MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH
MATA PELAJARAN : AL-QUR'AN HADITS
BAB 8 : HADIS SUMBER AJARAN ISLAM
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Madrasah : MA MUHAMMADIYAH BLABAK
Nama Penyusun : KUNI HIRIYANTI, S.Pd
Mata Pelajaran : Al-Qur'an Hadits
Kelas / Fase Semester :
X/ E / 2
Elemen : Hadis Sumber Ajaran Islam
Alokasi waktu : 2 x 45 Menit
Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, pada elemen Ilmu
Al-Qur'an, Peserta didik dapat menganalisis hal ihwal ilmu Al-Qur'an tentang
pengertian Al-Quran menurut pendapat para ulama', sejarah turun dan
kodifikasinya, bukti-bukti keautentikan, kemukjizatan, pokok-pokok kandungan,
dan struktur Al-Qur’an, untuk meyakini kebenaran Al-Qur'an dan mengamalkan
pesan Al-Qur'an dalam konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Pada elemen Ilmu Hadis, peserta didik mampu menganalisis hal ihwal tentang ilmu
hadis yang meliputi; perbedaan hadis, sunah, khabar, dan asar, sejarah
kodifikasi dan perkembangan hadis, unsur-unsur hadis, kedudukan dan fungsi
hadis terhadap ayat Al-Qur’an, pembagian hadis, serta tokoh-tokoh ulama hadis
untuk meyakini kebenaran hadis-hadis tersebut bersumber dari Rasulullah saw.,
baik secara sanad dan matan maupun kualitas kesahihannya serta mengamalkan ilmu
hadis agar lebih kritis dalam menerima dan merespon berita di masyarakat dalam
konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
|
Elemen |
Capaian Pembelajaran |
|
Ilmu Al-Qur'an |
Peserta didik dapat
menganalisis hal ihwal ilmu Al-Qur'an yang meliputi; pengertian Al-Quran menurut
pendapat para ulama', sejarah turun dan kodifikasinya, bukti-bukti
keautentikan, kemukjizatan, pokok-pokok kandungan, dan struktur Al-Qur'an,
untuk meyakini kebenaran Al-Qur'an dan mengamalkan pesan Al-Qur'an dalam
konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. |
|
Ilmu Hadis |
Peserta didik mampu
menganalisis hal ihwal tentang ilmu hadis yang meliputi; perbedaan hadis,
sunah, khabar, dan asar, sejarah kodifikasi dan perkembangan hadis,
unsur-unsur hadis, kedudukan dan fungsi hadis terhadap ayat Al-Quran,
pembagian hadis, serta tokoh-tokoh ulama hadis untuk meyakini kebenaran
hadis-hadis tersebut bersumber dari Rasulullah saw., baik secara sanad dan
matan maupun kualitas kesahihannya serta menggunakan ilmu hadis agar selektif
terhadap hadis yang dijadikan dasar beramal, sebagai sarana menanamkan sikap
kritis dalam menerima dan merespon berita di masyarakat dalam konteks
kehidupan berbangsa dan bernegara. |
B Kompetensi Awal
Nabi melewati perjalanan hidupnya dengan banyak cerita
suka duka. Sejak lahir sebagai yatim kemudian tumbuh kanak-kanak bersama
kakeknya dan melalui masa remaja bersama pamannya. Nabi kemudian menjadi suami
Khadijah yang berprofesi sebagai saudagar. Hingga ketika Nabi sering berkhalwat
dan menerima wahyu pertamanya di Gua Hira, Nabi belumlah menjadi pemimpin
kaumnya.
C. Profil Pelajar Pancasila
(PPP) dan Pelajar Rahmatan lil Alamin (PRA)
§ Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai
adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis
dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global.
§ Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin yang ingin dicapai adalah taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh.
D. Sarana dan Prasarana
Media : LCD proyektor,
komputer/laptop, jaringan internet, dan lain-lain
Sumber
Belajar : LKPD, Buku Teks, laman
E-learning, E-book, dan lain-lain
E. Target Peserta Didik
Peserta didik cerdas istimewa berbakat dan peserta didik regular
F. Model DAN METODE Pembelajaran
Discovery
learning, Diskusi, Tanya jawab dan
games
KOMPETENSI INTI
A. Tujuan Pembelajaran
§ Menyajikan sumber agama Islam yang terdapat
di dalam hadis nabi;
§ Memahami sejarah perkembangan hadis;
§ Menganalisis perkembangan hadis;
§ Menyajikan hasil analisis
sejarah perkembangan hadis;
B. Pemahaman Bermakna
§ Menganalis sejarah perkembangan hadis;
§ Menyajikan hasil analisis
sejarah perkembangan hadis.
C. Pertanyaan Pemantik
Guru menanyakan kepada peserta didik seputar
materi Hadis Sumber Ajaran Islam
D. Kegiatan Pembelajaran
PERTEMUAN KE-1
Periodisasi
Sejarah Perkembangan Hadis
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Periodisasi Sejarah Perkembangan Hadis |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Periodisasi Sejarah Perkembangan Hadis |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Periodisasi Sejarah Perkembangan Hadis |
|
Communication |
§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja
kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi
yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang
mempresentasikan. |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Periodisasi Sejarah
Perkembangan Hadis § Peserta didik kemudian diberi kesempatan
untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
PERTEMUAN KE-2
Fase
Pengumpulan dan Penulisan Hadits
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadits |
|
Communication |
§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja
kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi
yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang
mempresentasikan. |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Fase Pengumpulan
dan Penulisan Hadits § Peserta didik kemudian diberi kesempatan
untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
E. Pembelajaran Diferensiasi
§ Untuk siswa yang sudah memahami materi ini sesuai
dengan tujuan pembelajaran dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh, disarankan
untuk membaca materi Hadis Sumber Ajaran Islam dari berbagai referensi yang relevan.
§ Guru dapat menggunakan alternatif metode dan
media pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing agar pelaksanaan
pembelajaran menjadi lebih menyenangkan (joyfull
learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.
§ Untuk siswa yang kesulitan belajar topik ini,
disarankan untuk belajar kembali tata cara pada pembelajaran di dalam dan atau
di luar kelas sesuai kesepataan antara guru dengan siswa. Siswa juga disarankan
untuk belajar kepada teman sebaya.
E. ASESMEN / PENILAIAN
1. Asesmen Formatif (selama proses pembelajaran)
a. Asesmen
awal
Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam memasuki
pembelajaran, dengan pertanyaan:
|
No |
Pertanyaan |
Jawaban |
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
1 |
Apakah
pernah membaca buku terkait ? |
|
|
|
2 |
Apakah
kalian ingin menguasai materi pelajaran dengan baik ? |
|
|
|
3 |
Apakah
kalian sudah siap melaksanakan pembelajaran dengan metode inquiry learning,
diskusi ? |
|
|
b. Asesmen
selama proses pembelajaran
Asesmen ini dilakukan guru selama
pembelajaran, khususnya saat peserta didik melakukan kegiatan diskusi,
presentasi dan refleksi tertulis. Asesmen saat inquiry learning (ketika peserta didik melakukan kegiatan belajar
dengan metode inquiry learning)
Lembar kerja
pengamatan kegiatan pembelajaran dengan metade
inquiry learning
|
No |
Nama Siswa |
Arpak yang diamati |
Skor |
|||||
|
Gagasan |
Aktif |
Kerjasama |
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai akhir x 25 |
||||||||
2. Asesmen Sumatif
a. Asesmen
Pengetahuan
Soal Asesmen Pengetahuan
Jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan jawaban yang benar!
1. Jelaskan maksud
hadis nabi sebagai sumber ajaran agama Islam !
2. Jelaskan sejarah
perkembangan hadis nabi!
3. Bagaimana
pendapat anda tentang perkembangan hadis dari masa Nabi hingga hadis tersebut
dibukukan? Jelaskan secara rinci!
4. Sajikan hasil
analisis anda tentang hadis yang tidak dapat dijadikan sebagai sumber ajaran
islam!
b. Asesmen
keterampilan
1) Peserta
didik mempraktikkan berkenalan secara lisan dan tulis
Contoh rubrik
penilaian praktek:
Nama : …………………………………..
Kelas :
…………………………………..
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Kelancaran
(kompetensi gramatikal di aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
2 |
Ketepatan
(kompetensi gramatikal aspek nahwu sharaf) |
20 |
|
3 |
Isi
(kompetensi wacana dan sosiolinguistik) |
20 |
|
4 |
Ucapan/pelafalan
(kompetensi gramatikal aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
5 |
Gestur
(kompetensi strategi) |
20 |
|
Total |
100 |
|
Indikator
Penilaian aspek kelancaran (fluency)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
15 - 20 |
|
2 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
10 - 14 |
|
3 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
5 - 9 |
|
4 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek ketepatan (accuracy)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
15 - 20 |
|
2 |
Tidak ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
10 - 14 |
|
3 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
5 - 9 |
|
4 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek isi
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi
umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari
klasifikasi detail |
25 -30 |
|
2 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi
khusus dari klasifikasi kurang detail |
20 - 24 |
|
3 |
Memiliki
struktur teks deskriptif tidak lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari
klasifikasi kurang detail |
15 - 19 |
|
4 |
Memiliki
struktur teks deskriptif kurang lengkap (deskripsi umum dan deskripsi
khusus), deskripsi umum meliputi definisi, dan deskripsi khusus kurang sesuai |
10 - 14 |
|
5 |
Tidak ada
komponen struktur deskriptif |
1 - 9 |
Petunjuk penskoran:
Penghitungan skor akhir menggunakan rumus:
Skor Perolehan x 10 = ….
2) Peserta
didik membuat kartu nama
Contoh rubrik
penilaian produk kartu nama
|
No |
Nama Siswa |
Perencanaan Bahan |
Aspek Yang Dinilai |
Jml |
|||
|
Proses Pembuatan |
Hasil Produk |
||||||
|
Langkah pembuatan |
Teknik pembuatan |
Bentuk fisik |
Inovasi |
||||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan:
Skor antara 1 – 5
Aspek yang dinilai disesuaikan dengan tugas
yang diberikan
F. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Pengayaan
§ Pengayaan diberikan kepada
peserta didik yang telah mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.
§ Guru memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang lebih variatif dengan menambah keluasan dan
kedalaman materi yang mengarah pada high
order thinking
§ Program pengayaan dilakukan di luar
jam belajar efektif.
Remedial
§ Remedial diberikan kepada peserta didik yang
belum mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran
§ Guru melakukan pembahasan ulang terhadap
materi yang telah diberikan dengan cara/metode yang berbeda untuk memberikan
pengalaman belajar yang lebih memudahkan peserta didik dalam memaknai dan
menguasai materi ajar misalnya lewat diskusi dan permainan.
§ Program remedial dilakukan di luar jam
belajar efektif.
G. REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK
Refleksi Guru:
Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan
kegiatan pengajaran di kelas, misalnya:
§ Apakah semua peserta didik terlibat aktif
dalam pembelajaran iniv ?
§ Apakah ada kesulitan yang dialami peserta
didik?
§ Apakah semua peserta didik sudah dapat
melampaui target pembelajaran?
§ Sudahkan tumbuh sikap yang mencerminkan
profil pelajar pancasila dan profil pelajar rahmatal lil ‘alamin?
§ Apa langkah yang perlu dilakukan untuk
memperbaiki proses belajar?
Refleksi Peserta Didik:
|
No |
Pertanyaan Refleksi |
Jawaban Refleksi |
|
1 |
Bagian manakah yang menurut kamu hal paling sulit dari
pelajaran ini? |
|
|
2 |
Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki hasil
belajarmu? |
|
|
3 |
Kepada siapa kamu akan meminta bantuan untuk memahami pelajaran
ini? |
|
|
4 |
Jika kamu diminta untuk memberikan bintang 1 sampai 5,
berapa bintang yang akan kamu berikan pada usaha yang telah dilakukan |
|
|
Mengetahui, Kepala
Sekolah LUFIANA, S.S NBM.
1024550 |
MAGELANG, ......JANUARI
2025 Guru Mata Pelajaran KUNI HIRIYANTI, S.Pd NIP. - |
LAMPIRAN- LAMPIRAN
Lampiran 1
LEMBAR KERJA PESERTA
DIDIK (LKPD)
Nama : …………………………………..
Kelas : …………………………………..
Diskusikan
tentang proses pengumpulan dan penulisan hadis dengan teman dan kelompokmu lalu
presentasikan di depan kelas.
Lampiran 2
MATERI
BAHAN AJAR
Sejarah
penulisan hadis merupakan masa atau periode yang telah dilalui oleh hadis dari
masa lahirnya dan tumbuh dalam pengenalan, penghayatan, dan pengamalan umat
dari generasi ke generasi. Dengan memerhatikan masa yang telah dilalui hadis sejak
masa timbulnya/lahirnya di zaman Nabi saw.. meneliti dan membina hadis, serta segala
hal yang memengaruhi hadis tersebut, para ulama ahli hadis (muhaddis|in) membagi
sejarah hadis dalam beberapa periode.
Adapun
para ulama penulis sejarah hadis berbeda-beda dalam membagi periode sejarah
hadis. Ada yang membagi dalam tiga periode, lima periode, dan tujuh periode. M.
Hasbi Asy-Shidieqy membagi perkembangan hadis menjadi tujuh periode, sejak
periode Nabi saw.. hingga sekarang, yaitu sebagai berikut:
1. Periode Pertama: Perkembangan Hadis pada Masa
Rasulullah saw.
Periode
ini disebut ‘`Asr al-Wahyi wa at-Takwin (masa turunnya wahyu dan pembentukan
masyarakat Islam). Pada periode inilah, hadis lahir berupa sabda (aqwal),
perbuatan (af’al ), dan takrir Nabi yang berfungsi menerangkan aI-Qur’an untuk
menegakkan syariat Islam dan membentuk masyarakat Islam.
Para
sahabat menerima hadis secara langsung dan tidak langsung. Penerimaan secara
langsung misalnya saat Nabi saw.. memberi ceramah, pengajian, khutbah, atau
penjelasan terhadap pertanyaan para sahabat. Adapun penerimaan secara tidak
langsung adalah mendengar dari sahabat yang lain atau dari utusan-utusan, baik
dari utusan yang dikirim oleh Nabi ke daerah-daerah atau utusan daerah yang datang
kepada Nabi.
Pada
masa Nabi saw.., kepandaian baca tulis di kalangan para sahabat sudah bermunculan,
hanya saja terbatas sekali. Karena kecakapan baca tulis di kalangan sahabat
masih kurang, Nabi menekankan untuk menghafal, memahami, memelihara,
mematerikan, dan memantapkan hadis dalam amalan sehari-hari, serta
menyebarkannya kepada orang lain.
2. Periode Kedua: Perkembangan Hadis pada Masa
al-Khulafa’ Ar-Rasyidin (11 H- 40 H)
Periode
ini disebut ‘Asr at-Tas|abbut wa al-Iqlal min al-Riwayah (masa membatasi dan
menyedikitkan riwayat). Nabi saw. wafat pada tahun 11 H.
Kepada
umatnya, beliau meninggalkan dua pegangan sebagai dasar bagi pedoman hidup,
yaitu al-Qur’an dan hadis (as-Sunnah yang harus dipegangi dalam seluruh aspek
kehidupan umat).
Pada
masa Khalifah Abu Bakar dan Umar, periwayatan hadis tersebar secara terbatas.
Penulisan hadis pun masih terbatas dan belum dilakukan secara resmi.
Bahkan,
pada masa itu, Umar melarang para sahabat untuk memperbanyak meriwayatkan
hadis, dan sebaliknya, Umar menekankan agar para sahabat mengerahkan
perhatiannya untuk menyebarluaskan al-Qur’an.
Dalam
praktiknya, para sahabat meriwayatkan hadis melalui dua cara, yakni:
a. Dengan lafaz
asli, yakni menurut lafaz yang mereka terima dari Nabi saw. yang mereka hafal
benar lafaz dari Nabi.
b. Dengan maknanya
saja yakni para sahabat meriwayatan maknanya karena tidak hafal lafaz asli dari
Nabi saw.
3. Periode Ketiga: Perkembangan pada Masa Sahabat
Kecil dan Tabiin
Periode
ini disebut ‘Asr Intisyar al-Riwayah ila al-Amslaar’ (masa berkembang dan
meluasnya periwayatan hadis). Pada masa ini, daerah Islam sudah meluas, yakni
ke negeri Syam, Irak, Mesir, Samarkand, bahkan pada tahun 93 H, meluas sampai
ke Spanyol. Hal ini bersamaan dengan berangkatnya para sahabat ke daerah-daerah
tersebut, terutama dalam rangka tugas memangku jabatan pemerintahan dan
penyebaran ilmu hadis.
Para
sahabat kecil dan tabiin yang ingin mengetahui hadis-hadis Nabi saw. diharuskan
berangkat ke seluruh pelosok wilayah Daulah Islamiyah untuk menanyakan
hadis kepada sahabat-sahabat besar yang sudah tersebar di wilayah tersebut.
Dengan demikian, pada masa ini, di samping tersebarnya periwayatan hadis ke
pelosok-pelosok daerah Jazirah Arab, perlawatan untuk mencari hadis pun menjadi
ramai.
Karena
meningkatnya periwayatan hadis, muncullah bendaharawan dan lembaga-lembaga
(Centrum Perkembangan) hadis di berbagai daerah di seluruh negeri.
Adapun
lembaga-lembaga hadis yang menjadi pusat bagi usaha penggalian, pendidikan, dan
pengembangan hadis terdapat di Madinah, Makkah, Bashrah, Syam dan Mesir.
Pada
periode ketiga ini mulai muncul usaha pemalsuan oleh orang-orang yang tidak
bertanggung jawab. Hal ini terjadi setelah wafatnya Sahabat Ali r.a. Pada masa
ini, umat Islam mulai terpecah-pecah menjadi beberapa golongan: Pertama, golongan
Ali Ibn Abi Talib, yang kemudian dinamakan golongan Syiah. Kedua, golongan
Khawarij, yang menentang Ali, dan golongan Muawiyah, dan ketiga; golongan
Jumhur (golongan pemerintah pada masa itu).
Terpecahnya
umat Islam tersebut, memacu orang-orang yang tidak bertanggung jawab untuk
mendatangkan keterangan-keterangan yang berasal dari Rasulullah saw. untuk
mendukung golongan mereka. Oleh sebab itulah, mereka membuat hadis palsu dan
menyebarkannya kepada masyarakat.
4. Periode Keempat: Perkembangan Hadis pada Abad
II dan III Hijriah
Periode
ini disebut Asr al-Kitabah wa al-Tadwin (masa penulisan dan pembukuan).
Maksudnya, penulisan dan pembukuan secara resmi, yakni yang diselenggarakan
oleh atau atas inisiatif pemerintah. Adapun kalau secara perseorangan, sebelum
abad II H hadis sudah banyak ditulis, baik pada masa tabiin, sahabat kecil,
sahabat besar, bahkan masa Nabi saw. meskipun dengan kondisi seadanya.
Masa
pembukuan secara resmi dimulai pada awal abad II H, yakni pada masa pemerintahan
Khalifah Umar Ibn Abdul Aziz tahun 101 H, Sebagai khalifah, Umar Ibn Abdul Aziz
sadar bahwa para perawi yang menghimpun hadis dalam hafalannya semakin banyak
yang meninggal. Beliau khawatir apabila tidak membukukan dan mengumpulkan dalam
buku-buku hadis dari para perawinya, ada kemungkinan hadis-hadis tersebut akan
lenyap dari permukaan bumi bersamaan dengan kepergian para penghafalnya ke alam
barzakh.
Untuk
mewujudkan maksud tersebut, pada tahun 100 H, Khalifah meminta kepada Gubernur
Madinah, Abu Bakr Ibn Muhammad Ibn Amr Ibn Hazmin (120 H) yang menjadi guru
Ma'mar al-Laits, al-Auza'i, Malik, Ibnu Ishaq, dan Ibnu Abi Dzi'bin untuk
membukukan hadis Rasul yang terdapat pada penghafal wanita yang terkenal, yaitu
Amrah binti Abd. Rahman Ibn Sa'ad Ibn Zurarah Ibn `Ades, seorang ahli fikih,
murid Aisyah r.a. (20 H/642 M-98 H/716 M atau 106 H/ 724 M), dan hadis-hadis
yang ada pada al-Qasim Ibn Muhammad Ibn Abi Bakr as- Siddiq (107 H/725 M),
seorang pemuka tabiin dan salah seorang fukaha Madinah yang tujuh.
Di
samping itu, Umar mengirimkan surat-surat kepada gubernur yang ada di bawah
kekuasaannya untuk membukukan hadis yang ada pada ulama yang tinggal di wilayah
mereka masing-masing. Di antara ulama besar yang membukukan hadis atas kemauan
Khalifah adalah Abu Bakr Muhammad Ibn Muslim ibn Ubaidillah Ibn Syihab
Az-Zuhri, seorang tabiin yang ahli dalam urusan fikih dan hadis.
Mereka
inilah ulama yang mula-mula membukukan hadis atas anjuran Khalifah. Pembukuan
seluruh hadis yang ada di Madinah dilakukan oleh Imam Muhammad Ibn Muslim Ibn
Syihab Az-Zuhri, yang memang terkenal sebagai seorang ulama besar dari
ulama-ulama hadis pada masanya.
Setelah
itu, para ulama besar berlomba-lomba membukukan hadis atas anjuran Abu Abbas
As-Saffah dan anak-anaknya dari khalifah-khalifah ‘Abbasiyah.
Berikut
tempat dan nama-nama tokoh dalam pengumpulan hadis :
1. Pengumpul
pertama di kota Makkah, Ibnu Juraij (80-150 H)
2. Pengumpul
pertama di kota Madinah, Ibnu Ishaq (w. 150 H)
3. Pengumpul
pertama di kota Bashrah, al-Rabi' Ibn Shabih (w. 160 H)
4. Pengumpul
pertama di Kuffah, Sufyan at-Tsaury (w. 161 H.)
5. Pengumpul
pertama di Syam, al-Auza'i (w. 95 H)
6. Pengumpul
pertama di Wasith, Husain al-Wasithy (104-188 H)
7. Pengumpul pertama diYaman, Ma'mar al-Azdy
(95-153 H)
8. Pengumpul
pertama di Rei, Jarir ad-Dhabby (110-188 H)
9. Pengumpul
pertama di Khurasan, Ibn Mubarak (11 -181 H)
10. Pengumpul
pertama di Mesir, al-Laits Ibn Sa'ad (w. 175 H).[13]
Semua
ulama yang membukukan hadis ini terdiri dari ahli-ahli pada abad kedua Hijriah.
Kitab-kitab
hadis yang telah dibukukan dan dikumpulkan dalam abad kedua ini, jumlahnya
cukup banyak. Akan tetapi, yang masyhur di kalangan ahli hadis adalah:
1. Al-Muwatta',
susunan Imam Malik (95 H-179 H)
2. Al-Magazi wa
al-Siyar, susunan Muhammad ibn Ishaq (150 H)
3. Al-Jami',
susunan Abdul Razzaq As-San'any (211 H)
4. Al-Musannaf,
susunan Syu'bah Ibn Hajjaj (160 H)
5. Al-Musannaf,
susunan Sufyan ibn 'Uyainah (198 H)
6. Al-Musannaf,
susunan Al-Laits Ibn Sa'ad (175 H)
7. Al-Musannaf,
susnan Al-Auza'i (150 H)
8. Al-Musannaf,
susunan Al-Humaidy (219 H)
9. Al-Magazi
an-Nabawiyah, susunan Muhammad Ibn Waqid Al¬Aslamy.
10. A1-Musnad,
susunan Abu Hanifah (150 H).
11. Al-Musnad,
susunan Zaid Ibn Ali.
12. Al-Musnad,
susunan Al-Imam Asy-Syafi'i (204 H).
13. Mukhtalif
Al-Hadis|, susunan Al-Imam Syafi'i.
Tokoh-tokoh
yang masyhur pada abad kedua hijriah adalah Malik,Yahya ibn Sa'id aI-Qattan,
Waki Ibn Al-Jarrah, Sufyan Ats-Tsauri, Ibnu Uyainah, Syu'bah Ibnu Hajjaj, Abdul
Ar-Rahman ibn Mahdi, Al-Auza'i, Al-Laits, Abu Hanifah, dan Syafi'i.
5. Periode Kelima: Masa Mentashihkan Hadis dan
Penyusunan Kaidah-Kaidahnya
Abad
ketiga Hijriah merupakan puncak usaha pembukuan hadis. Sesudah kitab-kitab Ibnu
Juraij, kitab Muwatta' al-Malik tersebar dalam masyarakat dan disambut dengan
gembira, kemauan menghafal hadis, mengumpul, dan membukukannya semakin
meningkat dan mulailah ahli-ahli ilmu berpindah dari suatu tempat ke tempat
lain dari sebuah negeri ke negeri lain untuk mencari hadis.
Pada
awalnya, ulama hanya mengumpulkan hadis-hadis yang terdapat di kotanya
masing-masing. Hanya sebagian kecil di antara mereka yang pergi ke kota lain
untuk kepentingan pengumpulan hadis.
Keadaan
ini diubah oleh aI-Bukhari. Beliaulah yang mula-mula meluaskan daerah-daerah
yang dikunjungi untuk mencari hadis. Beliau pergi ke Maru, Naisabur, Rei,
Baghdad, Bashrah, Kufah, Makkah, Madinah, Mesir, Damsyik, Qusariyah,
`Asqalani,dan Himsh.
Imam
Bukhari membuat terebosan dengan mengumpulkan hadis yang tersebar di berbagai
daerah. Enam tahun lamanya al-Bukhari terus menjelajah untuk menyiapkan kitab
Sahih-nya.
Para
ulama pada mulanya menerima hadis dari para rawi lalu menulis ke dalam
kitabnya, tanpa mengadakan syarat-syarat menerimanya dan tidak memerhatikan
sahih-tidaknya. Namun, setelah terjadinya pemalsuan hadis dan adanya upaya dari
orang-orang zindiq untuk mengacaukan hadis, para ulama pun melakukan hal-hal
berikut:
a. Membahas keadaan
rawi-rawi dari berbagai segi, baik dari segi keadilan, tempat kediaman, masa,
dan lain-lain.
b. Memisahkan
hadis-hadis yang sahih dari hadis yang daif yakni dengan mentashihkan hadis.
Ulama
hadis yang mula-mula menyaring dan membedakan hadis-hadis yang sahih dari yang
palsu dan yang lemah adalah Ishaq ibn Rahawaih, seorang imam hadis yang sangat
masyhur.
Pekerjaan
yang mulia ini kemudian diselenggarakan dengan sempurna oleh Imam al-Bukhari.
Al-Bukhari menyusun kitab-kitabnya yang terkenal dengan nama al-Jami’ as-Sahih.
Di dalam kitabnya, ia hanya membukukan hadis-hadis yang dianggap sahih.
Kemudian, usaha a1-Bukhari ini diikuti oleh muridnya yang sangat alim, yaitu
Imam Muslim.
Sesudah
Sahih Bukhari dan Sahih Muslim, bermunculan imam lain yang mengikuti jejak
Bukhari dan Muslim, di antaranya Abu Dawud, at-Tirmidzi,dan an-Nasa'i. Mereka
menyusun kitab-kitab hadis yang dikenal dengan Sahih al- Bukhari, Sahih
Muslirn, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi,dan Sunan an- Nasa'i. Kitab-kitab
itu kemudian dikenal di kalangan masyarakat dengan judul al- Usul al-Khamsah.
Di
samping itu, Ibnu Majah menyusun Sunannya. Kitab Sunan ini kemudian digolongkan
oleh para ulama ke dalam kitab-kitab induk sehingga kitab-kitab induk itu
menjadi sebuah, yang kemudian dikenal dengan nama al-Kutub al- Sittah.
Tokoh-tokoh
hadis yang lahir pada masa ini adalah:
1. `Ali Ibnul
Madani
2. Abu Hatim
ar-Razi
3. Muhammad Ibn
Jarir at- Tabari
4. Muhammad Ibn
Sa'ad
5. Ishaq Ibnu
Rahawaih
6. Ahmad
7. Al-Bukhari
8. Muslim
9. An-Nasa'i
10. Abu Dawud
11. At-Tirmidzi
12. Ibnu Majah
13. Ibnu Qutaibah
ad-Dainuri
6. Periode Keenam: Dari Abad IV hingga Tahun 656
H.
Periode
keenam ini dimulai dari abad IV hingga tahun 656 H, yaitu pada masa `Abasiyyah
angkatan kedua. Periode ini dinamakan ‘Asr at-Tahzib wa at-Tartibi wa
al-Istidraqi wa al-jami'.
Ulama-ulama
hadis yang muncul pada abad ke-2 dan ke-3, digelari Mutaqaddimin, yang
mengumpulkan hadis dengan semata-mata berpegang pada usaha sendiri dan
pemeriksaan sendiri, dengan menemui para penghafalnya yang tersebar di setiap
pelosok dan penjuru negara Arab, Parsi, dan lain-lainnya.
Setelah
abad ke-3 berlalu, bangkitlah pujangga abad keempat. Para ulama abad keempat
ini dan seterusnya digelari Mutaakhirin. Kebanyakan hadis yang mereka kumpulkan
adalah petikan atau nukilan dari kitab-kitab Mutaqaddimin, hanya sedikit yang
dikumpulkan dari usaha mencari sendiri kepada para penghafalnya.
Pada
periode ini muncul kitab-kitab sahih yang tidak terdapat dalam kitab sahih pada
abad ketiga. Kitab-kitab itu antara lain:
1. As-Sahih,
susunan Ibnu Khuzaimah
2. At-Taqsim wa
Anwa', susunan Ibnu Hibban
3. Al-Mustadrak,
susunan al-Hakim
4. As-Salih,
susunan Abu `Awanah
5. Al-Muntaqa,
susunan Ibnu Jarud
6. Al-Mukhtarah,
susunan Muhammad Ibn Abdul Wahid al-Maqdisi.
Di
antara usaha-usaha ulama hadis yang terpenting dalam periode ini adalah:
1. Mengumpulkan
hadis al-Bukhari/Muslim dalam sebuah kitab.
Di
antara kitab yang mengumpulkan hadis-hadis al-Bukhari dan Muslim adalah Kitab
Al-Jami' Bain As-Sahihain oleh Ismail Ibn Ahmad yang terkenal dengan nama Ibnu
Al-Furat (414 H), Muhammad Ibn Nashr Al-Humaidy (488 H); Al-Baghawi oleh
Muhammad Ibn Abdul Haq Al-Asybily (582 H).
2. Mengumpulkan
hadis-hadis dalam kitab enam.
Di
antara kitab yang mengumpulkan hadis-hadis kitab enam, adalah Tajridu As-Sihah
oleh Razin Mu'awiyah, Al-Jami' oleh Abdul Haqq Ibn Abdul Ar- Rahman
Asy-Asybily, yang terkenal dengan nama Ibnul Kharrat (582 H).
3. Mengumpukan
hadis-hadis yang terdapat dalam berbagai kitab.
Di
antara kitab-kitab yang mengumpulkan hadis-hadis dari berbagai kitab adalah:
(1) Masabih as-Sunnah oleh al-Imam Husain Ibn Mas'ud al-Baghawi (516 H); (2)
Jami'ul Masanid wa al-Alqab, oleh Abdur Rahman ibn Ali al-Jauzy (597 H); (3)
Bakr al-Asanid, oleh al-Hafiz al-Hasan Ibn Ahmad al-Samarqandy (49I H).
4. Mengumpulkan
hadis-hadis hukum dan menyusun kitab-kitab Atraf.
7. Periode Ketujuh (656 H-Sekarang)
Periode
ini adalah masa sesudah meninggalnya Khalifah Abasiyyah ke XVII al-Mu'tasim (w.
656 H.) sampai sekarang. Periode ini dinamakan ‘Ahdu As-Syarhi wa al-Jami' wa
at-Takhriji wa al-Bahs|i, yaitu masa pensyarahan, penghimpunan, pentakhrijan
dan pembahasan.
Usaha-usaha
yang dilakukan oleh ulama dalam masa ini adalah menerbitkan isi kitab-kitab
hadis, menyaringnya, dan menyusun kitab enam kitab takhrij, serta membuat
kitab-kitab jami' yang umum.
Pada
periode ini disusun kitab-kitab Zawa'id, yaitu usaha mengumpulkan hadis yang
terdapat dalam kitab yang sebelumnya ke dalam sebuah kitab tertentu, di
antaranya Kitab Zawa'id susunan Ibnu Majah, Kitab Zawa'id as-Sunan Al- Kubra
disusun oleh al-Busiry, dan masih banyak lagi kitab Zawa'id yang lain. Di
samping itu, para ulama hadis pada periode ini mengumpulkan hadis-hadis yang
terdapat dalam beberapa kitab ke dalam sebuah kitab tertentu, di antaranya adalah
Kitab Jami' al-Masanid wa as-Sunan al-Hadi li Aqwami Sunan, karangan al-Hafidz
Ibnu Katsir, dan Jami' al-Jawami’ susunan al-Hafiz as-Suyuti (911 H).
Banyak
kitab dalam berbagai ilmu yang mengandung hadis-hadis yang tidak disebut
perawinya dan pentakhrijnya. Sebagian ulama pada masa ini berusaha menerangkan
tempat-tempat pengambilan hadis-hadis itu dan nilai-nilainya dalam sebuah kitab
yang tertentu, di antaranya Takhrij Hadis, al-Kafi as-Syafi fi Takhrij Ahadis|
al-Kasysyaf oleh Ibnu Hajar al-‘`Asqalani, dan masih banyak lagi kitab takhrij
lain.
Sebagaimana
periode keenam, periode ketujuh ini pun muncul ulama-ulama hadis yang menyusun
kitab-kitab Atraf, di antaranya Itaf al-Maharah bi Atraf al- ‘Asyrah oleh Ibnu
Hajar al-‘`Asqalani, Atraf al-Musnad al-Mu'tali bi Atraf al- Musnad al-Hanbali
oleh Ibnu Hajar, dan masih banyak lagi kitab Atraf yang lainnya.
Tokoh-tokoh
hadis yang terkenal pada masa ini adalah: (1) Adz-Dzahaby (748 H), (2) Ibnu
Sayyidinnas (734 H), (3) Ibnu Daqiq al-‘`Id, (4) Muglathai (862 H), (5)
Al-Asqalany (852 H), (6) Ad¬Dimyaty (705 H), (7) Al-`Ainy (855 H), (8) As-Suyuthi
(911 H), (9) Az-Zarkasy (794 H), (10) Al-Mizzy (742 H), (11) Al- `Alay (761 H),
(12) Ibnu Katsir (774 H), (13) Az-Zaily (762 H), (14) Ibnu Rajab (795 H), (15)
Ibnu Mulaqqin (804 H), (16) Al-Bulqiny (805 H), (` 7) Al-`Iraqy (w. 806 H),
(18) Al-Hais|amy (807 H), dan (19) A’u Zurah (826 H).
8. Fase Pengumpulan dan Penulisan Hadis
1) Pengumpulan
Hadis
Pada
abad pertama Hijriah, yakni masa Rasulullah saw., Khulafa Rasyidin dan sebagian
besar masa Bani Umayyah hingga akhir abad pertama Hijrah, hadis-hadis itu
berpindah-pindah dan disampaikan dari mulut ke mulut. Masing-masing perawi pada
waktu itu meriwayatkan hadis berdasarkan kekuatan hafalannya. Hafalan mereka
terkenal kuat sehingga mampu mengeluarkan kembali hadis-hadis yang pernah
direkam dalam ingatannya. Ide penghimpunan hadis Nabi secara tertulis untuk
pertama kalinya dikemukakan oleh Khalifah Umar bin Khattab (w. 23 H/644 M).
Namun, ide tersebut tidak dilaksanakan oleh Umar karena khawatir bila umat
Islam terganggu perhatiannya dalam mempelajari al-Qur’an.
Pada
masa pemerintahan Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang dinobatkan akhir abad
pertama Hijriah, yakni tahun 99 Hijriyah, datanglah angin segar yang mendukung
kelestarian hadis. Umar bin Abdul Aziz terkenal sebagai seorang khalifah dari
Bani Umayyah yang terkenal adil dan wara' sehingga dipandang sebagai Khalifah
Rasyidin yang kelima.
Beliau
sangat waspada dan sadar bahwa para perawi yang mengumpulkan hadis dalam
ingatannya semakin sedikit jumlahnya karena meninggal dunia.
Beliau
khawatir apabila tidak segera dikumpulkan dan dibukukan dalam bukubuku hadis
dari para perawinya, mungkin hadis-hadis itu akan lenyap bersama lenyapnya para
penghafalnya. Tergeraklah hatinya untuk mengumpulkan hadishadis Nabi dari para
penghafal yang masih hidup. Pada tahun 100 H, Khalifah Umar bin Abdul Aziz
memerintahkah kepada Gubernur Madinah, Abu Bakar bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm
untuk membukukan hadis-hadis Nabi dari para penghafal.
Umar
bin Abdul Aziz menulis surat kepada Abu Bakar bin Hazm, yaitu, "Perhatikanlah
apa yang dapat diperoleh dari hadis Rasul lalu tulislah karena aku takut akan
lenyap ilmu disebabkan meninggalnya ulama, dan jangan diterima selain hadis
Rasul saw., dan hendaklah disebarluaskan ilmu dan diadakan majelis-majelis ilmu
supaya orang yang tidak mengetahuinya dapat mengetahuinya, maka sesungguhnya
ilmu itu dirahasiakan."
Selain
kepada Gubernur Madinah, khalifah juga menulis surat kepada Gubernur lain agar
mengusahakan pembukuan hadis. Khalifah juga secara khusus menulis surat kepada
Abu Bakar Muhammad bin Muslim bin Ubaidillah bin Syihab az-Zuhri. Kemudian,
Syihab Az-Zuhri mulai melaksanakan perintah khalifah tersebut sehingga menjadi
salah satu ulama yang pertama kali membukukan hadis.
Setelah
generasi az-Zuhri, pembukuan hadis dilanjutkan oleh Ibn Juraij (w. 150 H.),
ar-Rabi' bin Sabih (w. 160 H), dan masih banyak lagi ulama lainnya. Sebagaimana
telah disebutkan bahwa pembukuan hadis dimulai sejak akhir masa pemerintahan
Bani Umayyah, tetapi belum begitu sempurna. Pada masa pemerintahan Bani
Abbasiyah, yaitu pada pertengahan abad II H, dilakukan upaya penyempunaan.
Sejak saat itu, tampak gerakan secara aktif untuk membukukan ilmu pengetahuan,
termasuk pembukuan dan penulisan hadis-hadis Rasul saw. Kitab-kitab yang
terkenal pada waktu itu yang ada hingga sekarang dan sampai kepada kita, antara
lain al-Muwatta oleh Imam Malik dan al-Musnad oleh Imam as-Syafi'i (w. 204 H).
Pembukuan hadis itu kemudian dilanjutkan secara lebih teliti oleh imam-imam
ahli hadis, seperti Bukhari, Muslim, Tirmizi, Nasai, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan
lain-lain.
Dari
mereka itu, kita kenal al-Kutubu as-Sittah (kitab-kitab enam), yaitu Sahih
Al-Bukhari, Sahih Muslim, Sunan An-Nasal, dan At-Tirmizi. Tidak sedikit pada
masa berikutnya dari para ulama yang menaruh perhatian besar pada al-Kutubu
as-Sittah tersebut beserta kitab Muwatta dengan cara mensyarahinya dan memberi
catatan kaki, meringkas atau meneliti sanad dan matan-matannya.
2) Penulisan Hadis
Sebelum
agama Islam datang, bangsa Arab tidak mengenal kemampuan membaca dan menulis.
Mereka lebih dikenal sebagai bangsa yang ummi
(tidak bisa membaca dan menulis). Namun, ini tidak berarti bahwa tidak
ada seorang pun yang bisa menulis dan membaca. Keadaan ini hanyalah sebagai
ciri kebanyakan mereka. Sejarah telah mencatat sejumlah orang yang mampu membaca
dan menulis. Adi bin Zaid al-Adi (w. 35 H) misalnya, sudah belajar menulis
hingga menguasainya, dan merupakan orang pertama yang menulis dengan bahasa Arab
dalam surat yang ditujukan kepada Kisra. Sebagian orang Yahudi juga mengajari
anak-anak di Madinah untuk menulis Arab. Kota Makkah dengan pusat
perdagangannya sebelum kenabian, menjadi saksi adanya para penulis dan orang
yang mampu membaca. Sebagaimana dinyatakan bahwa orang yang mampu membaca dan
menulis di kota Makkah hanya sekitar 10 orang. Inilah yang dimaksud bahwa orang
Arab adalah bangsa yang ummi .
Banyak
kabar yang menunjukkan bahwa para penulis lebih banyak terdapat di Makkah
daripada di Madinah. Hal ini dibuktikan dengan adanya izin Rasulullah kepada
para tawanan dalam Perang Badar dari Makkah yang mampu menulis untuk
mengajarkan menulis dan membaca kepada 10 anak Madinah sebagai tebusan diri
mereka.
Pada
masa Nabi, tulis-menulis sudah tersebar luas. Apalagi al-Qur’an menganjurkan
untuk belajar dan membaca. Rasulullah pun mengangkat para penulis wahyu hingga
jumlahnya mencapai 40 orang. Nama-nama mereka disebut dalam kitab at-Taratib
al-Idariyyah. Baladzuri dalam kitab Futuh al- Buldan menyebutkan sejumlah
penulis wanita, di antaranya Ummul Mukminin Hafsah, Ummu Kultsum binti Uqbah,
as-Syifa' binti Abdullah al-Qurasyiyah, `Aisyah binti Sa'ad, dan Karimah binti
al-Miqdad.
Para
penulis semakin banyak di Madinah setelah hijrah setelah Perang Badar. Nabi
menyuruh Abdullah bin Sa'id bin ‘As agar mengajar menulis di Madiah,
sebagaimana disebutkan Ibnu Abdil Barr dalam al-Isti'ab. Ibnu Hajar menyebutkan
bahwa nama asli `Abdullah bin Sa'id bin al-'As adalah al-Hakam, lalu Rasulullah
memberinya nama `Abdullah, dan menyuruhnya agar mengajar menulis di Madinah.
Para
penulis sejarah Rasul, ulama hadis, dan umat Islam sependapat bahwa al-Qur’an
telah memperoleh perhatian yang penuh dari Rasul dan para sahabatnya. Rasul
mengharapkan para sahabat untuk menghafalkan al-Qur’an dan menuliskannya di
tempat-tempat tertentu, seperti keping-keping tulang, pelepah kurma, batu, dan
sebagainya.
Oleh
karena itu, ketika Rasulullah wafat, al-Qur’an telah dihafalkan dengan sempurna
oleh para sahabat. Seluruh ayat suci al-Qur’an pun telah lengkap ditulis,
tetapi belum terkumpul dalam bentuk sebuah mushaf. Adapun hadis atau sunnah
dalam penulisannya ketika itu kurang memperoleh perhatian seperti halnya
al-Qur’an. Penulisan hadis dilakukan oleh beberapa sahabat secara tidak resmi
karena tidak diperintahkan oleh Rasul. Diriwayatkan bahwa beberapa sahabat
memiliki catatan hadis-hadis Rasulullah. Mereka mencatat sebagian hadis yang
pernah mereka dengar dari Rasulullah saw..
Lampiran 3
GLOSARIUM
Ijmal : ringkasan, secara umum ikhtisar, tidak terinci
Maknawi : tentang makna, berkaitan dengan makna, yang
tersirat, inti, penting
Masdar : bentuk asli, bentuk asal, verbal
Mukjizat : kejadian luar biasa yang dialami nabi yang di
luar jangkauan akal manusia
Rida : rela, suka, senag hati
Risalah : ringkasan yang dikirimkan, surat edaran,
notulensi rapat, keterangan ringkas tentang suatu bahasan ilmu pengetahuan
Tarikh : Penanggalan, perhitungan tantang tanggal,
penanda waktu
Tasrif : Sistem perubahan bentuk kata dalam bahasa arab
yang menandakan waktu, pelaku dan, pekerjaan, benda atau keterangan
Lampiran 4
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Wahid Ramli. Ulumul Qur’an, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2002
Ahad Syadali,. Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an 1, CV Pustaka
setia abadi, Bandung, 1997
Ahmad Syadali. ‘Ulumul Qur’an I. Cet. I; Bandung: Pustaka
Setia, 1997.
Al-Alwi Sayyid Muhammad Ibn Sayyid Abbas, Faidl
Al-Khobir, Al-Hidayah, Surabaya
Al-Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Litera
Antar Nusa, Jakarta, 2000
Al-Shalih, Shubhi, Mabahits fi ‘Ulum al-Quran, Dar al
‘Ilm Li al-Malayin, Beirut, 1977
Al-Shobuny, Mohammad Aly, at-Tibyan fi Ulumil Qur’an,
Alam al-Kitab, Beirut
al-Suyuti, Jalaluddin, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Cet.I;
Beirut: Muassasah al-Risalah, 2008
Al-Salih, Subhi, Membahas Ilmu – Ilmu Hadis. Pustaka
Firdaus: Jakarta, 2000.
Al-Zarqany, Muhammad Abd al-Azhim, Manahil al-Irfan fi
Ulum al-Qur’an, Juz I, Isa al-Baby al-Halaby wa Syirkah, Mesir
Factur Rahman. Ikhtisar Musthalahul Hadis. Al-Ma’rif,
Bandung, 1985
Hasbi ash-Shidiqi, Tengku Muhammad, Sejarah dan Pengantar
Ilmu Hadis, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2009
Hudhari Bik, Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, (Terj. Mohammad
Zuhri, Rajamurah Al-Qanaah), 1980,
Ismail, Muhammad Bakri, Dirasat fi Ulum al-Qur’an, Cet.
II; Kairo: Dar al-Manar, 1999
Jalal al-Din ‘Abd al- Rahman ibn Abi bakr al-Suyuthi,
Tadrib al-RAwi fi Syarh Taqrib an- Nawawi, jilid 1, Beirut: Dar al-Fikr
Kahar Masyur, Pokok-pokok Ulumul Qur’an,Rineka Cipta,
Jakarta, 1992
Kamaluddin Marzuki, Ulumul Quran, PT Remaja Rosda Karya,
Bandung, 1994
Khatib, Al.M. Ajjaj. Al Sunah Qobla Al Tadwin.Dar Al
Fikr: Beirut, 1997
Mana’ul Quthan, Pembahasan ilmu Al-Qur’an, PT Rineka
cipta, Jakarta, 1993
M. Hasbi Ashshiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu
alqur’an dan Tafsir, PT Bulan Bintang, Jakarta, 1992
Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, Dana Bakti
Primayasa, Yogyakarta, 1998
M. Quraish Shihab, ‚Membumikan‛ Al-Qur’an: Fungsi dan
Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Cet. XIX; Bandung: Mizan, 1999)
Muhammad Ahmad &
M. Mudzakir, Ilmu Hadis (Cet – 10), Pustaka Setia, Bandung, 2000
Muhammad Ahmad. Ulumul Hadis. Pustaka Setia, Bandung,
2004
Nawir Yuslem. MA, ulumul Hadis, Mutiara sumber widya,
Jakarta 2001
Rofi’i, Ahmad & Ahmad Syadali. Ulumul Quran Pustaka
Setia, Bandung 1997.
Subhi Ash-Shalih, Membahas ilmu-ilmu Al-quran, terjemah
Nur Rakhim, Pustaka Firdaus Jakarta, 1993
Suparta, Munzier. Ilmu Hadis, Raja Grapindo: Jakarta,
2002
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy Sejarah dan
Pengantar Ilmu Hadis, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 1998
Zarkasih, M.Ag.,
Pengantar Studi Hadis, Aswaja Presindo, Yogyakarta, 2012
|
Mengetahui, Kepala
Sekolah LUFIANA, S.S NBM.
1024550 |
MAGELANG, ......JANUARI
2025 Guru Mata Pelajaran KUNI HIRIYANTI, S.Pd NIP. - |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar