu adalah dengan mewujudkan hidup
yang bermakna, apa maksud hidup yang bermakna serta berikan contohnya!
4. Allah itu al-Kariim,
Maha Mulia, dengan kemuliaan-Nya Allah memuliakan para Nabi, malaikat, manusia,
dan makhluk lainnya, lalu bagaimanakah dengan kita, apakah sudah memuliakan
Allah? Apapun jawabannya berikan alasannya!
5. Jelaskan contoh
perbuatan yang patut dilakukan oleh siswa dalam rangka meneladani asma Allah al-Jaami’!
B) Portofolio
dan Penilaian Sikap
1. Carilah beberapa
ayat dan hadis yang berhubungan dengan asmaul husna dengan mengisi kolom di
bawah ini.
|
No |
Nama Surah + No.
Ayat/ Hadis + Riwayat |
Redaksi Ayat/ Hadis |
|
1 |
|
|
|
2 |
|
|
|
3 |
|
|
|
4 |
|
|
|
5 |
|
|
|
Dst |
|
|
2. Setelah kalian memahami uraian mengenai ajaran Islam
tentang asmaul husna coba anda amati perilaku berikut ini dan berikan komentar.
|
No |
Perilaku yang
diamati |
Tanggapan/ Komentar |
|
1 |
Siswa
kelas X Madrasah Aliyah selalu memulai kegiatan pembelajaran dipagi hari
dengan membaca asmaul husna |
|
|
2 |
Pak
Muhaimin tidak memperdulikan tetangganya yang hidup serba kekurangan |
|
|
3 |
Ali selalu datang paling awal di
sekolah |
|
|
4 |
Nurina sangat takut ketika mengingat
kematian |
|
|
5 |
Maisya
memberikan solusi kepada teman yang mendapat masalah |
|
b. Asesmen
keterampilan
1) Peserta
didik mempraktikkan berkenalan secara lisan dan tulis
Contoh rubrik
penilaian praktek:
Nama : …………………………………..
Kelas :
…………………………………..
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Kelancaran
(kompetensi gramatikal di aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
2 |
Ketepatan
(kompetensi gramatikal aspek nahwu sharaf) |
20 |
|
3 |
Isi
(kompetensi wacana dan sosiolinguistik) |
20 |
|
4 |
Ucapan/pelafalan
(kompetensi gramatikal aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
5 |
Gestur
(kompetensi strategi) |
20 |
|
Total |
100 |
|
Indikator
Penilaian aspek kelancaran (fluency)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
15 - 20 |
|
2 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
10 - 14 |
|
3 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
5 - 9 |
|
4 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek ketepatan (accuracy)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada kesalahan
gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
15 - 20 |
|
2 |
Tidak ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
10 - 14 |
|
3 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
5 - 9 |
|
4 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek isi
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi
khusus dari klasifikasi detail |
25 -30 |
|
2 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi
khusus dari klasifikasi kurang detail |
20 - 24 |
|
3 |
Memiliki
struktur teks deskriptif tidak lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari
klasifikasi kurang detail |
15 - 19 |
|
4 |
Memiliki
struktur teks deskriptif kurang lengkap (deskripsi umum dan deskripsi
khusus), deskripsi umum meliputi definisi, dan deskripsi khusus kurang sesuai |
10 - 14 |
|
5 |
Tidak ada
komponen struktur deskriptif |
1 - 9 |
Petunjuk penskoran:
Penghitungan skor akhir menggunakan rumus:
Skor Perolehan x 10 = ….
2) Peserta
didik membuat kartu nama
Contoh rubrik
penilaian produk kartu nama
|
No |
Nama Siswa |
Perencanaan Bahan |
Aspek Yang Dinilai |
Jml |
|||
|
Proses Pembuatan |
Hasil Produk |
||||||
|
Langkah pembuatan |
Teknik pembuatan |
Bentuk fisik |
Inovasi |
||||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan:
Skor antara 1 – 5
Aspek yang dinilai disesuaikan dengan tugas
yang diberikan
G. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Pengayaan
§ Pengayaan diberikan kepada
peserta didik yang telah mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.
§ Guru memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang lebih variatif dengan menambah keluasan dan
kedalaman materi yang mengarah pada high
order thinking
§ Program pengayaan dilakukan di luar
jam belajar efektif.
Remedial
§ Remedial diberikan kepada peserta didik yang
belum mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran
§ Guru melakukan pembahasan ulang terhadap
materi yang telah diberikan dengan cara/metode yang berbeda untuk memberikan
pengalaman belajar yang lebih memudahkan peserta didik dalam memaknai dan
menguasai materi ajar misalnya lewat diskusi dan permainan.
§ Program remedial dilakukan di luar jam
belajar efektif.
H. REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK
Refleksi Guru:
Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan
kegiatan pengajaran di kelas, misalnya:
§ Apakah semua peserta didik terlibat aktif
dalam pembelajaran iniv ?
§ Apakah ada kesulitan yang dialami peserta
didik?
§ Apakah semua peserta didik sudah dapat
melampaui target pembelajaran?
§ Sudahkan tumbuh sikap yang mencerminkan
profil pelajar pancasila dan profil pelajar rahmatal lil ‘alamin?
§ Apa langkah yang perlu dilakukan untuk
memperbaiki proses belajar?
Refleksi Peserta Didik:
|
No |
Pertanyaan Refleksi |
Jawaban Refleksi |
|
1 |
Bagian manakah yang menurut kamu hal paling sulit dari
pelajaran ini? |
|
|
2 |
Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki hasil
belajarmu? |
|
|
3 |
Kepada siapa kamu akan meminta bantuan untuk memahami
pelajaran ini? |
|
|
4 |
Jika kamu diminta untuk memberikan bintang 1 sampai 5,
berapa bintang yang akan kamu berikan pada usaha yang telah dilakukan |
|
|
|
LAMPIRAN- LAMPIRAN
Lampiran 1
LEMBAR KERJA PESERTA
DIDIK (LKPD)
Setelah
Anda mendalami materi, al-Asma’ al-Husna maka selanjutnya lakukanlah
diskusi dengan kelompok Anda! Bentuk kelompok kecil beranggotakan 1-3
siswa/kelompok, kemudian persiapkan diri untuk mempresentasikan hasil diskusi
tersebut di depan kelas.
Adapun
hal-hal yang perlu didiskusikan adalah sebagai berikut.
1. Menafsirkan arti
dan makna al-Asma` al-Husna (al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al- Matiin,
al-Jaami‘, al-Hafiidz, al-Rafii’, al-Wahhaab, al-Rakiib, al-Mubdi’, al-Muhyi,
al- Hayyu, al-Qayyuum, al-Aakhir, al-Mujiib, dan al-Awwal)
2. Menunjukkan
dalil (al-Qur’an atau Hadis ) tentang al-Asma` al-Husna (al-Kariim, al- Mu’min,
al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami‘, al-Hafiidz, al-Rafii’, al-Wahhaab, al-Rakiib,
al- Mubdi’, al-Muhyi, al-Hayyu,al-Qayyuum, al-Aakhir, al-Mujiib, dan al-Awwal)
3. Keutamaan
nilai-nilai dari al-Asma` al-Husna (al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al- Matiin,
al-Jaami‘, al-Hafiidz, al-Rafii’, al-Wahhaab, al-Rakiib, al-Mubdi’, al-Muhyi,
al- Hayyu,al-Qayyuum, al-Aakhir, al-Mujiib, dan al-Awwal)
4. Mengidentifikasi
contoh perilaku sehari-hari yang mencerminkan makna al-Asma` al- Husna
(al-Kariim, al-Mu’min, al-Wakiil, al-Matiin, al-Jaami‘, al-Hafiidz, al-Rafii’,
al- Wahhaab, al-Rakiib, al-Mubdi’, al-Muhyi, al-Hayyu,al-Qayyuum, al-Aakhir,
al-Mujiib, dan al-Awwal)
Lampiran 2
MATERI
BAHAN AJAR
1. Pengertian
al- Asma’ al-Husna
Dalam
Islam, mengetahui, memahami, dan meyakini nama-nama dan sifat-sifat Allah menempati
kedudukan yang sangat tinggi. Seseorang tidak mungkin menyembah Allah dengan
cara yang sempurna sampai ia benar-benar mengetahui dan meyakini nama-nama dan
sifat-sifat-Nya. Dengan dilandasi pengetahuan dan keyakinan terhadap nama dan sifat-Nya
itulah, seseorang dapat menyertakan mata hatinya (bashirah) saat
menyembah kepada Allah Swt.
”Hanya milik Allah al-Asma’ al-Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan
menyebut al-Asma’ al-Husna itu” (QS. al- A’raf [7] : 180)
Al-Asma’ al-Husna berasal dari bahasa Arab الۡسماء
اَلحسيى (al-Asma’ al-Husna) artinya nama-nama Allah yang indah
dan baik. Asma berarti nama (penyebutan) dan husna berarti yang baik atau yang
indah, jadi al-Asma’ al-Husna adalah nama-nama milik Allah yang baik dan
yang indah.
Al-Asma’ al-Husna secara harfiah adalah nama-nama, sebutan,
gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah
yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran
dan kehebatan milik Allah.
Nama-nama
Allah itu adalah nama yang baik dan sempurna, sedikitpun tidak ada kekurangannya
dan tidak boleh diserupakan dengan yang yang lainnya.
”Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia
mempunyai al asma’ul husna (nama-nama yang baik)” (QS. Taha [20] : 8)
Al-Asma’ al-Husna adalah nama-nama Allah yang indah. Jumlahnya
ada 99 nama, seperti tersebut dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari,
Muslim, al Turmudsi, dan Ibnu Majah dari Abu Hurairah bahwa Nabi Muhammad Saw.
bersabda :
“Sesungguhnya bagi Allah 99 nama, barang siapa yang menghafalnya ia akan
masuk surga. Dan sesungguhnya Allah itu ganjil (tidak genap) menyukai akan yang
ganjil” (HR. Imam Baihaqi).
2. Mengkaji
16 Asma’ul Husna
a. Al-
Kariim (Yang Maha Mulia)
Al-kariim artinya Yang Maha Mulia. Allah adalah Dzat Yang
Maha sempurna dengan kemuliaan-Nya, tidak dilebihi oleh siapapun selain-Nya.
Karena kemuliaan-Nya, Allah memiliki kebaikan yang tidak terbatas. Dia akan
memberi jika diminta, dan tetap memberi meski tidak diminta.
“Maka
Maha Tinggi Allah, raja yang sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan
(yang mempunyai) 'Arsy yang mulia” (QS. al-Mu’minun [23] :116)
Karena
kemuliaan-Nya itu pula, Allah memuliakan al-Qur’an, malaikat, para Nabi dan
juga manusia. Jibril, malaikat yang menyampaikan kitab Allah kepada Nabi Saw, adalah
utusan yang mulia, Rasulullah Saw. juga seorang Nabi yang mulia, begitu pula dengan
anak-anak Adam lainnya.
”Dan
Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan
dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka
dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan”
(QS.al-Isra’ [17] :70)
Dengan
memahami dan menghayati makna al-Asma’ al-Husna al-Kariim, maka hendaknya
kita memiliki budi pekerti yang luhur, diantaranya adalah:
1) Menghiasi diri
dengan akhlak yang baik
2) Menjaga
kehormatan diri
3) Memuliakan para
Rasul, Malaikat, kitab Allah dan semua makhluk ciptaan Allah. Sehingga kita
bisa mulia di sisi Allah maupun di sisi manusia
b. Al-
Mukmin (Yang Maha Keamanan)
Al-Mukmin artinya Yang Maha Memberi Keamanan. Allah adalah
satu-satunya dzat yang memberi rasa aman, ketenangan dalam hati manusia.
”Dia-lah
yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan
mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada)” (QS. Al- Fath
[48] :4)
Manusia
secara pribadi atau kelompok akan selalu berusaha memperoleh rasa aman dengan
cara yang berbeda-beda. Padahal hakikat rasa aman itu sebenarnya hanya dari Allah.
Pasalnya Allah Swt. adalah tempat berlindung para hamba dari rasa takut. Salah satu
rasa aman yang diberikan Allah kepada hamba-Nya adalah rasa aman dari siksa dunia
dan akhirat.
”Dialah
Allah yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, yang Maha Suci, yang Maha Sejahtera, yang
Mengaruniakan Keamanan, yang Maha Memelihara, yang Maha perkasa, yang Maha Kuasa,
yang memiliki segala Keagungan, Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”
(QS.al-Hasyr [59] :23)
Dengan
memahami dan menghayati makna Asma’ul Husna al-Mu’min seharusnya kita
meneladani sifat Allah tersebut, yaitu:
1) Memberikan rasa
aman
2) Menjadi pribadi
yang bisa dipercaya dan menjauhi sifat khianat
3) Menunjukkan
sikap yang ramah dan sopan santun kepada sesama
4) Menciptakan
lingkungan keluarga, tetangga, dan masyarakat yang kondusif
5) Mengembangkan
pemikiran yang baik dan positif bagi sesama
c. Al-
Wakil (Yang Maha Mewakili)
Al-Wakil artinya Yang Maha Mewakili. Allah adalah al-Wakil. Dia
yang paling tepat untuk mewakili dan menangani segenap urusan makhluk. Allah
adalah Dzat yang bertanggungjawab atas semua makhluk. Dia menciptakannya dari
ketiadaan, lalu mengawasi dan menjaga mereka. Selayaknyalah Allah menjadi tempat
bergantung bagi para makhluk-Nya.
”Dan bertawaklallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara”
(QS. Al-Ahzab [33] :3)
Dalam
bertawakkal, manusia masih tetap dituntut untuk melakukan sesuatu sampai batas
kemampuannya, bukan berarti menyerahkan begitu saja segala sesuatu kapada Allah,
tetapi penyerahan tersebut harus didahului dengan usaha yang maksimal.
Setelah
memahami dan menghayati makna Asma’ul Husna al-Wakiil maka marilah kita
meneladaninya dengan cara:
1) Berserah diri
kepada Allah
2) Bersyukur
kepada-Nya
3) Menjadikan Allah
sebagai sumber kekuatan dan pengharapan
4) Tidak berputus
asa dalam berdoa dan bekerja
5) Berupaya menjadi
pribadi yang memiliki kredibilitas
6) Menjiwai setiap
ikhtiar atau perbuatannya dengan mengharap keridhaan-Nya
d. Al-
Matin (Yang Maha Kukuh)
Al-Matiin artinya Yang Maha Kukuh. Tiada sesuatupun yang
dapat mengalahkan dan mempengaruhi-Nya. Imam al- Khattabi memaknai al-Matiin
sebagai Dzat Yang Maha Kuat yang kekuatan-Nya tidak dapat terbendung,
tindakantindakan- Nya tidak terhalangi dan tidak pernah merasa lelah.
”Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan
lagi sangat kukuh” (QS. adz-Dzariyat [51] :38)
Allah
Maha Kukuh. Kukuh kekuasan-Nya, kukuh kehendak-Nya, kukuh dalam
sifat-sifat-Nya. Bagi kita sebagai hamba-Nya, hendaknya kekukuhan Allah menjadi
landasan sikap kita sekurang-kurangnya untuk teguh memegang prinsip kebenaran,
memiliki keinginan yang kuat, tidak tergoda untuk menerima atau mencari rezeki
secara batil, konsekuen dalam membela kebenaran, menjadi manusia yang tawakkal,
memiliki kepercayaan dalam jiwanya dan tidak merasa rendah di hadapan manusia
lain, karena hanya Allah lah Yang Maha Kuat dan Maha Kukuh
e. Al-
Jami’ (Yang Maha Mengumpulkan)
Al-Jami’ artinya Yang Maha Mengumpulkan. Allah adalah Dzat yang
mengumpulkan semua makhluk pada hari kiamat. Menurut Imam Khattabi, tujuan
Allah mengumpulkan makhluk pada hari itu adalah untuk membalas kebaikan dan
keburukan yang dilakukan para makhluk. Pada saat Allah mengumpulkan para
makhluk, tidak ada satupun yang luput. Baik makhluk yang meninggal terbakar,
yang dilumat binatang buas atau yang tenggelam di lautan.
‘’Katakanlah "Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan
kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan
padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui” (QS.
al-Jatsiyah [45] : 26)
Pada
hari itu, yang paling bahagia adalah orang-orang mukmin, yaitu mereka yang beriman
kepada Allah, hari akhir, dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Dengan memahami
dan menghayati makna Asma’ul Husna al-Jaami’ maka akan membuat kita sadar
bahwa kita suatu saat akan mati dan akan dikumpulkan di sebuah tempat yang bernama
padang mahsyar untuk menerima keputusan dan balasan atas perbuatan kita.
Maka
hendaklah kita meneladani asma Allah al-Matin yaitu dengan:
1) Hiduplah secara
berjamaah (bersatu)
2) Menghimpun
potensi positif diri
3) Mendukung upaya
terwujudnya persatuan ummat Islam dunia
f. Al-
Hafidz (Yang Maha Pemelihara)
Al-Hafidz artinya Yang Maha Pemelihara. Allah Maha Hafiidz
berarti Allah sebagai Dzat Yang Maha memelihara. Allah lah yang memelihara
seluruh makhluk-Nya, termasuk langit dan bumi yang kita huni ini.
”Dan
Kami menjadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, sedang mereka
berpaling dari segala tandatanda (kekuasaan Allah) yang terdapat padanya” (QS.Al-Anbiya’
[ 21 ]:32)
Asy-Syaikh
Muhammad Khalil al-Harras dalam Syarh Nuniyyah Ibnul Qayyim, mengatakan
asma Allah al-Hafidz, memiliki dua makna yang pertama, bahwa Dia
menjaga/memelihara apa yang dilakukan oleh hamba-Nya berupa amal baik atau amal
buruk, yang makruf atau yang mungkar, taat atau maksiat.
Yang
kedua bahwa Allah adalah al-Hafidz, yakni yang menjaga hamba-hamba-Nya dari
segala hal yang tidak mereka sukai. Allah menghendaki agar manusia mampu mengambil
keteladanan dari sifat-Nya itu. Sebab, Dia telah menganugerahkan potensi kepada
kita untuk dapat melakukannya, maka marilah kita memelihara dan menjaga keimanan
kita kepada Allah, memelihara kebaikan, ketaatan, kemurnian niat dengan mengharap
keridhaan Allah.
g. Al-
Rafi’ (Yang Maha Meninggikan)
Al-Rafi’ artinya Yang Maha Meninggikan. Allah al- Rafi’ artinya
Dzat Yang Maha mengangkat atau meninggikan derajat hamba-hamba-Nya. Allah meninggikan
status para kekasih-Nya serta memberi mereka kemenangan atas musuh-musuh-Nya.
Imam
al-Ghazali memaknai al-Rafii’ sebagai Dzat yang meninggikan orang-orang
mukmin dengan kebahagiaan dan surga, serta meninggikan para wali-Nya dengan
kedekatan kepada-Nya.
”Niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orangorang yang
diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat.” (QS. al Mujadilah [58]:11)
Allah
Maha meninggikan derajat siapa saja yang dikehendaki-Nya. Karena-Nya tinggikanlah
agama Allah dalam berbagai aspek kehidupan agar Allah pun meninggikan derajat
kita sebagai hamba-Nya. Bekerja dan berusahalah secara sungguh-sungguh, meningkatkan
kemampuan diri, disiplin, serta menjunjung tinggi profesionalisme dan tanggung
jawab
h. Al-
Wahhab (Yang Maha Pemberi)
Al- Wahhab artinya Yang Maha Pemberi. Allah al- Wahhab
adalah Dzat yang maha memberi tanpa batas, Dia memberi tanpa diminta, dan tanpa
meminta balasannya. Dia Allah, memberikan rahmat kepada makhluk-Nya tanpa
pamrih, karena Dia tak membutuhkan apapun kepada makhluk-Nya. Imam al- Ghazali
mengatakan bahwa Dia memberi berulang-ulang, bahkan berkesinambungan, tanpa
mengharapkan imbalan, baik duniawi maupun ukhrawi. Allah adalah Dzat yang
memberi hidup dan kehidupan, memberi karunia pada kita berupa kecukupan, kesehatan,
dan kekuatan. Dialah Dzat yang telah memberi kita otak, hati, pendengaran dan
penglihatan, kebahagiaan, keberhasilan, di samping makanan dan minuman,
pasangan dan keturunan dan lain sebagainya.
Di
antara pemberian Allah yang paling agung adalah petunjuk-Nya kepada kebenaran, yang
telah diturunkan kepada hamba dan Nabi-Nya, Muhammad Saw. Demikianlah Allah mengajarkan
agar dalam setiap rakaat shalat, kita selalu membaca:
”Tunjukilah
Kami jalan yang lurus” (QS.al-Fatihah[1]:6)
Maka
sebagai makhluk yang mau mengimani asma Allah al-Wahhaab jangan pernah
bosan memohon karunia kepada-Nya, niscaya Allah pun tak kan bosan mencurahkan
karunia-Nya pada kita.
(Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami
condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan
karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya
Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)" (QS. Ali Imron[3]:8)
Hendaklah
kita senang memberi terutama pada orang-orang yang membutuhkan, dan dalam
memberi hendaknya kita tidak menghitung-hitung, termasuk dalam memberikan harta
kepada sesama yang membutuhkan.
i. Al-
Raqib (Yang Maha Mengawasi)
Al-Raqib artinya Yang Maha Mengawasi. Al-Raqib, Maha
Mengawasi, Allah yang menjadikan hamba-Nya selalu berada dalam pengawasan-Nya.
Syaikh ’Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata: ”al-Raqib adalah Dzat yang
maha memperhatikan dan mengawasi semua hamba-Nya ketika mereka bergerak
(beaktifitas) maupun ketika mereka diam, (mengetahui) apa yang mereka
sembunyikan maupun yang mereka tampakkan, dan (mengawas) semua keadaan mereka.
”Kamu
tidak mengerjakan suatu pekerjaan, melainkan Kami menjadi saksi atasmu di waktu
kamu melakukannya.” (QS. Yunus[10]:61)
Pengawasan
Allah bersifat menyeluruh dan total. Dia menjaga segala sesuatu, mengawasinya,
hingga tak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya. Dengan memahami dan menghayati
asma Allah al-Rakiib, akan tumbuh dalam diri seseorang pengawasan dan kontrol
terhadap perbuatan lahiriah maupun batiniahnya. Hal ini karena dia menyadari bahwa
Allah mengawasi semuanya, yang lahir ataupun yang batin, yang besar ataupun yang
kecil, ucapan ataupun perbuatan, bahkan juga niat.
j. Al-
Mubdi’u (Yang Maha Memulai)
Al-Mubdi’u artinya Yang Maha Memulai. Allah, Dia lah
yang memulai semuanya. Memulai keberadaan alam beserta isinya melalui
kemampuan-Nya mencipta. Dia menciptakan sesuatu dari tiada, maka wujudlah
segala yang dikehendaki-Nya. Sebagaimana diciptakan Nabi Adam sebagai manusia
yang paling awal diciptakan oleh Allah Swt.
”Allah
menciptakan (manusia) dari permulaan, kemudian mengembalikan (menghidupkan)nya
kembali; kemudian kepadaNyalah kamu dikembalikan” (QS. al-Rum [30] :11)
Allah
menciptakan alam dan manusia dengan sempurna dan sebaik-baiknya, tanpa ada
contoh sebelumnya. Coba kita bayangkan bagaimana Allah menciptakan makhluk hidup
disertai dengan bernacam-macam perkembangannya, agar mereka tidak cepat punah.
”Dan Apakah mereka tidak memperhatikan
bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian mengulanginya
(kembali). Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah” (QS.
al-Ankabut[29]:19)
Allah
Maha Memulai, maka marilah kita meneladaninya dengan memulai untuk banyak
berbuat, dan mulai mempersiapkan diri dalam segala hal.
k. Al-
Muhyi (Yang Maha Menghidupkan)
Al-Muhyi artinya Yang Maha Menghidupkan. Allah menciptakan
manusia, menghidupkan, mematikan, kemudian menghidupkan kembali pada hari
kiamat. Tidak ada yang menciptakan kehidupan dan kematian kecuali hanya Allah
Swt.
”Dan
Dialah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian
menghidupkan kamu (lagi), Sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat
mengingkari nikmat” (QS. al-Hajj [22]:66)
Allah
menganugerahkan hidup bagi manusia dengan beraneka kualitas kehidupannya, tergantung
tingkat keimanan masing-masing.
”Barangsiapa
yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan
beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan
Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik
dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS. an-Nahl [16]:97)
Bagi
orang-orang munafik dan kaum kafir, Allah menjadikan kualitas hidup mereka rendah
dalam pandangan-Nya. Kemudian pada hari kiamat nanti, mereka akan dibangkitkan
dalam keadaan jauh lebih hina dan hidup dalam siksa derita.
Dengan
mengimani bahwa Allah lah yang Maha Menghidupkan, kita mengetahui betapa
besarnya kemampuan Allah, karena Dia lah yang menghidupkan segala sesuatu.
Maka
hendaklah seseorang selalu menyerahkan dan menggantungkan segala urusannya kepada
Allah dan kembali kepada-Nya dengan menghidupkan segala petunjuk dengan perbuatan
ta’atnya. Menghidupkan syi’ar Islam dalam kehidupan, menghidupkan semangat
untuk maju, menghidupi diri sendiri, orang tua dan keluarga,dan lain sebagainya.
l. Al-
Hayyu (Yang Maha Hidup)
Al-hayyu artinya Yang Maha Hidup. Allah adalah Dzat yang tak
mungkin mengalami kematian. Sifat hidup-Nya merupakan sifat yang niscaya,
mutlak dan tidak mengalami penyusutan, kerusakan atau peniadaan.
”Dan
bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) yang tidak mati, dan
bertasbihlah dengan memuji-Nya. dan cukuplah Dia Maha mengetahui dosa-dosa
hamba-hamba- Nya” (QS. al-Furqan [25]:58)
Hidupnya
Allah berbeda dengan hidupnya makhluk. Allah hidup tanpa kaif (bagaimana
caranya) dan juga tanpa aina (di mana [di mana tempatnya] ). Dia tidak
ada dalam sesuatu dan tidak ada di atas sesuatu. Kehidupan Allah terlepas dari
pembatasan waktu, tidak seperti kehidupan makhluk yang diusahakan dan diabatasi
oleh titik permulaan dan titik akhir.
Allah
Maha Hidup (al-Hayyu). Dengan sifat-Nya itu, Dia seolah ingin menegaskan
kepada hamba-Nya mengenai pentingnya memaknai hidup yang dijiwai oleh keimanan kepada-Nya.
Seorang hamba yang meneladani asma Allah al-Hayyu, selalu menjadikan Allah
sebagi pusat ketergantungan dan ketundukan dalam segala usaha dan permohonan.
Ia
meyakini bahwa Allah lah yang memberikan kehidupan dan yang mengurus kehidupannya.
Maka dengan kemandirian dan usaha maksimal, ia terus meraih hidup yang
bermakna, menghargai hak hidup orang lain, membantu sesama dalam memenuhi hak
hidup
m. Al-
Qayyum (Yang Maha Berdiri Sendiri)
Al-Qayyum artinya Yang Maha Berdiri Sendiri. Allah al-Qoyyum
adalah Dzat yang maha mengelola dan tidak pernah alpa. Al-Qoyyum bersifat
hiperbolis, memiliki makna ”memelihara”, mengaktualisasikan”, ”mengatur”, ”mendidik”,
”mengawasi”, dan ”menguasai sesuatu”.
Pengelolaan
terhadap semesta ini dilakukan Allah secara sendirian, tanpa bantuan atau
pertolongan siapapun, baik pertolongan para malaikat, para penyangga ’Arsy dan
seluruh penghuni langit dan bumi .
Asy-Syaikh
al-Harras menjelaskan bahwa al-Qayyum memiliki dua makna:
Pertama, Dia yang berdiri sendiri dan tidak membutuhkan seluruh
makhluk, sehingga tidak butuh sesuatu pun, baik dalam hal adanya maupun dalam
hal eksistensi- Nya.
Kedua, Dialah yang selalu mengatur makhluk-Nya. Dia selalu
mengatur dan memperhatikan urusan makhluk-makhluk-Nya, tidak mungkin Dia luput sesaatpun
dari mengawasi mereka, kalau tidak demikian maka akan kacau aturan alam dan
akan hancur tonggak-tonggaknya.
”Allah,
tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus
menerus mengurus (makhluk-Nya)” (QS. al-Baqarah[2]: 255)
Setelah
memahami dan menghayati asma Allah al- Qayyum, hendaknya kita menyadari
bahwa, Allah Yang Maha Berdiri sendiri telah menunjukkan kekuasaan serta keagungan-Nya.
Maka seyogyanya kita mampu memaknainya dan meneladaninya dengan berusaha untuk
menjadi pribadi yang mandiri, menghargai jerih payah, kerja keras, serta kesungguhan
orang lain dalam melakukan suatu kebaikan.
n. Al-
Akhir (Yang Maha Akhir)
Al-Akhir artinya Yang Maha Akhir, yang tidak ada sesuatu pun
setelah Allah Swt. Allah al-Akhir menunjukkan bahwa Allah adalah Dzat
yang ”mengakhiri” segalanya. Allah lah Tuhan, tiada Tuhan setelah-Nya. Allah
lah sang Pencipta, tiada Sang Pencipta setelah-Nya. Allah lah penentu kehidupan
manusia, tiada Penentu selain-Nya.
”Dialah
yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui
segala sesuatu” (QS. al-Hadid [57] :3)
Sebagai
Dzat Yang Maha Akhir, Allah Swt. akan tetap abadi dan kekal. Keabadian dan
kekekalan Allah Swt. menunjukkan bahwa Dialah satu-satunya tempat bergantung atas
segala urusannya, baik urusan dunia maupun urusan yang akan kita bawa sampai ke
akhirat kelak. Sungguh sangat merugi orang-orang yang menggantungkan hidupnya
pada selain Allah, karena sesungguhnya setiap yang ada di langit dan bumi ini
akan hancur.
Akan
tetapi jika kita bersandar penuh pada sang Maha Kekal, pastinya kita tidak akan
hancur dan terjerumus dalam kesesatan. Orang yang mengesakan al-Akhir akan
menjadikan Allah Swt. sebagai satu-satunya tujuan hidup yang tiada tujuan hidup
selain- Nya, tidak ada permintaan selain-Nya, dan segala kesudahan hanya
tertuju kepada-Nya.
Setelah
memahami dan meyakini bahwa Allah adalah al-Akhir, kita menyadari bahwa tujuan
akhir kita adalah kembali kepada Allah Swt. maka sejatinya tidak menunda-nunda dalam
berbuat kebaikan. Justru, kita harus berusaha menyegerakan dan memperbanyak amal
saleh sebagai persiapan dalam menghadapi kehidupan yang abadi di akhirat kelak.
o. Al-
Mujib (Yang Maha Mengabulkan Doa)
Al-Mujib artinya Yang Maha Mengabulkan Doa. Al- Mujib adalah
nama Allah yang dengan sifat ini Dia mengabulkan atau memperkenankan semua
permintaan atau permohonan hamba-Nya.
Ibnul
Qayyim rahimahullah berkata, ”Dialah al-Mujib. Dia mengatakan. ’Siapa yang
berdoa,’ Akulah yang menjawab setiap orang yang memanggil-Ku.’ Dialah yang
mengabulkan doa orang yang terhimpit ketika memohon kepada-Nya, dalam keadaan
tersembunyi atau terangterangan.”
Menurut
Imam al-Ghazali, al-Mujib yaitu yang menyambut permintaan para peminta dengan
memberinya, menyambut doa yang berdoa dengan mengabulkannya, memberi sebelum
dimintai dan melimpahkan anugerah sebelum dimohonkan. Hal ini hanya bisa dilakukan
oleh Allah karena Dia lah yang mengetahui kebutuhan dan hajat setiap makhluk.
Itu sebabnya Allah menyuruh kita berdoa kepada-Nya :
Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan
Kuperkenankan bagimu.
Seorang
hamba yang meneladani asma Allah al-Mujib, akan selalu memenuhi seruanseruan Allah
dan rasul-Nya. Ia juga tak pernah bosan memohon kepada Allah. Iya sadar bahwa
doa merupakan ibadah. Doa merupakan titik temu terdekat antara hamba dengan Rabbnya.
Doa adalah senjata, benteng, obat dan pintu segala kebaikan. Ia juga akan selalu
berusaha untuk memenuhi permintaan orang lain, selama dalam batas kemampuannya
dan tidak bertentangan dengan syari’at, baik materi ataupun non materi.
Rasulullah
Saw. Pun menunjukkan bahwa beliau tidak pernah menolak permohonan yang ditujukan
kepadanya
p. Al-
Awwal (Yang Pertama)
Al-Awwal artinya Yang Pertama. Allah al-Awwal adalah Dia
lah Yang Pertama. Namun Dia juga Yang Terakhir. Hal ini sebagaiman ditegaskan
dalam al- Qur’an :
”Dialah
yang Awal dan yang akhir yang Zhahir dan yang Bathin dan Dia Maha mengetahui
segala sesuatu” (QS. al- Hadid [57] :3)
Imam
Ali bin Abi Thalib melukiskan sifat Allah al-Awwal yaitu”Dia yang
awal yang bagi-Nya tiada’sebelum’, sehingga mustahil ada sesuatu sebelum-Nya”.
Allah al-Awwal berarti Allah yang mengawali semuanya. Keberadaan alam
ini beserta isinya diawali oleh keberadan-Nya. Sebagai yang awal, tentu tidak
ada yang mengawali-Nya. Itulah sebabnya Dia disebut al-Awwal. Hal ini
menuntut seorang hamba agar memperhatikan keutamaan Rabbnya dalam setiap
nikmat, baik berupa nikmat agama ataupun dunia, dimana sebab musababnya berasal
dari Allah. Hamba yang meneladani asma Allah al- Awwal, akan selalu
menjadi manusia yang the best of the best dan yang pertama dalam melaksnakan
amar makruf nahi munkar. Semua itu ia lakukan demi mendapatkan akhir yang
husnul khatimah
Lampiran 3
GLOSARIUM
Bid’ah :
Perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan
Dalil Aqli :
Berdasarkan akal
Dalil
Naqli : Berdasarkan Qur’an Hadis
Doktriner : Ajaran
(tentang asas suatu aliran politik, keagamaan)
Ekstremisme : Orang
yang melampaui batas kebiasaan
Fasik : Orang
yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya
Ghadzabillah : Murka
Allah
Hablum
minallah : Hubungan dengan Allah
Hablum
minannas : Hubungan dengan sesama manusia
Hilm : Tidak
cepat emosi dan tidak bersikap masa bodoh
Ikhtilaf :
Perbedaan pendapat atau pikiran
Kafir :
Mengikuti kesalahan tetapi tetap menjalankan
Khawarijiyah : Berontak
Ma’ani : Sudah
tetap, tidak boleh tidak
Ma’nawiyah : Tabi’at,
sifat-sifat kejiwaan
Mistisisme : Ajaran
yang menyatakan hal-hal yang yang tidak terjangkau oleh akal manusia
Mujaahadah :
Bersungguh-sungguh
Mukallaf : Dewasa
dan tidak mengalami gangguan jiwa maupun akal
Musyrik : Orang
yang menyekutukan Allah
Mutasyabihah : Ayat
al-qur’an yang membutuhkan penafsiran dalam memahaminya
Nafsiyah : Orang
seseorang, sendiri sendiri
Radikalisme : Paham
atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan social dan politik
dengan cara kekerasan atau drastic
Sum’ah : Suka
memperdengarkan atau menceritakan kebaikannya kepada orang lain.
Ummatan
wasathan : Umat yang adil atau pertengahan
Zalim : Kejam,
bengis, tidak berperikemanusiaan
Lampiran 4
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Karim
Abdul Hiyadh, Terjemah Durrotun Nasihin, Mesir,
Surabaya, 1993
Abu Hudzaifah. Lc, Kisah Para Nabi dan Rasul,
Pustaka as-Sunah, Jakarta, 2007
Derektorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam
Departemen Agama, Akhlak Ilmu Tauhid, PT. Karya Unipres, Jakarta, 1982
’Aidh al-Qarni, La Tahzan ,Jangan Bersedih, Qisthi
Pres, Jakarta Timur, 2004
A. Ilyas Ismail, M.A, Pilar-pilar Takwa, (Doktrin.
Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan Spiritual), Rajawali Pers, (PT. Raja
Grafindo Persada), Jakarta, 2009
Handono, Aris Musthafa, zaenuri Siroj, Meneladani
Akhlak Untuk Kelas XI Madrasah Aliyah Program Keagamaan , PT. Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017
Handono, Aris Musthafa, Zaenuri Siroj, Meneladani
Akhlak Untuk Kelas XII Madrasah Aliyah Program Keagamaan , PT. Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017
Hasyim Asy’ari, Penerjemah Rosidin, Pendidikan Khas
Pesantren (Adabul ’Alim wal Muta’allim), Tira Smart,Tangerang, 2017
M. Ali Haidar, Nahdhatul Ulama’ dan Islam di Indonesia,
PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998
M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, Tranmisi
Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia, Erlangga, Jakarta , 2005
Muhammad bin Abdul Wahab, Syarah Kitab al-Tauhid,
PT. Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984
Roli Abdul Rohman-M. Khamzah. Menjaga Akidah dan
Akhlak untuk kelas X Madrasah Aliyah, PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri,
Solo 2017
Sa’id Hawwa, Tazkiyatun Nafs (Intisari Ihya
Ulumuddin), Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2007
Salim Bahreisy, Irsyadul ’Ibad Ilasabilirrasyad (Petunjuk
ke Jalan Lurus ), Darussaggaf, Surabaya, 1977
Salim Bahreisy, Riyadhus
Shalihin, PT. Alma’arif, Bandung , 1987
Umar Sulaiman al-Asyqar , al-Asma’ al- Husna,
Qisthi Press, Jakarta timur Cetakan ke-6, Mei 2009
Zainuddin, Terjemah
Hadis Shahih Bukkhari, Widjaya, Jakarta 199
|
Mengetahui, Kepala
Sekolah LUFIANA,
S. S NBM.
1024550 |
MAGELANG, ...... JANUARI 2025 Guru Mata Pelajaran KUNI
HIRIYANTI, S. Pd NIP. - |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar