Jumat, 02 Januari 2026

MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH MATA PELAJARAN : AKIDAH AKHLAK BAB 7 : JADIKAN ISLAM WASHATIYAH SEBAGAI RAHMATAN LIL ALAMIN

 

MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH

MATA PELAJARAN : AKIDAH AKHLAK

BAB 7 : JADIKAN ISLAM WASHATIYAH SEBAGAI RAHMATAN LIL ALAMIN

 

INFORMASI UMUM

 

A.   Identitas Modul

Nama Madrasah              :    MA Muhammadiyah Blabak

Nama Penyusun               :    Kuni Hiriyanti, S. Pd

Mata Pelajaran                :    Akidah Akhlak

Kelas / Fase Semester      :    X/ E / 2

Elemen                              :    Jadikan Islam Washatiyah Sebagai Rahmatan Lil Alamin

Alokasi waktu                  :    3 X pertemuan ( 1 x 45 menit )

 

Capaian Pembelajaran

Pada akhir Fase E, dalam elemen akidah, peserta didik mampu menganalisis sifat wajib dan mustahil bagi Allah Swt. (nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah) dan sifat-sifat jaiz Allah Swt., asma' al-Husna, Islam wasathiyah (moderat) dan Islam radikal. Pada elemen akhlak, peserta didik membiasakan akhlak terpuji (taubat, hikmah, iffah, syaja 'ah dan 'adalah);dan menghindari akhlak tercela (hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, riya' dan sifat-sifat turunannya, nafsu syahwat, licik, tamak, zhalim, dan diskriminatif, għadlab); serta cara menundukkannya melalui mujahadah, riyadlah, dan tazkiyatun nufus. Pada elemen adab peserta didik mampu menganalisis dan membiasakan adab mengunjungi orang sakit, berbakti kepada orang tua dan guru berdasarkan dalil dan pendapat ulama. Dalam elemen kisah teladan, peserta didik mampu menganalisis dan mengambil ibrah dari kisah Nabi Luth a.s. dalam kehidupan sehari-hari.

Elemen

Capaian Pembelajaran

Akidah

Peserta didik mampu menganalisis sifat wajib, mustahil Allah Swt. (nafsiyah, salbiyah, ma'ani, dan ma'nawiyah) dan sifat jaiz Allah Swt., asma' al-husna (al-Karim, al-Mu'min, al-Wakiil, al- Matiin, al-Jaami, al-Hafiz, al-Rafi', al-Wahhab, al-Rakib, al-Mubdi, al-Muhyi, al-Hayyu, al-Qoyyum, al-Akhir, al-Mujib, dan al-Awwal, dan nama lainnya), serta pemahaman Islam wasathiyah (moderat) sebagai upaya membentuk sikap moderasi beragama dalam akidah dan muamalah untuk mewujudkan harmoni kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkebinekaan.

Akhlak

Peserta didik mampu menganalisis akhlak terpuji-hikmah, iffah, syaja 'ah, dan 'adalah; menghindari akhlak tercela hubbuddunya, hasad, ujub, sombong, riya, dan sifat-sifat turunannya, serta syahwat, ghadlab, licik, tamak, dzalim, dan diskriminatif, melalui tazkiyatun nufus dengan cara mujahadah dan riyadlah, sehingga terbentuk pribadi yang memiliki kesalehan individual dan sosial dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Adab

Peserta didik mampu membiasakan dan mengevaluasi adab berbakti kepada orang tua dan guru, mengunjungi orang sakit berdasarkan dalil dalam konteks kehidupan global sehingga terbentuk pribadi yang peduli dan santun dalam kehidupan sehari-hari.

Kisah Keteladanan

Peserta didik mampu meneladani kisah Nabi Luth a.s. dalam kesabaran, ketangguhan dan ke beranian dalam menegakkan amar ma'ruf dan nahi munkar, sehingga dapat diambil inspirasi dalam menghadapi tantangan kehidupan yang hedonis, materialistis dan sekuler di era global.

 

B    Kompetensi Awal

Modernisasi sains menuntut tumbuhnya semangat komersialisasi berbagai bidang kehidupan masyarakat tak terkecuali sisi-sisi kehidupan beragama. Tolak ukur keberhasilan suatu perkara dikaitkan dengan bagaimana dapat berkiprah dalam membangun roda ekonomi yang semakin ke depan masyarakat dituntut untuk memiliki kecakapan yang lebih agar dapat bersaing dengan pribadi yang lain. Oleh karena itu, sudah jamak di telinga kita bahwa persaingan hidup kian mengerus sosial yang tidak kenal waktu akan memberangus siapa yang tidak siap di era modern ini.

Sejarah Islam membuktikan bahwa kepentingan demi kepentingan yang telah membuat umat Muslim menjadi beragam. Coraknya tampak dengan mengedepankan perebutan kekuasaan, kulturisasi serta faktor kultur yang lain yang telah menjelma menjadi friksi di masyarakat Muslim.

Namun hal tersebut lazim terjadi mengingat sumber pedoman hidup melalui tafsir al-Qur’an al-Karim yang tidak lain mengandung ayat Muhkamah dan Mutasyabihah serta al-Hadits al-Nabawi. Oleh karena itu, umat Muslim memiliki keragaman dalam memahami Islam itu sendiri.

Di berbagai belahan dunia demikian juga di Indonesia, terdapat setidaknya 3 golongan kaum yaitu (1) Fundamentalis yang dengan ketat memaknai Islam dari apa yang terkandung secara tekstual dalam al-Qur’an, (2) Liberalis yang memberikan ruang logika sebagai pertimbangan dalam memaknai hukum Islam, serta (3) Moderat yang memaknai Islam dengan melihat kandungan al- Qur’an, kaidah Syar’iyahnya, maslahahnya serta menjadi penengah yang mempertimbangkan toleransi dalam melihat persoalan sosial.

Islam Moderat berorientasi pada prinsip santun dalam bersikap, berinteraksi yang harmonis dalam masyarakat, mengedepankan perdamaian serta anti kekerasan dalam berdakwah. Ajaran ini memang selaras dengan kandungan utama Islam yang membawa misi Rahmatan Lil Alamin yaitu membawa rahmat bagi seluruh alam. Dalam hal ini menghargai pendapat serta menghormati adanya orang lain adalah sisi penting yang dibangun oleh Islam Moderat.

 

C.   Profil Pelajar Pancasila (PPP) dan Pelajar Rahmatan lil Alamin (PRA)

§  Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global.

§  Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin yang ingin dicapai adalah taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh.

 

 

D.   Sarana dan Prasarana

Media                    :    LCD proyektor, komputer/laptop, jaringan internet, dan lain-lain

Sumber Belajar    :    LKPD, Buku Teks, laman E-learning, E-book, dan lain-lain

 

E.   Target Peserta Didik

Peserta didik cerdas istimewa berbakat dan peserta didik regular

 

F.    Model DAN METODE Pembelajaran

Model Pembelajaran       :    Discovery learning

Metode Pembelajaran     :    Karya kunjung, market of place, demonstrasi


 

KOMPETENSI INTI

 

A.   Tujuan Pembelajaran

§  Menela’ah makna dalil Islam washatiyah

§  Menguraikan pengertian Islam Washatiyah

§  Memerinci ciri-ciri Islam Washatiyah

§  Menguraikan peranan Islam Washatiyah sebagai rahmatan lil ‘alamin

§  Menelaah pengertian radikalisme

§  Memerinci ciri-ciri radikalisme dalam Islam

§  Mengupas Islam menentang radikalisme

§  Mendiskusikan hasil analisis tentang makna, dalil dan ciri-ciri Islam washatiyah (moderat) dan ciri-ciri pemahaman radikalisme dalam Islam

§  Menuliskan dalil dasar Islam washatiyah (moderat)

§  Mendiskusikan hasil analisis tentang makna, dalil dan ciri-ciri Islam washatiyah (moderat) dan ciri-ciri pemahaman Islam radikal

 

B.   Pemahaman Bermakna

§  Menganalisis makna, dalil dan ciri-ciri Islam washatiyah (moderat) dan ciri-ciri pemahaman Islam radikal

§  Menyajikan hasil analisis tentang makna, dalil dan ciri-ciri Islam washatiyah (moderat) dan ciri-ciri pemahaman Islam radikal

 

C.   Pertanyaan Pemantik

Guru menanyakan kepada peserta didik seputar materi Jadikan Islam Washatiyah Sebagai Rahmatan Lil Alamin

 

D.   Kegiatan Pembelajaran

PERTEMUAN KE-1

Islam Washatiyah

KEGIATAN PENDAHULUAN

§  Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam.

§  Melakukan pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas.

§  Guru memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan diajarkan.

§  Guru memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global) dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh)

KEGIATAN INTI

Kegiatan Literasi

§ Peserta didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Islam Washatiyah

Critical Thinking

§ Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami, dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik. Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Islam Washatiyah

Collaboration

§ Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Islam Washatiyah

Communication

§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang mempresentasikan

Creativity

§ Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari terkait : Islam Washatiyah

KEGIATAN PENUTUP

§  Guru membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan

§  Melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan

§  Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

 

PERTEMUAN KE-2

Radikalisme

KEGIATAN PENDAHULUAN

§  Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam.

§  Melakukan pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas.

§  Guru memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan diajarkan.

§  Guru memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global) dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh)

KEGIATAN INTI

Kegiatan Literasi

§ Peserta didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Radikalisme

Critical Thinking

§ Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami, dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik. Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Radikalisme

Collaboration

§ Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Radikalisme

Communication

§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang mempresentasikan

Creativity

§ Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari terkait : Radikalisme

KEGIATAN PENUTUP

§  Guru membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan

§  Melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan

§  Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

 

E.   Pembelajaran Diferensiasi

§  Untuk siswa yang sudah memahami materi ini sesuai dengan tujuan pembelajaran dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh, disarankan untuk membaca materi Jadikan Islam Washatiyah Sebagai Rahmatan Lil Alami dari berbagai referensi yang relevan.

§  Guru dapat menggunakan alternatif metode dan media pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing agar pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan (joyfull learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.

§  Untuk siswa yang kesulitan belajar topik ini, disarankan untuk belajar kembali tata cara pada pembelajaran di dalam dan atau di luar kelas sesuai kesepataan antara guru dengan siswa. Siswa juga disarankan untuk belajar kepada teman sebaya.

 

F.    ASESMEN / PENILAIAN

1.    Asesmen Formatif (selama proses pembelajaran)

a.    Asesmen awal

Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam memasuki pembelajaran, dengan pertanyaan:

No

Pertanyaan

Jawaban

Ya

Tidak

1

Apakah pernah membaca buku terkait ?

 

 

2

Apakah kalian ingin menguasai materi pelajaran dengan baik ?

 

 

3

Apakah kalian sudah siap melaksanakan pembelajaran dengan metode inquiry learning, diskusi ?

 

 

 

b.    Asesmen selama proses pembelajaran

Asesmen ini dilakukan guru selama pembelajaran, khususnya saat peserta didik melakukan kegiatan diskusi, presentasi dan refleksi tertulis. Asesmen saat inquiry learning (ketika peserta didik melakukan kegiatan belajar dengan metode inquiry learning)

 

Lembar kerja pengamatan kegiatan pembelajaran dengan metade inquiry learning

No

Nama Siswa

Arpak yang diamati

Skor

Gagasan

Aktif

Kerjasama

1

2

3

4

1

Sultan Haykal

 

 

 

 

 

 

 

2

Aisy Anindya

 

 

 

 

 

 

 

3

Dias Abdalla

 

 

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

 

 

 

dst

 

 

 

 

 

 

 

 

Nilai akhir x 25

 

2.    Asesmen Sumatif

a.    Asesmen Pengetahuan

 

Soal Asesmen Pengetahuan

A)   Jawablah pertanyaan berikut ini!

1. Berikan contoh bahwa Islam Washatiyah berperan sebagai penengah antara faham liberalisme dan radikalisme !

2. Sebutkan dampak negatifnya apabila ajaran radikalisme dibiarkan berkembang!

3. Ada beberapa faktor yang menyebabkan munculnya faham radikalisme, salah satunya adalah pengetahuan agama yang dimiliki setengah-setengah. Apa yang dimaksud dengan pengetahuan agama yang setengah-setengah, dan berikan contohnya !

4. Islam menolak adanya ajaran radikalisme, karena Islam menghendaki manusia itu hidup dengan penuh kasih sayang, toleransi, dan damai. Sebutkan hal-hal yang harus ditempuh agar tercipta hidup penuh damai dan kasih sayang!

5. Berikan contoh pengamalan ajaran Islam Washatiyah yang dalam beribadah menyeimbangkan antara hablum minallah dan hablum minannas!

 

B)   Portofolio dan Penilaian Sikap

1. Carilah beberapa ayat dan hadis yang berhubungan dengan makna Islam Washatiyah dan larangan radikalisme dalam Islam dengan mengisi kolom di bawah ini.

No

Nama Surah + No. Ayat/ Hadis + Riwayat

Redaksi Ayat/ Hadis

1

 

 

2

 

 

3

 

 

4

 

 

5

 

 

Dst

 

 

 

2. Setelah kalian memahami uraian mengenai ajaran Islam tentang ”Islam Washatiyah dan Radikalisme.” Ayo kita cermati wacana berikut ini dan berikan komentarmu!

IBRAH

James Volay adalah seorang jurnalis yang tewas dibantai. Peristiwa pembantaian Volay direkam dan diunggah ke youtube. Sementara itu ratusan perempuan dan anak kecil dari etnis Yazidi Suriah meregang nyawa saat dikubur hidup-hidup. Bahkan lebih dari 150. 000 muslim tewas dibunuh oleh kelompok muslim ekstrimis itu di Iraq dan Suriah (Muhammad, 2014: 43).

Kelompok muslim ekstrimis itu menamai dirinya ISIS, singkatan dari Islamic States of Iraq and Syiria. Mereka berkeinginan mendirikan negara ISIS di wilayah Irak dan Syiria. Namun usaha mereka untuk mewujudkan keinginannya itu amat jauh dari nilai-nilai keislaman itu sendiri, bak panggang yang jauh dari api.

Misalnya, menganggap kafir orang lain di luar anggotanya, sehingga halal dibunuh, bahkan sesama muslim pun ia penggal kepalanya.

Akar penyebab terjadinya aksi radikal dan teror adalah takfir ghuluw, yaitu berlebih-lebihan dalam menvonis kafir terhadap sesama muslim (TV One, akses 24/03/2015). Berlebih-lebihan yang dimaksud adalah menvonis kafir secara serampangan, padahal belum cukup syarat dan masih ada mani' atau penghalangnya menurut agama (Taqiyuddin, 2013: 20).

Mirisnya, perilaku takfir ghuluw yang merupakan ekspresi dari sikap ekstrem itu terus menjangkiti umat Islam, termasuk umat Islam Indonesia. Jika ini terus berlanjut maka akan menjadikan konflik sesama muslim. Tentu ini sangat berbahaya bagi umat Islam dan Islam itu sendiri. Jika konflik tersebut terjadi dalam skala yang lebih besar, maka berpotensi melahirkan perang saudara yang mengerikan, seperti yang sudah terjadi di Mesir, Iraq dan Suriah. Sangat memilukan bila itu juga terjadi di negeri seribu pulau ini.

Agar tidak terjadi permusuhan antar umat Islam dan antar golongan di Indonesia, maka semua pihak harus ikut memupuk persatuan dan kesatuan serta menghindari upaya adu domba dari pihak-pihak lain yang tidak menginginkan negara ini aman dan damai.

 

b.    Asesmen keterampilan

1)    Peserta didik mempraktikkan berkenalan secara lisan dan tulis

 

Contoh rubrik penilaian praktek:

 

Nama       :    …………………………………..

Kelas        :    …………………………………..

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Kelancaran (kompetensi gramatikal di aspek bunyi bahasa)

20

2

Ketepatan (kompetensi gramatikal aspek nahwu sharaf)

20

3

Isi (kompetensi wacana dan sosiolinguistik)

20

4

Ucapan/pelafalan (kompetensi gramatikal aspek bunyi bahasa)

20

5

Gestur (kompetensi strategi)

20

Total

100

 

Indikator Penilaian aspek kelancaran (fluency)

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Tidak ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif

15 - 20

2

Ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif

10 - 14

3

Tidak ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif

5 - 9

4

Ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif

0 - 4

 

Indikator penilaian aspek ketepatan (accuracy)

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Tidak ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat

15 - 20

2

Tidak ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat

10 - 14

3

Ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat

5 - 9

4

Ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat

0 - 4

 

 

Indikator penilaian aspek isi

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Memiliki struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari klasifikasi detail

25 -30

2

Memiliki struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari klasifikasi kurang detail

20 - 24

3

Memiliki struktur teks deskriptif tidak lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari klasifikasi kurang detail

15 - 19

4

Memiliki struktur teks deskriptif kurang lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, dan deskripsi khusus kurang sesuai

10 - 14

5

Tidak ada komponen struktur deskriptif

1 - 9

Petunjuk penskoran:

Penghitungan skor akhir menggunakan rumus:

Skor Perolehan x 10 = ….

 

2)    Peserta didik membuat kartu nama

Contoh rubrik penilaian produk kartu nama

No

Nama Siswa

Perencanaan Bahan

Aspek Yang Dinilai

Jml

Proses Pembuatan

Hasil Produk

Langkah pembuatan

Teknik pembuatan

Bentuk fisik

Inovasi

1

Sultan Haykal

 

 

 

 

 

 

2

Aisy Anindya

 

 

 

 

 

 

3

Dias Abdalla

 

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

 

 

dst

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

Skor antara 1 – 5

Aspek yang dinilai disesuaikan dengan tugas yang diberikan

 

G.   PENGAYAAN DAN REMEDIAL

Pengayaan

§  Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang telah mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.

§  Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang lebih variatif dengan menambah keluasan dan kedalaman materi yang mengarah pada high order thinking

§  Program pengayaan dilakukan di luar jam belajar efektif.

 

Remedial

§  Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran

§  Guru melakukan pembahasan ulang terhadap materi yang telah diberikan dengan cara/metode yang berbeda untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih memudahkan peserta didik dalam memaknai dan menguasai materi ajar misalnya lewat diskusi dan permainan.

§  Program remedial dilakukan di luar jam belajar efektif.

 

H.   REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK

Refleksi Guru:

Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan kegiatan pengajaran di kelas, misalnya:

§  Apakah semua peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran iniv ?

§  Apakah ada kesulitan yang dialami peserta didik?

§  Apakah semua peserta didik sudah dapat melampaui target pembelajaran?

§  Sudahkan tumbuh sikap yang mencerminkan profil pelajar pancasila dan profil pelajar rahmatal lil ‘alamin?

§  Apa langkah yang perlu dilakukan untuk memperbaiki proses belajar?

 

Refleksi Peserta Didik:

No

Pertanyaan Refleksi

Jawaban Refleksi

1

Bagian manakah yang menurut kamu hal paling sulit dari pelajaran ini?

 

2

Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki hasil belajarmu?

 

3

Kepada siapa kamu akan meminta bantuan untuk memahami pelajaran ini?

 

4

Jika kamu diminta untuk memberikan bintang 1 sampai 5, berapa bintang yang akan kamu berikan pada usaha yang telah dilakukan

 

 

Mengetahui,

Kepala Sekolah

 

 

 

 

LUFIANA, S. S

NBM. 1024550

MAGELANG, ...... JANUARI 2025

Guru Mata Pelajaran

 

 

 

 

KUNI HIRIYANTI, S. Pd

NIP. -

 

Mengetahui,

Kepala Sekolah

 

 

 

 

LUFIANA, S. S

NBM. 1024550

MAGELANG, ...... JANUARI 2025

Guru Mata Pelajaran

 

 

 

 

KUNI HIRIYANTI, S. Pd

NIP. -

 


 

LAMPIRAN- LAMPIRAN

 

Lampiran 1

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

Formal ataupun non formal. Meningkatkan rasa toleransi dengan cara menghormati perbedaan yang ada, serta harus mewaspadai adanya pengaruh-pengaruh dari paham yang mempengaruhi terhadap radikalisme.

Setelah Anda mendalami materi “ciri-ciri Islam washatiyah (moderat) dan ciri-ciri radikalisme dalam Islam,” maka selanjutnya lakukanlah diskusi dengan kelompok Anda! Bentuk kelompok kecil beranggotakan 4-6 siswa/ kelompok, kemudian persiapkan diri untuk mempresentasikan hasil diskusi tersebut di depan kelas. Adapun hal-hal yang perlu didiskusikan adalah sebagai berikut.

1. Bagaimana mewujudkan Islam Washatiyah sebagai rahmatan lil alamin

2. Cara menghindari diri dari pengaruh radikalisme

 

Lampiran 2

MATERI BAHAN AJAR

1. Islam Washatiyah

a. Menelaah Makna dan Dalil Islam Washatiyah

Secara bahasa, kata washatiyah berasal dari kata wasatha ( وَسَطَ ) yang berarti adil atau sesuatu yang berada di pertengahan. Ibnu ’Asyur mendefinisikan kata ”wasath” dengan dua makna. Pertama, definisi menurut etimologi, kata wasath berarti sesuatu yang ukurannya sebanding. Kedua, definisi menurut terminologi bahasa, makna wasatha adalah nilai-nilai Islam yang dibangun atas dasar pola pikir yang lurus dan pertengahan, tidak berlebihan dalam hal tertentu.

Islam Washatiyah adalah yakni Islam tengah diantara dua titik ekstrem yang saling berlawanan, yaitu antara taqshir (meremehkan) dan ghuluw (berlebihlebihan) atau antara liberalisme dan radikalisme. Islam Washatiyah berarti Islam jalan tengah. Tidak terlibat kekerasan, sampai pembunuhan, terbuka dan berada di atas untuk semua golongan. Hal ini berdasarkan Sabda Rasul :

Pilihlah perkara yang berada diantara dua hal dan sebaik-baik persoalan adalah sikap paling moderat (tengah).”(HR. Baihaqi)

Islam Wasathiyah, selanjutnya dikenal dengan Islam moderat, adalah Islam yang cinta damai, toleran, menerima perubahan demi kemaslahatan, perubahan fatwa karena situasi dan kondisi, dan perbedaan penetapan hukum karena perbedaan kondisi dan psikologi seseorang adalah adil dan bijaksana.

Allah berfiraman dalam Qur’an Surat al-Baqarah ayat 143 :

Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang wasath (adil) dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (QS. al-Baqarah [2]: 143).

Adapun makna ”Ummatan wasathan” pada ayat di atas adalah ummat yang adil dan terpilih. Maksudnya umat Islam ini adalah ummat yang paling sempurna agamanya, paling baik akhlaknya, paling utama amalnya.

Wasath atau jalan tengah dalam beragama Islam dapat diklasifikasi ke dalam empat lingkup yaitu:

1) Wasath dalam persoalan akidah. Dalam persoalan iman kepada yang ghaib, diproyeksikan dalam bentuk keseimbangan pada batas-batas tertentu. Contohnya sebagai berikut.

a) Islam tidak seperti keimanan mistisisme yang cenderung berlebihan dalam mempercayai benda ghaib.

b) Akidah Islam menentang dengan tegas sistem keyakinan kaum atheis yang menafikan wujud Tuhan

c) Islam memberikan porsi berimbang antara fikir dan dzikir. Islam memosisikan wahyu sebagai pembimbing nalar, menuju kemaslahatan dunia akhirat melalui syari’ahnya.

2) Wasath dalam persoalan ibadah. Dalam masalah ibadah menyeimbangkan antara hablum minallah dan hablum minannas.

3) Wasath dalam persoalan perangai dan budi pekerti. Dalam persoalan perangai dan budi pekerti, Islam memerintahkan manusia untuk bisa menahan dan mengarahkan hawa nafsunya agar tercipta budi pekerti yang luhur (akhlakul karimah) dalam kehidupan sehari-hari.

4) Wasath dalam persoalan tasyri’ (pembentukan syari’ah). Selalu tunduk dan patuh pada syari’at Allah dan menjaga keseimbangan tasyri’ dalam Islam yaitu penentuan halal dan haram yang selalu mengacu pada alasan manfaat-madarat, suci-najis, serta bersih kotor.

 

b. Ciri-ciri Islam Washatiyah

Islam Washatiyah tidak bisa hanya disimpulkan dengan satu atau dua kata karena paling sedikit ada 10 prinsip yang dapat disampaikan kepada ummat, yang merupakan prinsip dasar dan ciri-ciri amaliah keagamaan seorang muslim moderat (wasathiyah) yaitu sebagai berikut.

Pemahaman dan praktik amaliah keagamaan seorang muslim moderat (wasathiyah) memiliki ciri-ciri sebagi berikut.

1)    Tawassuth (mengambil jalan tengah) yaitu pemahaman dan pengamalan yang tidak ifraath (berlebih-lebihan dalam beragama) dan tafriith (mengurangi ajaran agama)

2)    Tawazun (berkeseimbangan) yaitu pemahaman dan pengamalan agama secara seimbang yang meliputi semua aspek kehidupan, baik duniawi maupun ukhrawi.

3)    I’tidal (lurus dan tegas) yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban secara proporsional.

4)    Tasamuh (toleransi) yaitu mengakui dan menghormati perbedaan, baik dalam aspek keagamaan dan berbagai aspek kehidupan lainnya.

5)    Musawah (persamaan) yaitu tidak bersikap diskriminasi pada yang lain sebab perbedaan keyakinan, tradisi dan asal usul seseorang.

6)    Syura (musyawarah) yaitu setiap persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat dengan prinsip kemaslahatan di atas segalanya.

7)    Ishlah (reformasi) yaitu mengutamakan prinsip reformatif untuk mencapai keadaan lebih baik yang mengakomodasi perubahan dan kemajuan zaman dengan berpijak pada kemaslahatan umum dengan tetap berpegang pada prinsip melestarikan tradisi lama yang baik, dan menerapkan hal-hal baru yang lebih baik.

8)    Aulawiyah (mendahulukan yang peroritas) yaitu kemampuan mengidentifikasi hal ihwal yang lebih penting harus diutamakan untuk diimplementasikan dibandingkan dengan kepentingan lebih rendah.

9)    Tathawur wa ibtikar (dinamis dan inovatif) selalu terbuka untuk melakukan perubahaperubahan sesuai dengan perkembangan zaman serta menciptakan hal-hal baru untuk kemaslahatan dan kemajuan umat manusia.

10) Tahadhdhur (berkeadaban) yaitu menjunjung tinggi akhlak mulia, karakter, identitas, dan integrasi sebagi khairu ummah dalam kehidupan kemanusiaan dan peradaban.

 

 

c. Islam Washatiyah sebagai Rahmatan Lil Alamin

Dewasa ini kita dihadapkan pada munculnya kelompok Islam yang intoleran, eksklusif, mudah mengkafirkan orang, kaku, dan kelompok lain yang gampang menyatakan permusuhan dan melakukan konflik, bahkan kalau perlu melakukan kekerasan terhadap sesama muslim yang tidak sepaham dengan kelompok lainnya.

Selain itu kita juga dihadapkan pada munculnya komunitas Islam yang cenderung liberal dan pesimis.

Kedua kelompok tersebut tergolong kelompok ekstrem kanan (tatharuf yamin) dan ekstrem kiri (yasar), yang bertentangan dengan wujud ideal dalam mengimplementasikan ajaran Islam di Indonesia bahkan dunia. Bagi kita bangsa Indonesia khususnya menolak pemikiran atau paham keagamaan dan ideologi serta gerakan kedua kelompok tersebut, karena tidak sesuai dengan nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang dianut dan dibangun bangsa Indonesia, yaitu mewujudkan pesatuan umat.

Islam wasathiyah sejatinya merupakan ajaran ulama nusantara yang selama ini dianut dan diamalkan oleh umat Islam di nusantara. Namun setelah terjadinya revolusi teknologi informasi, dimana semua paham keagamaan bisa diakses dengan mudah dan bebas oleh masyarakat, maka mulailah ajaran keagamaan yang awalnya tidak dikenal di Indonesia dan berkembang di negara lain, mulai masuk dan diajarkan di Indonesia.

Termasuk ajaran keagamaan yang radikal yang bisa membimbing pemeluknya melakukan tindakan teror. Oleh karena itu merupakan hal yang sangat penting untuk mengembalikan umat Islam kepada ajaran ulama nusantara. Antara lain dengan mengembalikan pada pemahaman Islam wasathiyah.

Islam yang rahmatan lil alamin itu adalah Islam wasati, Islam yang moderat, yaitu Islam Washatiyah.” Islam yang moderat itu dapat dilihat dari cara seseorang berfikir dan bergerak. Cara berfikir yang moderat adalah tidak terlalu tekstual dan tidak terlalu liberal. ”Tekstual itu kaku tanpa penafsiran, liberal itu penafsirannya terlalu lebar tanpa batas”.

Islam rahmatan lil alamin adalah Islam yang dinamis dan tidak kaku tetapi juga tidak memudah-mudahkan masalah. ”tidak galak tetapi juga tidak mencari yang mudah-mudah saja”. Islam wasathiyah adalah yang bisa menerima NKRI . ”karena Indonesia bukan hanya milik kita, tapi milik kita semua.”

Sebagai paham atas berkembangnya paham dan gerakan kelompok yang intoleran, rigid (kaku), dan mudah mengkafirkan (takfiri), maka amaliyah keagamaan Islam Washatiyah perlu dikembangkan sebagai implementasi Islam (rahmatan lil alamin), untuk memperjuangkan nilai-nilai ajaran Islam yang moderat dalam kehidupan keagamaan, kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan. Sikap moderat adalah bentuk manifestasi ajaran Islam sebagai rahmatan lil alamin, rahmat bagi segenap alam semesta.

Sikap moderat perlu diperjuangkan untuk lahirnya umat terbaik (khairu ummah). Majelis Ulama Indonesia (MUI) terus menyosialisasikan Islam Wasathiyah yakni Islam yang moderat penuh kasih sayang sebagai upaya dalam mencegah penyebaran paham radikalisme di masyarakat, mengembalikan praktik beragama agar sesuai dengan esensinya, dan agar agama benar-benar berfungsi menjaga harkat dan martabat manusia.

Moderasi beragama sebagai solusi, agar dapat menjadi kunci penting untuk menciptakan kehidupan keagamaan yang rukun, harmoni, damai, serta menekankan pada keseimbangan, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, maupun dalam kehidupan sesama manusia secara keseluruhan, sehingga benar-benar terwujud rahmatan lil alamin.

 

2. Radikalisme

a. Makna Radikalisme

Kata radikalisme sebagai turunan kata “radikal” bersifat netral dan tidak terkait dengan masalah agama. Radikal merupakan sebuah kata yang sering digunakan dalam kajian filsafat. Radikal berasal dari bahasa Latin yaitu ”radix” yang berarti ”akar”.

Secara etimologi kata radikal mengandung arti segala sesuatu yang sifatnya mendasar sampai ke akar-akarnya atau sampai pada prinsipnya. Sikap radikal akan mendorong perilaku individu untuk membela secara mati-matian mengenai suatu kepercayaan, keyakinan, agama atau ideologi yang dianutnya.

Radikalisme dianggap baik karena memiliki asosiasi/konotasi positif dengan progresif dan inovatif. Sedangkan radikalisme dianggap buruk karena memiliki asosiasi/konotasi negatif dengan ekstrimisme. Radikalisme dijadikan sebagai salah satu paham atau aliran yang menuntut perubahan dan pembaharuan sistem sosial dan politik dengan cara kekerasan atau ekstrem. Paham radikalisme ini sering kali dikaitkan dengan agama/ mengatasnamakan agama, padahal semua agama tidak mengajarkan kekerasan. Namun agama yang sering menjadi target adalah agama Islam. Sehingga muncul adanya orang Islam yang radikal, yaitu orang Islam yang mempunyai pikiran yang kaku dan sempit dalam memahami Islam, serta eksklusif dalam memandang agama-agama lain.

Radikalisme atas nama agama ini tidak jarang kemudian menimbulkan konflik sampai pada puncaknya, terjadinya terorisme dalam taraf membahayakan stabilitas dan keamanan Negara. Dan pada akhirnya, radikalisme ini, menjadi menyebabkan peperangan yang justru menimbulkan rasa tidak aman. Pada taraf terendah, radikalisme sampai mengganggu keharmonisan dan kerukunan masyarakat. Klaim “sesat”, “bida’ah”, dan “kafir” bagi kalangan yang tidak sependapat dengannya. Tapi perlu digaris bawahi , hakikat Islam adalah agama yang cinta dan membawa kedamaian. Mereka yang menerapkan kekerasan dengan mengatasnamakan Islam bukanlah orang Islam sesungguhnya. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab adanya radikalisme diantaranya adalah:

1) Pengetahuan agama yang setengah-setengah melalui proses belajar yang doktriner

2) Memahami Islam dari kulitnya saja tetapi minim wawasan tentang esensi agama

3) Disibukkan oleh masalah sekunder dan melupakan masalah-masalah primer

4) Lemah dalam wawasan sejarah dan sosiologi sehingga fatwa-fatwa mereka sering bertentangan dengan kemaslahatan umat, akal sehat, dan semangat zaman.

 

b. Ciri-ciri Radikalisme

Mengenali ciri-ciri radikalisme dan terorisme menjadi penting bagi masyarakat untuk melakukan pencegahan paham ekstrem tersebut.

Adapun ciri-ciri radikalisme dalah sebagai berikut :

1) Intoleransi dengan orang lain yang memiliki perbedaan pandangan dan mengingkari fakta kebhinekaan .yang ada di Indonesia .

2) Sikap berlebihan. Berlebihan dalam beragama sehingga melanggar hukum dan norma agama.

3) Memaksakan kehendak dengan berbagai dalil termasuk dalil agama. Bahkan ingin mengubah moral masyarakat beragama dengan cara-cara khawarijiyah (berontak), bukan tajridiyyah (bertahap, berproses).

4) Menggunakan cara-cara kekerasan, baik verbal ataupun fisik, yang menumbuhkan kecemasan (teror) dan penghancuran fisik (vandalisme) kepada orang lain yang tidak sepaham.

5) Merasa dirinya paling benar, sehingga tidak mau mendengarkan argumentasi dari kelompok lain.

 

c. Islam Menentang Radikalisme

Sikap melampaui batas tidak akan membuahkan hasil yang baik dalam semua urusan, apalagi dalam urusan agama. Diantara sikap melampaui batas adalah bersikap radikal dengan segala bentuknya yang menyelisihi syari’at. Islam melarang ummatnya melampaui batas, dengan mengamalkan agama yang ekstrem sehingga melebihi batas kewajaran. Sebagaimana sabda Rasulullah :

Hindarilah oleh kalian tindakan melampaui batas (ghuluw) dalam beragama sebab sungguh ghuluw dalam beragama telah menghancurkan orang sebelum kalian.” (HR. an- Nasa’i dan Ibnu Majah).

Berlebih-lebihan dalam agama adalah dengan melakukan sesuatu yang melampaui batas dengan kekerasan dan kekakuan. Islam dengan tegas menolak radikalisme karena sangat membahayakan, merusak syari’ah dan ibadah umat Islam, merusak tatanan dan ideologi negara, bahkan menimbulkan teroris dan pembunuhan. Maka paham radikalisme harus dihentikan penyebarannya dengan berbagai macam cara, diantaranya adalah dengan meningkatkan pemahaman agama secara kaffah atau sempurna, baik melalui pendidikan

 

Lampiran 3

GLOSARIUM

Bid’ah : Perbuatan yang dikerjakan tidak menurut contoh yang sudah ditetapkan

Dalil Aqli : Berdasarkan akal

Dalil Naqli : Berdasarkan Qur’an Hadis

Doktriner : Ajaran (tentang asas suatu aliran politik, keagamaan)

Ekstremisme : Orang yang melampaui batas kebiasaan

Fasik : Orang yang keluar dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya

Ghadzabillah : Murka Allah

Hablum minallah : Hubungan dengan Allah

Hablum minannas : Hubungan dengan sesama manusia

Hilm : Tidak cepat emosi dan tidak bersikap masa bodoh

Ikhtilaf : Perbedaan pendapat atau pikiran

Kafir : Mengikuti kesalahan tetapi tetap menjalankan

Khawarijiyah : Berontak

Ma’ani : Sudah tetap, tidak boleh tidak

Ma’nawiyah : Tabi’at, sifat-sifat kejiwaan

Mistisisme : Ajaran yang menyatakan hal-hal yang yang tidak terjangkau oleh akal manusia

Mujaahadah : Bersungguh-sungguh

Mukallaf : Dewasa dan tidak mengalami gangguan jiwa maupun akal

Musyrik : Orang yang menyekutukan Allah

Mutasyabihah : Ayat al-qur’an yang membutuhkan penafsiran dalam memahaminya

Nafsiyah : Orang seseorang, sendiri sendiri

Radikalisme : Paham atau aliran yang menginginkan perubahan atau pembaharuan social dan politik dengan cara kekerasan atau drastic

Sum’ah : Suka memperdengarkan atau menceritakan kebaikannya kepada orang lain.

Ummatan wasathan : Umat yang adil atau pertengahan

Zalim : Kejam, bengis, tidak berperikemanusiaan

 

Lampiran 4

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an Al-Karim

Abdul Hiyadh, Terjemah Durrotun Nasihin, Mesir, Surabaya, 1993

Abu Hudzaifah. Lc, Kisah Para Nabi dan Rasul, Pustaka as-Sunah, Jakarta, 2007

Derektorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam Departemen Agama, Akhlak Ilmu Tauhid, PT. Karya Unipres, Jakarta, 1982

’Aidh al-Qarni, La Tahzan ,Jangan Bersedih, Qisthi Pres, Jakarta Timur, 2004

A. Ilyas Ismail, M.A, Pilar-pilar Takwa, (Doktrin. Pemikiran, Hikmat, dan Pencerahan Spiritual), Rajawali Pers, (PT. Raja Grafindo Persada), Jakarta, 2009

Handono, Aris Musthafa, zaenuri Siroj, Meneladani Akhlak Untuk Kelas XI Madrasah Aliyah Program Keagamaan , PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017

Handono, Aris Musthafa, Zaenuri Siroj, Meneladani Akhlak Untuk Kelas XII Madrasah Aliyah Program Keagamaan , PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo, 2017

Hasyim Asy’ari, Penerjemah Rosidin, Pendidikan Khas Pesantren (Adabul ’Alim wal Muta’allim), Tira Smart,Tangerang, 2017

M. Ali Haidar, Nahdhatul Ulama’ dan Islam di Indonesia, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 1998

M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, Tranmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia, Erlangga, Jakarta , 2005

Muhammad bin Abdul Wahab, Syarah Kitab al-Tauhid, PT. Pustaka Panjimas, Jakarta, 1984

Roli Abdul Rohman-M. Khamzah. Menjaga Akidah dan Akhlak untuk kelas X Madrasah Aliyah, PT. Tiga Serangkai Pustaka Mandiri, Solo 2017

Sa’id Hawwa, Tazkiyatun Nafs (Intisari Ihya Ulumuddin), Pena Pundi Aksara, Jakarta, 2007

Salim Bahreisy, Irsyadul ’Ibad Ilasabilirrasyad (Petunjuk ke Jalan Lurus ), Darussaggaf, Surabaya, 1977

Salim Bahreisy, Riyadhus Shalihin, PT. Alma’arif, Bandung , 1987

Umar Sulaiman al-Asyqar , al-Asma’ al- Husna, Qisthi Press, Jakarta timur Cetakan ke-6, Mei 2009

Zainuddin, Terjemah Hadis Shahih Bukkhari, Widjaya, Jakarta 1992

 

 

Mengetahui,

Kepala Sekolah

 

 

 

 

LUFIANA, S. S

NBM. 1024550

MAGELANG, ...... JANUARI 2025

Guru Mata Pelajaran

 

 

 

 

KUNI HIRIYANTI, S. Pd

NIP. -

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar