MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH
MATA PELAJARAN : AKIDAH AKHLAK
BAB 7 : JADIKAN ISLAM WASHATIYAH SEBAGAI
RAHMATAN LIL ALAMIN
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Madrasah : MA Muhammadiyah Blabak
Nama
Penyusun : Kuni Hiriyanti, S. Pd
Mata Pelajaran : Akidah Akhlak
Kelas / Fase Semester :
X/ E / 2
Elemen : Jadikan Islam Washatiyah Sebagai Rahmatan
Lil Alamin
Alokasi waktu : 3 X pertemuan ( 1 x 45 menit )
Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, dalam elemen akidah,
peserta didik mampu menganalisis sifat wajib dan mustahil bagi Allah Swt. (nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah) dan sifat-sifat jaiz Allah
Swt., asma' al-Husna, Islam wasathiyah (moderat) dan Islam radikal.
Pada elemen akhlak, peserta didik membiasakan akhlak terpuji (taubat, hikmah, iffah, syaja 'ah dan 'adalah);dan menghindari akhlak tercela
(hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, riya' dan sifat-sifat turunannya, nafsu
syahwat, licik, tamak, zhalim, dan
diskriminatif, għadlab); serta cara
menundukkannya melalui mujahadah, riyadlah, dan tazkiyatun nufus. Pada
elemen adab peserta didik mampu menganalisis dan membiasakan adab mengunjungi
orang sakit, berbakti kepada orang tua dan guru berdasarkan dalil dan pendapat
ulama. Dalam elemen kisah teladan, peserta didik mampu menganalisis dan
mengambil ibrah dari kisah Nabi Luth a.s. dalam kehidupan sehari-hari.
|
Elemen |
Capaian Pembelajaran |
|
Akidah |
Peserta didik mampu
menganalisis sifat wajib, mustahil Allah Swt. (nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah) dan sifat jaiz Allah Swt., asma' al-husna (al-Karim, al-Mu'min, al-Wakiil, al- Matiin, al-Jaami,
al-Hafiz, al-Rafi', al-Wahhab, al-Rakib, al-Mubdi, al-Muhyi, al-Hayyu,
al-Qoyyum, al-Akhir, al-Mujib, dan al-Awwal,
dan nama lainnya), serta pemahaman Islam wasathiyah (moderat) sebagai upaya membentuk sikap moderasi
beragama dalam akidah dan muamalah untuk mewujudkan harmoni kehidupan
berbangsa dan bernegara yang berkebinekaan. |
|
Akhlak |
Peserta didik mampu
menganalisis akhlak terpuji-hikmah,
iffah, syaja 'ah, dan 'adalah; menghindari akhlak tercela hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, riya, dan sifat-sifat turunannya,
serta syahwat, ghadlab, licik,
tamak, dzalim, dan diskriminatif, melalui tazkiyatun
nufus dengan cara mujahadah dan
riyadlah, sehingga terbentuk
pribadi yang memiliki kesalehan individual dan sosial dalam menjalankan
kehidupan berbangsa dan bernegara. |
|
Adab |
Peserta didik mampu
membiasakan dan mengevaluasi adab berbakti kepada orang tua dan guru,
mengunjungi orang sakit berdasarkan dalil dalam konteks kehidupan global
sehingga terbentuk pribadi yang peduli dan santun dalam kehidupan
sehari-hari. |
|
Kisah Keteladanan |
Peserta didik mampu
meneladani kisah Nabi Luth a.s. dalam kesabaran, ketangguhan dan ke beranian
dalam menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar, sehingga dapat diambil
inspirasi dalam menghadapi tantangan kehidupan yang hedonis, materialistis
dan sekuler di era global. |
B Kompetensi Awal
Modernisasi sains menuntut tumbuhnya semangat komersialisasi
berbagai bidang kehidupan masyarakat tak terkecuali sisi-sisi kehidupan
beragama. Tolak ukur keberhasilan suatu perkara dikaitkan dengan bagaimana
dapat berkiprah dalam membangun roda ekonomi yang semakin ke depan masyarakat
dituntut untuk memiliki kecakapan yang lebih agar dapat bersaing dengan pribadi
yang lain. Oleh karena itu, sudah jamak di telinga kita bahwa persaingan hidup
kian mengerus sosial yang tidak kenal waktu akan memberangus siapa yang tidak
siap di era modern ini.
Sejarah Islam membuktikan bahwa
kepentingan demi kepentingan yang telah membuat umat Muslim menjadi beragam.
Coraknya tampak dengan mengedepankan perebutan kekuasaan, kulturisasi serta
faktor kultur yang lain yang telah menjelma menjadi friksi di masyarakat
Muslim.
Namun hal tersebut lazim terjadi
mengingat sumber pedoman hidup melalui tafsir al-Qur’an al-Karim yang tidak
lain mengandung ayat Muhkamah dan Mutasyabihah serta al-Hadits al-Nabawi. Oleh karena
itu, umat Muslim memiliki keragaman dalam memahami Islam itu sendiri.
Di berbagai belahan dunia demikian
juga di Indonesia, terdapat setidaknya 3 golongan kaum yaitu (1) Fundamentalis
yang dengan ketat memaknai Islam dari apa yang terkandung secara tekstual dalam
al-Qur’an, (2) Liberalis yang memberikan ruang logika sebagai pertimbangan
dalam memaknai hukum Islam, serta (3) Moderat yang memaknai Islam dengan
melihat kandungan al- Qur’an, kaidah Syar’iyahnya, maslahahnya serta menjadi
penengah yang mempertimbangkan toleransi dalam melihat persoalan sosial.
Islam Moderat berorientasi pada
prinsip santun dalam bersikap, berinteraksi yang harmonis dalam masyarakat,
mengedepankan perdamaian serta anti kekerasan dalam berdakwah. Ajaran ini memang
selaras dengan kandungan utama Islam yang membawa misi Rahmatan Lil Alamin yaitu
membawa rahmat bagi seluruh alam. Dalam hal ini menghargai pendapat serta
menghormati adanya orang lain adalah sisi penting yang dibangun oleh Islam
Moderat.
C. Profil Pelajar Pancasila
(PPP) dan Pelajar Rahmatan lil Alamin (PRA)
§ Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai
adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis
dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global.
§ Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin yang ingin dicapai adalah taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh.
D. Sarana dan Prasarana
Media : LCD proyektor,
komputer/laptop, jaringan internet, dan lain-lain
Sumber
Belajar : LKPD, Buku Teks, laman
E-learning, E-book, dan lain-lain
E. Target Peserta Didik
Peserta didik cerdas istimewa berbakat dan peserta didik regular
F. Model DAN METODE
Pembelajaran
Model
Pembelajaran : Discovery learning
Metode
Pembelajaran : Karya kunjung, market of place, demonstrasi
KOMPETENSI INTI
A. Tujuan Pembelajaran
§ Menela’ah makna dalil Islam washatiyah
§ Menguraikan pengertian Islam Washatiyah
§ Memerinci ciri-ciri Islam
Washatiyah
§ Menguraikan peranan Islam Washatiyah sebagai rahmatan
lil ‘alamin
§ Menelaah pengertian radikalisme
§ Memerinci ciri-ciri radikalisme dalam Islam
§ Mengupas Islam menentang radikalisme
§ Mendiskusikan hasil analisis tentang makna,
dalil dan ciri-ciri Islam washatiyah (moderat) dan ciri-ciri pemahaman
radikalisme dalam Islam
§ Menuliskan dalil dasar Islam washatiyah
(moderat)
§ Mendiskusikan hasil analisis tentang makna,
dalil dan ciri-ciri Islam washatiyah (moderat) dan ciri-ciri pemahaman Islam radikal
B. Pemahaman Bermakna
§ Menganalisis makna, dalil dan ciri-ciri Islam
washatiyah (moderat) dan ciri-ciri pemahaman Islam radikal
§ Menyajikan hasil analisis tentang makna,
dalil dan ciri-ciri Islam washatiyah (moderat) dan ciri-ciri pemahaman Islam
radikal
C. Pertanyaan Pemantik
Guru menanyakan kepada peserta didik seputar
materi Jadikan Islam Washatiyah Sebagai Rahmatan Lil
Alamin
D. Kegiatan Pembelajaran
PERTEMUAN KE-1
Islam Washatiyah
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong
royong, serta kebhinnekaan global) dan Profil Pelajar
Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub,
tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Islam
Washatiyah |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Islam Washatiyah |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Islam Washatiyah |
|
Communication |
§ Peserta
didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal,
mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok
atau individu yang mempresentasikan |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Islam Washatiyah |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
PERTEMUAN KE-2
Radikalisme
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Radikalisme |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Radikalisme |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Radikalisme |
|
Communication |
§ Peserta
didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal,
mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok
atau individu yang mempresentasikan |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Radikalisme |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
E. Pembelajaran Diferensiasi
§ Untuk siswa yang sudah memahami materi ini
sesuai dengan tujuan pembelajaran dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh,
disarankan untuk membaca materi Jadikan Islam Washatiyah
Sebagai Rahmatan Lil Alami dari berbagai referensi yang relevan.
§ Guru dapat menggunakan alternatif metode dan
media pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing agar pelaksanaan
pembelajaran menjadi lebih menyenangkan (joyfull
learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.
§ Untuk siswa yang kesulitan belajar topik ini,
disarankan untuk belajar kembali tata cara pada pembelajaran di dalam dan atau
di luar kelas sesuai kesepataan antara guru dengan siswa. Siswa juga disarankan
untuk belajar kepada teman sebaya.
F. ASESMEN / PENILAIAN
1. Asesmen Formatif (selama proses pembelajaran)
a. Asesmen
awal
Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam
memasuki pembelajaran, dengan pertanyaan:
|
No |
Pertanyaan |
Jawaban |
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
1 |
Apakah
pernah membaca buku terkait ? |
|
|
|
2 |
Apakah
kalian ingin menguasai materi pelajaran dengan baik ? |
|
|
|
3 |
Apakah
kalian sudah siap melaksanakan pembelajaran dengan metode inquiry learning,
diskusi ? |
|
|
b. Asesmen
selama proses pembelajaran
Asesmen ini dilakukan guru selama
pembelajaran, khususnya saat peserta didik melakukan kegiatan diskusi,
presentasi dan refleksi tertulis. Asesmen saat inquiry learning (ketika peserta didik melakukan kegiatan belajar
dengan metode inquiry learning)
Lembar kerja
pengamatan kegiatan pembelajaran dengan metade
inquiry learning
|
No |
Nama Siswa |
Arpak yang diamati |
Skor |
|||||
|
Gagasan |
Aktif |
Kerjasama |
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai akhir x 25 |
||||||||
2. Asesmen Sumatif
a. Asesmen
Pengetahuan
Soal Asesmen Pengetahuan
A) Jawablah
pertanyaan berikut ini!
1. Berikan contoh
bahwa Islam Washatiyah berperan sebagai penengah antara faham liberalisme dan
radikalisme !
2. Sebutkan dampak
negatifnya apabila ajaran radikalisme dibiarkan berkembang!
3. Ada beberapa
faktor yang menyebabkan munculnya faham radikalisme, salah satunya adalah
pengetahuan agama yang dimiliki setengah-setengah. Apa yang dimaksud dengan
pengetahuan agama yang setengah-setengah, dan berikan contohnya !
4. Islam menolak
adanya ajaran radikalisme, karena Islam menghendaki manusia itu hidup dengan
penuh kasih sayang, toleransi, dan damai. Sebutkan hal-hal yang harus ditempuh
agar tercipta hidup penuh damai dan kasih sayang!
5. Berikan contoh
pengamalan ajaran Islam Washatiyah yang dalam beribadah menyeimbangkan antara hablum
minallah dan hablum minannas!
B) Portofolio
dan Penilaian Sikap
1. Carilah beberapa
ayat dan hadis yang berhubungan dengan makna Islam Washatiyah dan larangan
radikalisme dalam Islam dengan mengisi kolom di bawah ini.
|
No |
Nama Surah + No.
Ayat/ Hadis + Riwayat |
Redaksi Ayat/ Hadis |
|
1 |
|
|
|
2 |
|
|
|
3 |
|
|
|
4 |
|
|
|
5 |
|
|
|
Dst |
|
|
2. Setelah kalian
memahami uraian mengenai ajaran Islam tentang ”Islam Washatiyah dan
Radikalisme.” Ayo kita cermati wacana berikut ini dan berikan komentarmu!
IBRAH
James
Volay adalah seorang jurnalis yang tewas dibantai. Peristiwa pembantaian Volay
direkam dan diunggah ke youtube. Sementara itu ratusan perempuan dan anak kecil
dari etnis Yazidi Suriah meregang nyawa saat dikubur hidup-hidup. Bahkan lebih
dari 150. 000 muslim tewas dibunuh oleh kelompok muslim ekstrimis itu di Iraq
dan Suriah (Muhammad, 2014: 43).
Kelompok
muslim ekstrimis itu menamai dirinya ISIS, singkatan dari Islamic States of
Iraq and Syiria. Mereka berkeinginan mendirikan negara ISIS di wilayah Irak dan
Syiria. Namun usaha mereka untuk mewujudkan keinginannya itu amat jauh dari
nilai-nilai keislaman itu sendiri, bak panggang yang jauh dari api.
Misalnya,
menganggap kafir orang lain di luar anggotanya, sehingga halal dibunuh, bahkan
sesama muslim pun ia penggal kepalanya.
Akar
penyebab terjadinya aksi radikal dan teror adalah takfir ghuluw, yaitu
berlebih-lebihan dalam menvonis kafir terhadap sesama muslim (TV One, akses
24/03/2015). Berlebih-lebihan yang dimaksud adalah menvonis kafir secara
serampangan, padahal belum cukup syarat dan masih ada mani' atau penghalangnya menurut
agama (Taqiyuddin, 2013: 20).
Mirisnya,
perilaku takfir ghuluw yang merupakan ekspresi dari sikap ekstrem itu
terus menjangkiti umat Islam, termasuk umat Islam Indonesia. Jika ini terus
berlanjut maka akan menjadikan konflik sesama muslim. Tentu ini sangat
berbahaya bagi umat Islam dan Islam itu sendiri. Jika konflik tersebut terjadi
dalam skala yang lebih besar, maka berpotensi melahirkan perang saudara yang
mengerikan, seperti yang sudah terjadi di Mesir, Iraq dan Suriah. Sangat
memilukan bila itu juga terjadi di negeri seribu pulau ini.
Agar
tidak terjadi permusuhan antar umat Islam dan antar golongan di Indonesia, maka
semua pihak harus ikut memupuk persatuan dan kesatuan serta menghindari upaya
adu domba dari pihak-pihak lain yang tidak menginginkan negara ini aman dan
damai.
b. Asesmen
keterampilan
1) Peserta
didik mempraktikkan berkenalan secara lisan dan tulis
Contoh rubrik
penilaian praktek:
Nama : …………………………………..
Kelas :
…………………………………..
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Kelancaran
(kompetensi gramatikal di aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
2 |
Ketepatan
(kompetensi gramatikal aspek nahwu sharaf) |
20 |
|
3 |
Isi
(kompetensi wacana dan sosiolinguistik) |
20 |
|
4 |
Ucapan/pelafalan
(kompetensi gramatikal aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
5 |
Gestur
(kompetensi strategi) |
20 |
|
Total |
100 |
|
Indikator
Penilaian aspek kelancaran (fluency)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
15 - 20 |
|
2 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
10 - 14 |
|
3 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
5 - 9 |
|
4 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek ketepatan (accuracy)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
15 - 20 |
|
2 |
Tidak ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
10 - 14 |
|
3 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
5 - 9 |
|
4 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek isi
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi
umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari
klasifikasi detail |
25 -30 |
|
2 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi
khusus dari klasifikasi kurang detail |
20 - 24 |
|
3 |
Memiliki
struktur teks deskriptif tidak lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari
klasifikasi kurang detail |
15 - 19 |
|
4 |
Memiliki
struktur teks deskriptif kurang lengkap (deskripsi umum dan deskripsi
khusus), deskripsi umum meliputi definisi, dan deskripsi khusus kurang sesuai |
10 - 14 |
|
5 |
Tidak ada
komponen struktur deskriptif |
1 - 9 |
Petunjuk penskoran:
Penghitungan skor akhir menggunakan rumus:
Skor Perolehan x 10 = ….
2) Peserta
didik membuat kartu nama
Contoh rubrik
penilaian produk kartu nama
|
No |
Nama Siswa |
Perencanaan Bahan |
Aspek Yang Dinilai |
Jml |
|||
|
Proses Pembuatan |
Hasil Produk |
||||||
|
Langkah pembuatan |
Teknik pembuatan |
Bentuk fisik |
Inovasi |
||||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan:
Skor antara 1 – 5
Aspek yang dinilai disesuaikan dengan tugas
yang diberikan
G. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Pengayaan
§ Pengayaan diberikan kepada
peserta didik yang telah mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.
§ Guru memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang lebih variatif dengan menambah keluasan dan
kedalaman materi yang mengarah pada high
order thinking
§ Program pengayaan dilakukan di luar
jam belajar efektif.
Remedial
§ Remedial diberikan kepada peserta didik yang
belum mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran
§ Guru melakukan pembahasan ulang terhadap
materi yang telah diberikan dengan cara/metode yang berbeda untuk memberikan
pengalaman belajar yang lebih memudahkan peserta didik dalam memaknai dan
menguasai materi ajar misalnya lewat diskusi dan permainan.
§ Program remedial dilakukan di luar jam
belajar efektif.
H. REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK
Refleksi Guru:
Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan
kegiatan pengajaran di kelas, misalnya:
§ Apakah semua peserta didik terlibat aktif
dalam pembelajaran iniv ?
§ Apakah ada kesulitan yang dialami peserta
didik?
§ Apakah semua peserta didik sudah dapat
melampaui target pembelajaran?
§ Sudahkan tumbuh sikap yang mencerminkan
profil pelajar pancasila dan profil pelajar rahmatal lil ‘alamin?
§ Apa langkah yang perlu dilakukan untuk
memperbaiki proses belajar?
Refleksi Peserta Didik:
|
No |
Pertanyaan Refleksi |
Jawaban Refleksi |
|
1 |
Bagian manakah yang menurut kamu hal paling sulit dari
pelajaran ini? |
|
|
2 |
Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki hasil
belajarmu? |
|
|
3 |
Kepada siapa kamu akan meminta bantuan untuk memahami pelajaran
ini? |
|
|
4 |
Jika kamu diminta untuk memberikan bintang 1 sampai 5,
berapa bintang yang akan kamu berikan pada usaha yang telah dilakukan |
|
|
|
LAMPIRAN- LAMPIRAN
Lampiran 1
LEMBAR KERJA PESERTA
DIDIK (LKPD)
Formal
ataupun non formal. Meningkatkan rasa toleransi dengan cara menghormati perbedaan
yang ada, serta harus mewaspadai adanya pengaruh-pengaruh dari paham yang mempengaruhi
terhadap radikalisme.
Setelah
Anda mendalami materi “ciri-ciri Islam washatiyah (moderat) dan ciri-ciri radikalisme
dalam Islam,” maka selanjutnya lakukanlah diskusi dengan kelompok Anda! Bentuk
kelompok kecil beranggotakan 4-6 siswa/ kelompok, kemudian persiapkan diri
untuk mempresentasikan hasil diskusi tersebut di depan kelas. Adapun hal-hal
yang perlu didiskusikan adalah sebagai berikut.
1.
Bagaimana mewujudkan Islam Washatiyah
sebagai rahmatan lil alamin
2. Cara
menghindari diri dari pengaruh radikalisme
Lampiran 2
MATERI
BAHAN AJAR
1. Islam
Washatiyah
a. Menelaah
Makna dan Dalil Islam Washatiyah
Secara
bahasa, kata washatiyah berasal dari kata wasatha ( وَسَطَ
) yang berarti adil atau sesuatu yang berada di pertengahan.
Ibnu ’Asyur mendefinisikan kata ”wasath” dengan dua makna. Pertama, definisi
menurut etimologi, kata wasath berarti sesuatu yang ukurannya sebanding.
Kedua, definisi menurut terminologi bahasa, makna wasatha adalah
nilai-nilai Islam yang dibangun atas dasar pola pikir yang lurus dan
pertengahan, tidak berlebihan dalam hal tertentu.
Islam
Washatiyah adalah yakni Islam tengah diantara dua titik ekstrem yang saling
berlawanan, yaitu antara taqshir (meremehkan) dan ghuluw (berlebihlebihan)
atau antara liberalisme dan radikalisme. Islam Washatiyah berarti Islam jalan
tengah. Tidak terlibat kekerasan, sampai pembunuhan, terbuka dan berada di atas
untuk semua golongan. Hal ini berdasarkan Sabda Rasul :
”Pilihlah
perkara yang berada diantara dua hal dan sebaik-baik persoalan adalah sikap paling
moderat (tengah).”(HR. Baihaqi)
Islam
Wasathiyah, selanjutnya dikenal dengan Islam moderat, adalah Islam yang cinta damai,
toleran, menerima perubahan demi kemaslahatan, perubahan fatwa karena situasi dan
kondisi, dan perbedaan penetapan hukum karena perbedaan kondisi dan psikologi seseorang
adalah adil dan bijaksana.
Allah
berfiraman dalam Qur’an Surat al-Baqarah ayat 143 :
“Dan
demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath (adil)
dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad)
menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. al-Baqarah [2]: 143).
Adapun
makna ”Ummatan wasathan” pada ayat di atas adalah ummat yang adil dan terpilih.
Maksudnya umat Islam ini adalah ummat yang paling sempurna agamanya, paling
baik akhlaknya, paling utama amalnya.
Wasath atau jalan tengah dalam beragama Islam dapat
diklasifikasi ke dalam empat lingkup yaitu:
1) Wasath dalam
persoalan akidah. Dalam persoalan iman kepada yang ghaib, diproyeksikan dalam
bentuk keseimbangan pada batas-batas tertentu. Contohnya sebagai berikut.
a) Islam tidak
seperti keimanan mistisisme yang cenderung berlebihan dalam mempercayai benda
ghaib.
b) Akidah Islam
menentang dengan tegas sistem keyakinan kaum atheis yang menafikan wujud Tuhan
c) Islam memberikan
porsi berimbang antara fikir dan dzikir. Islam memosisikan wahyu sebagai
pembimbing nalar, menuju kemaslahatan dunia akhirat melalui syari’ahnya.
2) Wasath dalam
persoalan ibadah. Dalam masalah ibadah menyeimbangkan antara hablum minallah
dan hablum minannas.
3) Wasath dalam
persoalan perangai dan budi pekerti. Dalam persoalan perangai dan budi pekerti,
Islam memerintahkan manusia untuk bisa menahan dan mengarahkan hawa nafsunya
agar tercipta budi pekerti yang luhur (akhlakul karimah) dalam kehidupan
sehari-hari.
4) Wasath dalam
persoalan tasyri’ (pembentukan syari’ah). Selalu tunduk dan patuh pada
syari’at Allah dan menjaga keseimbangan tasyri’ dalam Islam yaitu
penentuan halal dan haram yang selalu mengacu pada alasan manfaat-madarat,
suci-najis, serta bersih kotor.
b. Ciri-ciri
Islam Washatiyah
Islam
Washatiyah tidak bisa hanya disimpulkan dengan satu atau dua kata karena paling
sedikit ada 10 prinsip yang dapat disampaikan kepada ummat, yang merupakan prinsip
dasar dan ciri-ciri amaliah keagamaan seorang muslim moderat (wasathiyah) yaitu
sebagai berikut.
Pemahaman
dan praktik amaliah keagamaan seorang muslim moderat (wasathiyah) memiliki
ciri-ciri sebagi berikut.
1) Tawassuth (mengambil
jalan tengah) yaitu pemahaman dan pengamalan yang tidak ifraath (berlebih-lebihan
dalam beragama) dan tafriith (mengurangi ajaran agama)
2) Tawazun (berkeseimbangan)
yaitu pemahaman dan pengamalan agama secara seimbang yang meliputi semua aspek
kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi.
3) I’tidal (lurus
dan tegas) yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan
memenuhi kewajiban secara proporsional.
4) Tasamuh (toleransi)
yaitu mengakui dan menghormati perbedaan, baik dalam aspek keagamaan dan
berbagai aspek kehidupan lainnya.
5) Musawah (persamaan)
yaitu tidak bersikap diskriminasi pada yang lain sebab perbedaan keyakinan,
tradisi dan asal usul seseorang.
6) Syura (musyawarah)
yaitu setiap persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencapai
mufakat dengan prinsip kemaslahatan di atas segalanya.
7) Ishlah (reformasi)
yaitu mengutamakan prinsip reformatif untuk mencapai keadaan lebih baik yang
mengakomodasi perubahan dan kemajuan zaman dengan berpijak pada kemaslahatan
umum dengan tetap berpegang pada prinsip melestarikan tradisi lama yang baik,
dan menerapkan hal-hal baru yang lebih baik.
8) Aulawiyah (mendahulukan
yang peroritas) yaitu kemampuan mengidentifikasi hal ihwal yang lebih penting
harus diutamakan untuk diimplementasikan dibandingkan dengan kepentingan lebih
rendah.
9) Tathawur wa
ibtikar (dinamis dan inovatif) selalu terbuka untuk melakukan
perubahaperubahan sesuai dengan perkembangan zaman serta menciptakan hal-hal
baru untuk kemaslahatan dan kemajuan umat manusia.
10) Tahadhdhur (berkeadaban)
yaitu menjunjung tinggi akhlak mulia, karakter, identitas, dan integrasi sebagi
khairu ummah dalam kehidupan kemanusiaan dan peradaban.
c. Islam
Washatiyah sebagai Rahmatan Lil Alamin
Dewasa
ini kita dihadapkan pada munculnya kelompok Islam yang intoleran, eksklusif,
mudah mengkafirkan orang, kaku, dan kelompok lain yang gampang menyatakan
permusuhan dan melakukan konflik, bahkan kalau perlu melakukan kekerasan
terhadap sesama muslim yang tidak sepaham dengan kelompok lainnya.
Selain
itu kita juga dihadapkan pada munculnya komunitas Islam yang cenderung liberal dan
pesimis.
Kedua
kelompok tersebut tergolong kelompok ekstrem kanan (tatharuf yamin) dan
ekstrem kiri (yasar), yang bertentangan dengan wujud ideal dalam
mengimplementasikan ajaran Islam di Indonesia bahkan dunia. Bagi kita bangsa Indonesia
khususnya menolak pemikiran atau paham keagamaan dan ideologi serta gerakan kedua
kelompok tersebut, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip
yang dianut dan dibangun bangsa Indonesia, yaitu mewujudkan pesatuan umat.
Islam
wasathiyah sejatinya merupakan ajaran ulama nusantara yang selama ini dianut dan
diamalkan oleh umat Islam di nusantara. Namun setelah terjadinya revolusi teknologi
informasi, dimana semua paham keagamaan bisa diakses dengan mudah dan bebas
oleh masyarakat, maka mulailah ajaran keagamaan yang awalnya tidak dikenal di Indonesia
dan berkembang di negara lain, mulai masuk dan diajarkan di Indonesia.
Termasuk
ajaran keagamaan yang radikal yang bisa membimbing pemeluknya melakukan
tindakan teror. Oleh karena itu merupakan hal yang sangat penting untuk mengembalikan
umat Islam kepada ajaran ulama nusantara. Antara lain dengan mengembalikan pada
pemahaman Islam wasathiyah.
Islam
yang rahmatan lil alamin itu adalah Islam wasati, Islam yang moderat,
yaitu Islam Washatiyah.” Islam yang moderat itu dapat dilihat dari cara
seseorang berfikir dan bergerak. Cara berfikir yang moderat adalah tidak
terlalu tekstual dan tidak terlalu liberal. ”Tekstual itu kaku tanpa
penafsiran, liberal itu penafsirannya terlalu lebar tanpa batas”.
Islam
rahmatan lil alamin adalah Islam yang dinamis dan tidak kaku tetapi juga
tidak memudah-mudahkan masalah. ”tidak galak tetapi juga tidak mencari yang
mudah-mudah saja”. Islam wasathiyah adalah yang bisa menerima NKRI . ”karena
Indonesia bukan hanya milik kita, tapi milik kita semua.”
Sebagai
paham atas berkembangnya paham dan gerakan kelompok yang intoleran, rigid (kaku),
dan mudah mengkafirkan (takfiri), maka amaliyah keagamaan Islam Washatiyah
perlu dikembangkan sebagai implementasi Islam (rahmatan lil alamin), untuk
memperjuangkan nilai-nilai ajaran Islam yang moderat dalam kehidupan keagamaan,
kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan. Sikap moderat adalah bentuk manifestasi
ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi segenap alam
semesta.
Sikap
moderat perlu diperjuangkan untuk lahirnya umat terbaik (khairu ummah).
Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus menyosialisasikan Islam Wasathiyah
yakni Islam yang moderat penuh kasih sayang sebagai upaya dalam mencegah
penyebaran paham radikalisme di masyarakat, mengembalikan praktik beragama agar
sesuai dengan esensinya, dan agar agama benar-benar berfungsi menjaga harkat
dan martabat manusia.
Moderasi
beragama sebagai solusi, agar dapat menjadi kunci penting untuk menciptakan
kehidupan keagamaan yang rukun, harmoni, damai, serta menekankan pada keseimbangan,
baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan
sesama manusia secara keseluruhan, sehingga benar-benar terwujud rahmatan lil
alamin.
2. Radikalisme
a. Makna
Radikalisme
Kata
radikalisme sebagai turunan kata “radikal” bersifat netral dan tidak
terkait dengan masalah agama. Radikal merupakan sebuah kata yang sering
digunakan dalam kajian filsafat. Radikal berasal dari bahasa Latin yaitu ”radix”
yang berarti ”akar”.
Secara
etimologi kata radikal mengandung arti segala sesuatu yang sifatnya mendasar sampai
ke akar-akarnya atau sampai pada prinsipnya. Sikap radikal akan mendorong
perilaku individu untuk membela secara mati-matian mengenai suatu kepercayaan, keyakinan,
agama atau ideologi yang dianutnya.
Radikalisme
dianggap baik karena memiliki asosiasi/konotasi positif dengan progresif dan
inovatif. Sedangkan radikalisme dianggap buruk karena memiliki
asosiasi/konotasi negatif dengan ekstrimisme. Radikalisme dijadikan sebagai
salah satu paham atau aliran yang menuntut perubahan dan pembaharuan sistem
sosial dan politik dengan cara kekerasan atau ekstrem. Paham radikalisme ini
sering kali dikaitkan dengan agama/ mengatasnamakan agama, padahal semua agama
tidak mengajarkan kekerasan. Namun agama yang sering menjadi target adalah
agama Islam. Sehingga muncul adanya orang Islam yang radikal, yaitu orang Islam
yang mempunyai pikiran yang kaku dan sempit dalam memahami Islam, serta
eksklusif dalam memandang agama-agama lain.
Radikalisme
atas nama agama ini tidak jarang kemudian menimbulkan konflik sampai pada
puncaknya, terjadinya terorisme dalam taraf membahayakan stabilitas dan
keamanan Negara. Dan pada akhirnya, radikalisme ini, menjadi menyebabkan
peperangan yang justru menimbulkan rasa tidak aman. Pada taraf terendah,
radikalisme sampai mengganggu keharmonisan dan kerukunan masyarakat. Klaim
“sesat”, “bida’ah”, dan “kafir” bagi kalangan yang tidak sependapat dengannya. Tapi
perlu digaris bawahi , hakikat Islam adalah agama yang cinta dan membawa kedamaian.
Mereka yang menerapkan kekerasan dengan mengatasnamakan Islam bukanlah orang
Islam sesungguhnya. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab adanya radikalisme
diantaranya adalah:
1) Pengetahuan
agama yang setengah-setengah melalui proses belajar yang doktriner
2) Memahami Islam
dari kulitnya saja tetapi minim wawasan tentang esensi agama
3) Disibukkan oleh
masalah sekunder dan melupakan masalah-masalah primer
4) Lemah dalam
wawasan sejarah dan sosiologi sehingga fatwa-fatwa mereka sering bertentangan
dengan kemaslahatan umat, akal sehat, dan semangat zaman.
b. Ciri-ciri
Radikalisme
Mengenali
ciri-ciri radikalisme dan terorisme menjadi penting bagi masyarakat untuk melakukan
pencegahan paham ekstrem tersebut.
Adapun
ciri-ciri radikalisme dalah sebagai berikut :
1) Intoleransi
dengan orang lain yang memiliki perbedaan pandangan dan mengingkari fakta
kebhinekaan .yang ada di Indonesia .
2) Sikap
berlebihan. Berlebihan dalam beragama sehingga melanggar hukum dan norma agama.
3) Memaksakan
kehendak dengan berbagai dalil termasuk dalil agama. Bahkan ingin mengubah
moral masyarakat beragama dengan cara-cara khawarijiyah (berontak), bukan
tajridiyyah (bertahap, berproses).
4) Menggunakan
cara-cara kekerasan, baik verbal ataupun fisik, yang menumbuhkan kecemasan
(teror) dan penghancuran fisik (vandalisme) kepada orang lain yang tidak sepaham.
5) Merasa dirinya
paling benar, sehingga tidak mau mendengarkan argumentasi dari kelompok lain.
c. Islam
Menentang Radikalisme
Sikap
melampaui batas tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam semua urusan, apalagi
dalam urusan agama. Diantara sikap melampaui batas adalah bersikap radikal dengan
segala bentuknya yang menyelisihi syari’at. Islam melarang ummatnya melampaui
batas, dengan mengamalkan agama yang ekstrem sehingga melebihi batas kewajaran.
Sebagaimana sabda Rasulullah :
“Hindarilah
oleh kalian tindakan melampaui batas (ghuluw) dalam beragama sebab sungguh
ghuluw dalam beragama telah menghancurkan orang sebelum kalian.” (HR. an- Nasa’i
dan Ibnu Majah).
Berlebih-lebihan
dalam agama adalah dengan melakukan sesuatu yang melampaui batas dengan
kekerasan dan kekakuan. Islam dengan tegas menolak radikalisme karena sangat
membahayakan, merusak syari’ah dan ibadah umat Islam, merusak tatanan dan ideologi
negara, bahkan menimbulkan teroris dan pembunuhan. Maka paham radikalisme harus
dihentikan penyebarannya dengan berbagai macam cara, diantaranya adalah dengan meningkatkan
pemahaman agama secara kaffah atau sempurna, baik melalui pendidikan
Lampiran 3
GLOSARIUM
Bid’ah :
Perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan
Dalil Aqli :
Berdasarkan akal
Dalil
Naqli : Berdasarkan Qur’an Hadis
Doktriner : Ajaran
(tentang asas suatu aliran politik, keagamaan)
Ekstremisme : Orang
yang melampaui batas kebiasaan
Fasik : Orang
yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya
Ghadzabillah : Murka
Allah
Hablum
minallah : Hubungan dengan Allah
Hablum
minannas : Hubungan dengan sesama manusia
Hilm : Tidak
cepat emosi dan tidak bersikap masa bodoh
Ikhtilaf :
Perbedaan pendapat atau pikiran
Kafir :
Mengikuti kesalahan tetapi tetap menjalankan
Khawarijiyah : Berontak
Ma’ani : Sudah
tetap, tidak boleh tidak
Ma’nawiyah : Tabi’at,
sifat-sifat kejiwaan
Mistisisme : Ajaran
yang menyatakan hal-hal yang yang tidak terjangkau oleh akal manusia
Mujaahadah :
Bersungguh-sungguh
Mukallaf : Dewasa
dan tidak mengalami gangguan jiwa maupun akal
Musyrik : Orang
yang menyekutukan Allah
Mutasyabihah : Ayat
al-qur’an yang membutuhkan penafsiran dalam memahaminya
Nafsiyah : Orang
seseorang, sendiri sendiri
Radikalisme : Paham
atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan social dan politik
dengan cara kekerasan atau drastic
Sum’ah : Suka
memperdengarkan atau menceritakan kebaikannya kepada orang lain.
Ummatan
wasathan : Umat yang adil atau pertengahan
Zalim : Kejam,
bengis, tidak berperikemanusiaan
Lampiran 4
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Qur’an Al-Karim
Abdul Hiyadh, Terjemah Durrotun Nasihin, Mesir,
Surabaya, 1993
Abu Hudzaifah. Lc, Kisah Para Nabi dan Rasul,
Pustaka as-Sunah, Jakarta, 2007
Derektorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam
Departemen Agama, Akhlak Ilmu Tauhid, PT. Karya Unipres, Jakarta, 1982
’Aidh al-Qarni, La Tahzan ,Jangan Bersedih, Qisthi
Pres, Jakarta Timur, 2004
A. Ilyas Ismail, M.A, Pilar-pilar Takwa, (Doktrin.
Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan Spiritual), Rajawali Pers, (PT. Raja
Grafindo Persada), Jakarta, 2009
Handono, Aris Musthafa, zaenuri Siroj, Meneladani
Akhlak Untuk Kelas XI Madrasah Aliyah Program Keagamaan , PT. Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017
Handono, Aris Musthafa, Zaenuri Siroj, Meneladani
Akhlak Untuk Kelas XII Madrasah Aliyah Program Keagamaan , PT. Tiga
Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017
Hasyim Asy’ari, Penerjemah Rosidin, Pendidikan Khas
Pesantren (Adabul ’Alim wal Muta’allim), Tira Smart,Tangerang, 2017
M. Ali Haidar, Nahdhatul Ulama’ dan Islam di Indonesia,
PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998
M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, Tranmisi
Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia, Erlangga, Jakarta , 2005
Muhammad bin Abdul Wahab, Syarah Kitab al-Tauhid,
PT. Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984
Roli Abdul Rohman-M. Khamzah. Menjaga Akidah dan
Akhlak untuk kelas X Madrasah Aliyah, PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri,
Solo 2017
Sa’id Hawwa, Tazkiyatun Nafs (Intisari Ihya
Ulumuddin), Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2007
Salim Bahreisy, Irsyadul ’Ibad Ilasabilirrasyad (Petunjuk
ke Jalan Lurus ), Darussaggaf, Surabaya, 1977
Salim Bahreisy, Riyadhus
Shalihin, PT. Alma’arif, Bandung , 1987
Umar Sulaiman al-Asyqar , al-Asma’ al- Husna,
Qisthi Press, Jakarta timur Cetakan ke-6, Mei 2009
Zainuddin, Terjemah
Hadis Shahih Bukkhari, Widjaya, Jakarta 1992
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar