Jumat, 02 Januari 2026

MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH MATA PELAJARAN : AL-QUR'AN HADITS BAB 11 : HADIS SHAHIH SEBAGAI DASAR HUKUM

 

MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH

MATA PELAJARAN : AL-QUR'AN HADITS

BAB 11 : HADIS SHAHIH SEBAGAI DASAR HUKUM

 

INFORMASI UMUM

 

A.   Identitas Modul

Nama Madrasah              :    MA MUHAMMADIYAH BLABAK

Nama Penyusun               :    KUNI HIRIYANTI, S.Pd

Mata Pelajaran                :    Al-Qur'an Hadits

Kelas / Fase Semester      :    X/ E / 2

Elemen                              :    Hadis Shahih sebagai Dasar Hukum

Alokasi waktu                  :    2 x 45 Menit

 

Capaian Pembelajaran

Pada akhir Fase E, pada elemen Ilmu Al-Qur'an, Peserta didik dapat menganalisis hal ihwal ilmu Al-Qur'an tentang pengertian Al-Quran menurut pendapat para ulama', sejarah turun dan kodifikasinya, bukti-bukti keautentikan, kemukjizatan, pokok-pokok kandungan, dan struktur Al-Qur’an, untuk meyakini kebenaran Al-Qur'an dan mengamalkan pesan Al-Qur'an dalam konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Pada elemen Ilmu Hadis, peserta didik mampu menganalisis hal ihwal tentang ilmu hadis yang meliputi; perbedaan hadis, sunah, khabar, dan asar, sejarah kodifikasi dan perkembangan hadis, unsur-unsur hadis, kedudukan dan fungsi hadis terhadap ayat Al-Qur’an, pembagian hadis, serta tokoh-tokoh ulama hadis untuk meyakini kebenaran hadis-hadis tersebut bersumber dari Rasulullah saw., baik secara sanad dan matan maupun kualitas kesahihannya serta mengamalkan ilmu hadis agar lebih kritis dalam menerima dan merespon berita di masyarakat dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

Elemen

Capaian Pembelajaran

Ilmu Al-Qur'an

Peserta didik dapat menganalisis hal ihwal ilmu Al-Qur'an yang meliputi; pengertian Al-Quran menurut pendapat para ulama', sejarah turun dan kodifikasinya, bukti-bukti keautentikan, kemukjizatan, pokok-pokok kandungan, dan struktur Al-Qur'an, untuk meyakini kebenaran Al-Qur'an dan mengamalkan pesan Al-Qur'an dalam konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.

Ilmu Hadis

Peserta didik mampu menganalisis hal ihwal tentang ilmu hadis yang meliputi; perbedaan hadis, sunah, khabar, dan asar, sejarah kodifikasi dan perkembangan hadis, unsur-unsur hadis, kedudukan dan fungsi hadis terhadap ayat Al-Quran, pembagian hadis, serta tokoh-tokoh ulama hadis untuk meyakini kebenaran hadis-hadis tersebut bersumber dari Rasulullah saw., baik secara sanad dan matan maupun kualitas kesahihannya serta menggunakan ilmu hadis agar selektif terhadap hadis yang dijadikan dasar beramal, sebagai sarana menanamkan sikap kritis dalam menerima dan merespon berita di masyarakat dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

B    Kompetensi Awal

Seumpama kita menerima kabar dari seseorang yang tidak dapat kita percaya, bagaimanakah sikap kita? Bandingkan apabila kita menerima kabar dari orang yang dapat kita percaya. Terutama bila kabar itu menyangkut persoalan-persoalan penting.

Maka seperti itulah kedudukan hadis sahih di antara hadis-hadis daif. Hal-hal yang menyangkut ibadah-ibadah mahda didasarkan pada hadis sahih. Demikian juga hal-hal yang menyangkut masalah keimanan atau ideologi. Kita tidak menerima hadis daif sebagai dasar keimanan kita.

 

C.   Profil Pelajar Pancasila (PPP) dan Pelajar Rahmatan lil Alamin (PRA)

§  Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global.

§  Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin yang ingin dicapai adalah taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh.

 

D.   Sarana dan Prasarana

Media                    :    LCD proyektor, komputer/laptop, jaringan internet, dan lain-lain

Sumber Belajar    :    LKPD, Buku Teks, laman E-learning, E-book, dan lain-lain

 

E.   Target Peserta Didik

Peserta didik cerdas istimewa berbakat dan peserta didik regular

 

F.    Model DAN METODE Pembelajaran

Discovery learning, Diskusi, Tanya jawab dan games


 

KOMPETENSI INTI

 

A.   Tujuan Pembelajaran

§  Menghayati keberadaan hadis sahih dapat dijadikan sebaagai dasar hukum;

§  Mengamalkan sikap kritis terhadap suatu informasi sebagai implementasi dari pemaahaman pembagian hadis dari segi kuantitas dan kualitas;

§  Menganalisis pembagian hadis dari segi kuantitas dan pembagian hadis dari segi kualitas;

§  Menyajikan pembagian hadis dari segi kuantitas dan kualitas dalam bentuk bagan/skema.

 

B.   Pemahaman Bermakna

§  Menganalisis pembagian hadis dari segi kuantitas dan pembagian hadis dari segi kualitas;

§   Menyajikan pembagian hadis dari segi kuantitas dan kualitas dalam bentuk bagan/skema.

 

C.   Pertanyaan Pemantik

Guru menanyakan kepada peserta didik seputar materi Hadis Shahih sebagai Dasar Hukum

 

D.   Kegiatan Pembelajaran

PERTEMUAN KE-1

Pembagian Hadis Berdasar Kuantitas

KEGIATAN PENDAHULUAN

§  Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam.

§  Melakukan pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas.

§  Guru memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan diajarkan.

§  Guru memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global) dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh)

KEGIATAN INTI

Kegiatan Literasi

§ Peserta didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Pembagian Hadis Berdasar Kuantitas

Critical Thinking

§ Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami, dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik. Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Pembagian Hadis Berdasar Kuantitas

Collaboration

§ Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Pembagian Hadis Berdasar Kuantitas

Communication

§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang mempresentasikan.

Creativity

§ Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari terkait : Pembagian Hadis Berdasar Kuantitas

§ Peserta didik kemudian diberi kesempatan untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami

KEGIATAN PENUTUP

§  Guru membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan

§  Melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan

§  Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

 

PERTEMUAN KE-2

Kualitas Hadis Shahih

KEGIATAN PENDAHULUAN

§  Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam.

§  Melakukan pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas.

§  Guru memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan diajarkan.

§  Guru memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global) dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh)

KEGIATAN INTI

Kegiatan Literasi

§ Peserta didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Kualitas Hadis Shahih

Critical Thinking

§ Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami, dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik. Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Kualitas Hadis Shahih

Collaboration

§ Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Kualitas Hadis Shahih

Communication

§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang mempresentasikan.

Creativity

§ Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari terkait : Kualitas Hadis Shahih

§ Peserta didik kemudian diberi kesempatan untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami

KEGIATAN PENUTUP

§  Guru membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan

§  Melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan

§  Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

 

PERTEMUAN KE-3

Kualitas Hadis Hasan

KEGIATAN PENDAHULUAN

§  Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam.

§  Melakukan pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas.

§  Guru memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan diajarkan.

§  Guru memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global) dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh)

KEGIATAN INTI

Kegiatan Literasi

§ Peserta didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Kualitas Hadis Hasan

Critical Thinking

§ Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami, dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik. Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Kualitas Hadis Hasan

Collaboration

§ Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Kualitas Hadis Hasan

Communication

§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang mempresentasikan.

Creativity

§ Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari terkait : Kualitas Hadis Hasan

§ Peserta didik kemudian diberi kesempatan untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami

KEGIATAN PENUTUP

§  Guru membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan

§  Melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan

§  Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

 

PERTEMUAN KE-4

Kualitas Hadis Dhaif

KEGIATAN PENDAHULUAN

§  Guru membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam.

§  Melakukan pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas.

§  Guru memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan diajarkan.

§  Guru memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global) dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh)

KEGIATAN INTI

Kegiatan Literasi

§ Peserta didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Kualitas Hadis Dhaif

Critical Thinking

§ Guru memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami, dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik. Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Kualitas Hadis Dhaif

Collaboration

§ Peserta didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Kualitas Hadis Dhaif

Communication

§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang mempresentasikan.

Creativity

§ Guru dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari terkait : Kualitas Hadis Dhaif

§ Peserta didik kemudian diberi kesempatan untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami

KEGIATAN PENUTUP

§  Guru membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan

§  Melakukan refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan

§  Guru mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa.

 

E.   Pembelajaran Diferensiasi

§  Untuk siswa yang sudah memahami materi ini sesuai dengan tujuan pembelajaran dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh, disarankan untuk membaca materi Hadis Shahih sebagai Dasar Hukum dari berbagai referensi yang relevan.

§  Guru dapat menggunakan alternatif metode dan media pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing agar pelaksanaan pembelajaran menjadi lebih menyenangkan (joyfull learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.

§  Untuk siswa yang kesulitan belajar topik ini, disarankan untuk belajar kembali tata cara pada pembelajaran di dalam dan atau di luar kelas sesuai kesepataan antara guru dengan siswa. Siswa juga disarankan untuk belajar kepada teman sebaya.

 

E.   ASESMEN / PENILAIAN

1.    Asesmen Formatif (selama proses pembelajaran)

a.    Asesmen awal

Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam memasuki pembelajaran, dengan pertanyaan:

No

Pertanyaan

Jawaban

Ya

Tidak

1

Apakah pernah membaca buku terkait ?

 

 

2

Apakah kalian ingin menguasai materi pelajaran dengan baik ?

 

 

3

Apakah kalian sudah siap melaksanakan pembelajaran dengan metode inquiry learning, diskusi ?

 

 

 

b.    Asesmen selama proses pembelajaran

Asesmen ini dilakukan guru selama pembelajaran, khususnya saat peserta didik melakukan kegiatan diskusi, presentasi dan refleksi tertulis. Asesmen saat inquiry learning (ketika peserta didik melakukan kegiatan belajar dengan metode inquiry learning)

 

Lembar kerja pengamatan kegiatan pembelajaran dengan metade inquiry learning

No

Nama Siswa

Arpak yang diamati

Skor

Gagasan

Aktif

Kerjasama

1

2

3

4

1

Sultan Haykal

 

 

 

 

 

 

 

2

Aisy Anindya

 

 

 

 

 

 

 

3

Dias Abdalla

 

 

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

 

 

 

dst

 

 

 

 

 

 

 

 

Nilai akhir x 25

 

2.    Asesmen Sumatif

a.    Asesmen Pengetahuan

Soal Asesmen Pengetahuan

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini dengan jawaban yang benar!

1. Sebutkan syarat-syarat hadis mutawatir !

2. Sebutkan secara berurutan, tujuh tingkatan hadis yang terpenuhi kesahihannya !

3. Sebutkan kriteria hadis hasan !

 

b.    Asesmen keterampilan

1)    Peserta didik mempraktikkan berkenalan secara lisan dan tulis

 

Contoh rubrik penilaian praktek:

 

Nama       :    …………………………………..

Kelas        :    …………………………………..

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Kelancaran (kompetensi gramatikal di aspek bunyi bahasa)

20

2

Ketepatan (kompetensi gramatikal aspek nahwu sharaf)

20

3

Isi (kompetensi wacana dan sosiolinguistik)

20

4

Ucapan/pelafalan (kompetensi gramatikal aspek bunyi bahasa)

20

5

Gestur (kompetensi strategi)

20

Total

100

 

Indikator Penilaian aspek kelancaran (fluency)

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Tidak ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif

15 - 20

2

Ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif

10 - 14

3

Tidak ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif

5 - 9

4

Ada jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif

0 - 4

 

Indikator penilaian aspek ketepatan (accuracy)

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Tidak ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat

15 - 20

2

Tidak ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat

10 - 14

3

Ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat

5 - 9

4

Ada kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat

0 - 4

 

Indikator penilaian aspek isi

No

Aspek Penilaian

Skor

1

Memiliki struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari klasifikasi detail

25 -30

2

Memiliki struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari klasifikasi kurang detail

20 - 24

3

Memiliki struktur teks deskriptif tidak lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari klasifikasi kurang detail

15 - 19

4

Memiliki struktur teks deskriptif kurang lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus), deskripsi umum meliputi definisi, dan deskripsi khusus kurang sesuai

10 - 14

5

Tidak ada komponen struktur deskriptif

1 - 9

Petunjuk penskoran:

Penghitungan skor akhir menggunakan rumus:

Skor Perolehan x 10 = ….

 

2)    Peserta didik membuat kartu nama

Contoh rubrik penilaian produk kartu nama

No

Nama Siswa

Perencanaan Bahan

Aspek Yang Dinilai

Jml

Proses Pembuatan

Hasil Produk

Langkah pembuatan

Teknik pembuatan

Bentuk fisik

Inovasi

1

Sultan Haykal

 

 

 

 

 

 

2

Aisy Anindya

 

 

 

 

 

 

3

Dias Abdalla

 

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

 

 

dst

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan:

Skor antara 1 – 5

Aspek yang dinilai disesuaikan dengan tugas yang diberikan

 

F.    PENGAYAAN DAN REMEDIAL

Pengayaan

§  Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang telah mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.

§  Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan yang lebih variatif dengan menambah keluasan dan kedalaman materi yang mengarah pada high order thinking

§  Program pengayaan dilakukan di luar jam belajar efektif.

 

Remedial

§  Remedial diberikan kepada peserta didik yang belum mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran

§  Guru melakukan pembahasan ulang terhadap materi yang telah diberikan dengan cara/metode yang berbeda untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih memudahkan peserta didik dalam memaknai dan menguasai materi ajar misalnya lewat diskusi dan permainan.

§  Program remedial dilakukan di luar jam belajar efektif.

 

G.   REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK

Refleksi Guru:

Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan kegiatan pengajaran di kelas, misalnya:

§  Apakah semua peserta didik terlibat aktif dalam pembelajaran iniv ?

§  Apakah ada kesulitan yang dialami peserta didik?

§  Apakah semua peserta didik sudah dapat melampaui target pembelajaran?

§  Sudahkan tumbuh sikap yang mencerminkan profil pelajar pancasila dan profil pelajar rahmatal lil ‘alamin?

§  Apa langkah yang perlu dilakukan untuk memperbaiki proses belajar?

 

Refleksi Peserta Didik:

No

Pertanyaan Refleksi

Jawaban Refleksi

1

Bagian manakah yang menurut kamu hal paling sulit dari pelajaran ini?

 

2

Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki hasil belajarmu?

 

3

Kepada siapa kamu akan meminta bantuan untuk memahami pelajaran ini?

 

4

Jika kamu diminta untuk memberikan bintang 1 sampai 5, berapa bintang yang akan kamu berikan pada usaha yang telah dilakukan

 

 

Mengetahui,

Kepala Sekolah

 

 

 

LUFIANA, S.S

NBM. 1024550

MAGELANG, ......JANUARI  2025

Guru Mata Pelajaran

 

 

 

KUNI HIRIYANTI, S.Pd

NIP. -

 

 

 

 


 

LAMPIRAN- LAMPIRAN

 

Lampiran 1

LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK (LKPD)

 

Nama       :    …………………………………..

Kelas        :    …………………………………..

 

Tugas

Buatlah Bagan atau skema dari pembagian hadis dari sisi kuantitas dan kualitas.

 

Lampiran 2

MATERI BAHAN AJAR

Selain bertopang pada al-Quran, hukum yang ditetapkan dalam agama Islam haruslah berlandaskan hadis sahih, bukan hadis daif. Allah swt. telah mengistimewakan agama ini dengan adanya sanad (jalur periwayatan) hadis. Sanad merupakan penopang agama. Oleh karena itu, hadis sahih wajib diamalkan. Hadis hasan hanya digunakan untuk fadail al-a’mal (motivasi amal ibadah). Sedangkan hadis yang sampai pada tingkatan maudu’ sama sekali tidak boleh digunakan. Adapun bila tidak sampai maudu, maka masih boleh digunakan, tetapi bukan untuk menentukan hukum.

Abdullah bin Ahmad bin Hanbal rahimahullah berkata,

Artinya: Saya bertanya kepada ayahku (Imam Ahmad) mengenai seorang yang memiliki berbagai kitab yang memuat sabda Nabi saw., perkataan para sahabat, dan tabiin. Namun, dia tidak mampu untuk mengetahui hadis yang lemah, tidak pula mampu membedakan sanad hadis yang sahih dengan sanad yang lemah. Apakah dia boleh mengamalkan dan memilih hadis dalam kitab-kitab tersebut semaunya, dan berfatwa dengannya? Ayahku menjawab, ‚Dia tidak boleh mengamalkannya sampai dia bertanya hadis mana saja yang boleh diamalkan dari kitab-kitab tersebut, sehingga dia beramal dengan landasan yang tepat, dan (hendaknya) dia bertanya kepada ulama mengenai hal tersebut.‚

Imam Muslim rahimahullah berkata, ‚Ketahuilah, -semoga Allah melimpahkan rahmat kepadamu, bahwa seluk beluk hadis dan pengetahuan terhadap hadis yang sahih dan cacat hanya menjadi spesialisasi bagi para ahli hadis. Hal itu dikarenakan mereka adalah pribadi yang menghafal seluruh periwayatan para rawi yang sangat menguasai jalur periwayatan. Sehingga, pondasi yang menjadi landasan beragama mereka adalah hadis dan atsar yang dinukil (secara turun temurun) dari masa Nabi saw. hingga masa kita sekarang.‛

Menurut Imam al-Ansar, seorang yang ingin berdalil dengan suatu hadis yang terdapat dalam kitab Sunan dan Musnad, (maka dia berada dalam dua kondisi). Jika dia seorang yang mampu untuk mengetahui (kandungan) hadis yang akan dijadikan dalil, maka dia tidak boleh berdalil dengannya hingga dia meneliti ketersambungan sanad hadis tersebut dan kapabilitas para perawinya.

Jika dia tidak mampu, maka dia boleh berdalil dengannya apabila menemui salah seorang imam yang menilai hadis tersebut berderajat sahih atau hasan. Jika tidak menemui seorang imam yang mensahihkan hadis tersebut, maka dia tidak boleh berdalil dengan hadis tersebut.

 

PEMBAGIAN HADIS BERDASAR KUANTITAS

Adapun berdasarkan jumlah kuantitas atau berdasarkan jumlah perawinya, hadis terbagi menjadi dua bagian. Pertama, hadis mutawatir, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh sejumlah orang yang banyak. Kedua hadis ahad, yang diriwayatkan oleh orang yang banyak, tapi tidak sampai sejumlah hadis mutawatir.

Hadis ahad itu bukanlah hadis palsu atau hadis bohong, namun hadis yang sahih pun bisa termasuk hadis ahad juga, yang tidak sampai derajat mutawatir. Hadis ahad tidak ditempatkan secara berlawanan dengan hadis sahih, melainkan ditempatkan berlawanan dengan hadis mutawatir.

1. Hadis Mutawatir

Hadis mutawatir adalah hadis hasil tanggapan dari pancaindera yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi yang menurut adat kebiasaan mustahil mereka berkumpul dan bersepakat berdusta.

a. Syarat-syarat Hadis Mutawatir

Untuk bisa dikatakan sebagai hadis mutawatir, ada beberapa syarat minimal yang harus terpenuhi:

1) Pemberitaan yang disampaikan oleh perawi harus berdasarkan tanggapan pancainderanya sendiri.

2) Jumlah perawinya harus mencapai suatu ketentuan yang tidak memungkinkan mereka bersepakat dusta.

3) Adanya keseimbangan jumlah antara rawi-rawi dalam tabaqah (lapisan) pertama dengan jumlah perawi dalam lapisan berikutnya.

Karena syaratnya yang sedemikian ketat, maka kemungkinan adanya hadis mutawatir sedikit sekali dibandingkan dengan hadis-hadis ahad.

b. Klasifikasi Hadis Mutawatir

Hadis mutawatir itu sendiri masih terbagi lagi menjadi dua jenis, yaitu mutawatir lafzi dan mutawatir ma’nawi. Hadis mutawatir lafzi adalah hadis yang diriwayatkan oleh banyak orang yang susunan redaksi dan maknanya sesuai benar antara riwayat yang satu dengan yang lainnya. Atau boleh disebut juga dengan hadis yang mutawatir lafaznya.

Hadis mutawatir ma’nawi adalah hadis mutawatir yang perawinya berlainan dalam menyusun redaksi hadis, tetapi terdapat persamaan dalam maknanya. Atau menurut definisi lain adalah kutipan sekian banyak orang yang menurut adat kebiasaan mustahil bersepakat dusta atas kejadian-kejadian yang berbeda-beda tetapi bertemu pada titik persamaan.

Hadis mutawatir memberi manfaat ilmu daruri yakni keharusan untuk menerimanya bulat-bulat sesuatu yang diberitakan oleh hadis mutawatir sehingga membawa kepada keyakinan yang qat’i (pasti).

2. Hadis Ahad

Hadis ahad adalah semua hadis yang tidak mencapai derajat mutawatir. Dengan demikian, sudah bisa dipastikan bahwa jumlah hadis ahad itu pasti lebih banyak dibandingkan dengan hadis mutawatir.

Bahkan boleh dibilang bahwa nyaris semua hadis yang kita miliki dalam ribuan kitab, derajatnya hanyalah ahad saja, sebab yang mutawatir itu sangat sedikit, bahkan lebih sedikit dari ayat-ayat al-Qur’an.

a. Klasifikasi Hadis Ahad

Kalau kita berbicara hadis ahad, sebenarnya kita sedang membicarakan sebagian besar hadis. Sehingga kita masih leluasa untuk mengklasifikasikannya lagi menjadi beberapa kelompok hadis ahad.

1) Hadis Masyhur :

Hadis masyhur adalah hadis yang diriwayatkan oleh tiga orang atau lebih serta belum mencapai derajat mutawatir. Hadis masyhur sendiri masih terbagi lagi menjadi tiga macam, yaitu masyhur di kalangan para muhaddis|in dan golongannya; masyhur di kalangan ahli-ahli ilmu tertentu dan masyhur dikalangan orang umum.

2) Hadis ‘Aziz

Hadis ‘aziz adalah hadis yang diriwayatkan oleh dua orang walaupun dua orang rawi tersebut terdapat pada satu lapisan saja, kemudian setelah itu orangorang lain meriwayatkannya.

3) Hadis Garib

Hadis garib adalah hadis yang dalam sanadnya terdapat seorang (rawi) yang menyendiri dalam meriwayatkan di mana saja penyendirian dalam sanad itu terjadi.

 

PEMBAGIAN HADIS BERDASARKAN KUALITAS

Berdasarkan kualitasnya, hadis dapat dibagi menjadi tiga, yakni hadis sahih, hadis hasan dan hadis daif.

1. Hadis Sahih

Secara etimologi, kata sahih (Arab:  ) artinya: sehat. Kata ini merupakan antonim dari kata saqim (Arab:  ) yang artinya: sakit. Bila digunakan untuk menyifati badan, maka makna yang digunakan adalah makna hakiki (yang sebenarnya), tetapi bila diungkapkan di dalam hadis dan pengertian-pengertian lainnya, maka maknanya hanya bersifat kiasan (majaz).

Sedangkan secara istilah, pengertian yang paling tepat tentang hadis sahih adalah adalah:

Artinya : Hadis yang bersambung sanadnya (jalur periwayatan) melalui penyampaian para perawi yang adil, dabit, dari perawi yang semisalnya sampai akhir jalur periwayatan, tanpa ada syuzuz, dan juga tanpa ‘illat.

Bersambung sanadnya berarti masing-masing perawi mengambil hadis dari perawi di atasnya secara langsung, dari awal periwayatan hingga ujung (akhir) periwayatan.

Seorang perawi disebut adil jika memenuhi kriteria: muslim, balig, berakal, tidak fasik, dan juga tidak cacat muruah wibawanya (di masyarakat).

Perawi yang dabit adalah orang yang kuat hafalannya. Sehingga hadis yang dia bawa tidak mengalami perubahan. Perawi yang dabit ada 2:

a. Dabit karena kekuatan hafalan, yang disebut dabt al-sadr.

b. Dabit karena ketelitian catatan, yang diistilahkan dengan dabt al-kitabah.

Perawi yang memiliki dabt al-kitabah, hadisnya bisa diterima jika dia menyampaikannya dengan membaca catatan.

Tanpa syuzuz artinya hadis yang diriwayatkan itu tidak bertentangan dengan hadis lain yang diriwayatkan dengan jalur lebih terpercaya.

‘Illat (cacat hadis) adalah sebab tersembunyi yang mempengaruhi kesahihan hadis, meskipun bisa jadi zahirnya tampak sahih. Sehingga hadis sahih harus benar-benar bebas dari ‘illat (cacat).

Definisi hadis sahih secara konkrit baru muncul setelah Imam Syafi’i memberikan penjelasan tentang riwayat yang dapat dijadikan hujah, yaitu:

Pertama, apabila diriwayatkan oleh para perawi yang dapat dipercaya pengamalan agamanya, dikenal sebagai orang yang jujur memahami hadis yang diriwayatkan dengan baik, mengetahui perubahan arti hadis bila terjadi perubahan lafaznya; mampu meriwayatkan hadis secara lafaz, terpelihara hafalannya bila meriwayatkan hadis secara lafaz, bunyi hadis yang dia riwayatkan sama dengan hadis yang diriwayatkan orang lain dan terlepas dari tadlis (penyembuyian cacat),

Kedua, rangkaian riwayatnya bersambung sampai kepada Nabi Muhammad saw. atau dapat juga tidak sampai kepada Nabi. Satu hal yang penting untuk kita jadikan catatan, berdasarkan keterangan bahwa seseorang tidak mungkin bisa menilai kesahihan suatu hadis sampai dia betul-betul mendalami ilmu hadis. Karena itu, bagi orang yang merasa belum memiliki ilmu yang cukup tentang masalah hadis, selayaknya dia merujuk kepada ahlinya, ketika hendak menilai keabsahan suatu hadis.

Imam Bukhari dan Imam Muslim membuat kriteria hadis sahih sebagai berikut:

1) Rangkaian perawi dalam sanad itu harus bersambung mulai dari perawi pertama sampai perawi terakhir

2) Para perawinya harus terdiri dari orang-orang yang dikenal s|iqat, dalam arti adil dan dabit

3) Hadisnya terhindar dari ‘illat (cacat) dan syadz (janggal), dan

4) Para perawi yang terdekat dalam sanad harus sezaman.

Syarat-syarat Hadis Sahih

Berdasarkan definisi hadis sahih diatas, dapat dipahami bahwa syaratsyarat hadis sahih dapat dirumuskan sebagai berikut:

a. Sanadnya Bersambung

Maksudnya adalah tiap-tiap perawi dari perawi lainnya benar-benar mengambil secara langsung dari orang yang ditanyanya, dari sejak awal hingga akhir sanadnya. Untuk mengetahui dan bersambungnya dan tidaknya suatu sanad, biasanya ulama hadis menempuh tata kerja sebagai berikut;

1. Mencatat semua periwayat yang diteliti

2. Mempelajari kehidupan masing-masing periwayat

3. Meneliti kata-kata yang berhubungan antara para periwayat dengan periwayat yang terdekat dalam sanad, yakni apakah kata-kata yang terpakai berupa haddas|ani, akhbarana, akhbarani, ‘an, anna, atau kata-kata lainnya.

b. Perawinya Bersifat Adil

Maksudnya adalah tiap-tiap perawi itu seorang muslim, bersetatus mukallaf (balig), bukan fasik dan tidak pula jelek prilakunya. Dalam menilai keadilan seorang periwayat cukup dilakukan dengan salah satu teknik berikut:

1. Keterangan seseorang atau beberapa ulama ahli ta’dil bahwa seorang itu bersifat adil, sebagaimana yang disebutkan dalam kitab-kitab al-jarh wa atta’di l.

2. Ketenaran seseorang bahwa ia bersifast adil, seperti imam empat Hanafi, Maliki, Asy-Syafi’i, dan Hambali.

3. Khusus mengenai perawi hadis pada tingkat sahabat, jumhur ulama sepakat bahwa seluruh sahabat adalah adil. Pandangan berbeda datang dari golongan Muktazilah yang menilai bahwa sahabat yang terlibat dalam pembunuhan Ali dianggap fasik, dan periwayatannya pun ditolak.

c. Perawinya Bersifat Dabit

Maksudnya masing-masing perawinya sempurna daya ingatannya, baik berupa kuat ingatan dalam dada maupun dalam kitab (tulisan).

Dabit dalam dada ialah terpelihara periwayatan dalam ingatan, sejak ia manerima hadis sampai meriwayatkannya kepada orang lain, sedang, dabit dalam kitab ialah terpeliharanya kebenaran suatu periwayatan melalui tulisan.

Adapun sifat-sifat kedabitan perawi, menurut para ulama, dapat diketahui melalui:

1. kesaksian para ulama

2. berdasarkan kesesuaian riwayatannya dengan riwayat dari orang lain yang telah dikenal kedabitannya.

d. Tidak Syadz

Maksudnya ialah hadis itu benar-benar tidak syadz, dalam arti bertentangan atau menyalesihi orang yang terpercaya dan lainnya. Menurut asy-Syafi’i, suatu hadis tidak dinyatakan sebagai mengandung syuzuz, bila hadis itu hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat yang s|iqah, sedang periwayat yang s|iqah lainnya tidak meriwayatkan hadis itu. Artinya, suatu hadis dinyatakan syuzuz, bila hadis yang diriwayatkan oleh seorang periwayat yang s|iqah tersebut bertentengan dengan hadis yang dirirwayatkan oleh banyak periwayat yang juga bersifat s|iqah.

e. Tidak memilik ’illat

Maksudnya ialah hadis itu tidak ada cacatnya, dalam arti adanya sebab yang tersembunyi yang dapat menciderai pada kesahihan hadis, sementara zahirnya selamat dari cacat.

‘Illat hadis dapat terjadi pada sanad maupun pada matan atau pada keduanya secara bersama-sama. Namun demikian, ‘illat yang paling banyak terjadi adalah pada sanad, seperti menyebutkan muttasil terhadap hadis yang munqati’ atau mursal.

Pembagian Hadis Sahih

Para ahli hadis membagi hadis sahih kepada dua bagian, yaitu sahih liza tih dan sahih li-gairih. perbedaan antara keduanya terletak pada segi hafalan atau ingatan perawinya. pada sahih li-zatih, ingatan perawinya sempurna, sedang pada hadis sahih li-gairih, ingatan perawinya kurang sempurna.

a. Hadis Sahih li-zatih

Maksudnya ialah syarat-syarat lima tersebut benar-benar telah terbukti adanya, bukan dia itu terputus tetapi sahih dalam hakikat masalahnya, karena bolehnya salah dan khilaf bagi orang kepercayaan.

b. Hadis Sahih li-gairih

Maksudnya ialah hadis tersebut tidak terbukti adanya lima syarat hadis sahih tersebut baik keseluruhan atau sebagian. Bukan berarti sama sekali dusta, mengingat bolehnya berlaku bagi orang yang banyak salah.

Kehujahan Hadis

Hadis yang telah memenuhi persyaratan hadis sahih wajib diamalkan sebagai hujah atau dalil syarak sesuai ijmak para uluma hadis dan sebagian ulama usul dan fikih. Kesepakatan ini terjadi dalam soal-soal yang berkaitan dengan penetapan halal atau haramnya sesuatu, tidak dalam hal-hal yang berhubungan dengan aqidah.

Sebagian besar ulama menetapkan dengan dalil-dalil qat’i, yaitu al-Qur’an dan hadis mutawatir. oleh karena itu, hadis ahad tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan aqidah.

Dari segi persyaratan sahih yang terpenuhi dapat dibagi menjadi tujuh tingkatan, yang secara berurutan sebagai berikut:

a. Hadis yang disepakati oleh Bukhari dan Muslim (muttafaq ‘alaih ),

b. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari saja,

c. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim saja,

d. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Bukhari dan Muslim,

e. Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Bukhari saja,

f.   Hadis yang diriwayatkan orang lain memenuhi persyaratan Muslim saja,

g. Hadis yang dinilai sahih menurut ulama hadis selain Bukhari dan Muslim dan tidak mengikuti persyratan keduanya, seperti Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, dan lain-lain.

Kitab-kitab hadis yang menghimpun hadis sahih secara berurutan sebagai berikut:

a. Sahih al-Bukhari (w.250 H).

b. Sahih Muslim (w. 261 H).

c. Sahih Ibnu Khuzaimah (w. 311 H).

d. Sahih Ibnu Hiban (w. 354 H).

e. Mustadrak al-hakim (w. 405).

 

2. Hadis Hasan

Hadis hasan adalah hadis yang sanadnya tersambung, dengan perantara perawi yang adil, yang sedikit lemah hafalannya, tidak ada syadz (berbeda dengan hadis yang lebih sahih) dan ‘illat (penyakit). Kata al-hasan secara bahasa merupakan sifat musyabahah dari kata al-husna yang berarti al-jamal, yang baik/bagus.

Secara istilah, ulama hadis berbeda pendapat mengenai definisi hadis hasan sebab tingkatan hadis hasan berada di pertengahan antara sahih dan daif. Imam Tirmizi mendefinisikannya sebagai hadis yang perawinya tidak ada yang dicurigai pembohong, tidak bertentangan dengan hadis lain, dan diriwayatkan lebih dari satu sanad. Namun definisi yang lebih disepakati para ulama hadis adalah definisi yang disebutkan pada awal artikel, pengertian itu didapat berdasarkan pendapat Ibnu Hajar tentang hadis sahih.

Hadis hasan sebagaimana kedudukannya hadis sahih, meskipun derajatnya dibawah hadis sahih, dapat dijadikan sebagai hujah dalam penetapan hukum maupun dalam beramal. Para ulama hadis dan ulama usul fikih, serta para fukaha sependapat tentang kehujahan hadis hasan ini.

Berdasarkan pengamalannya, sebagaimana hadis sahih, hadis hasan dapat dijadikan sebagai ranah penggalian hukum-hukum Islam sekalipun tidak sekuat hadis sahih, mayoritas para ahli fikih dan usul fikih menggunakannya sebagai landasan dalil kecuali para ulama yang tergolong mutasyaddid (keras).

Terkadang para ulama yang mutasahhil (tidak terlalu ketat) seperti Ibnu Hibban, al-Hakim dan Ibnu Khuzaimah menggolongkan hadis hasan sebagai hadis sahih. Contoh hadis hasan ditemukan dalam Sunan Tirmidzi

Artinya: ‚Sesungguhnya pintu surga berada di bawah bayangan pedang.‛ (HR. Tirmizi)

Menurut Imam Tirmizi, hadis ini adalah hadis hasan garib. Garib karena diriwayatkan oleh satu jalur perawi. Sementara hadis ini dinilai hasan karena empat perawinya s|iqah (terpercaya) kecuali Ja’far bin Sulaiman al-Da’i yang kekuatan hafalannya sedikit lemah sehingga hadis ini dari sahih turun derajatnya menjadi hasan.

Contoh lain hadis hasan adalah :

Hadis tersebut di atas bersambung sanadnya dan semua perawinya termasuk orang-orang terpercaya kecuali Ma’bad al-Juhany menurut adz- Zahaby, Ma’bad termasuk orang yang kurang adil.

Kriteria Hadis Hasan

Berdasarkan pada pengertian-pengertian yang telah dikemukakan di atas, para ulama hadis merumuskan kriteria hadis hasan, kriterianya sama dengan hadis sahih, Hanya saja pada hadis hasan terdapat perawi yang tingkat kedabitannya kurang atau lebih rendah dari perawi hadis sahih.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hadis hasan mempunyai kriteria sebagai berikut:

a. Sanad hadis harus bersambung

b. Perawinya adil

c. Perawinya mempunyai sifat dabit, namun kualitasnya lebih rendah (kurang) dari yang dimiliki oleh perawi hadis sahih.

d. Hadis yang diriwayatkan tersebut tidak syaz

e. Hadis yang diriwayatkan terhindar dari ‘illat yang merusak

Pembagian Hadis Hasan

Hadis hasan dibagi menjadi dua, yaitu:

a. Hadis hasan li zatihi

Hadis hasan li zatihi adalah hadis yang dengan sendirinya telah memenuhi kriteria hadis hasan sebagaimana tersebut diatas, dan tidak memerlukan riwayat lain untuk mengangkatnya ke derajat hasan.

b. Hadis hasan li gairihi

Hadis hasan li gairihi adalah hadis daif apabila jalan (datang)-nya berbilang (lebih dari satu), dan sebab-sebab kedaifannya bukan karena perawinya fasik atau pendusta.

Dengan demikian hadis hasan li gairihi pada mulanya merupakan hadis daif, yang naik menjadi hasan karena ada riwayat penguat, jadi dimungkinkan berkualitas hasan karena riwayat penguat itu, seandainya tidak ada penguat tentu masih berstatus daif.

Imam adz-Zahaby mengatakan, tingkat hasan tertinggi adalah riwayat Bahz ibn Hukaim dari bapaknya dari kakeknya, Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Ibn Ishaq dari at-Taimy dan sanad sejenis yang menurut para ulama dikatakan sebagai sanad sahih, yakni merupakan derajat sahih terendah.

Contoh hadis sahih li ghairihi:

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari jalur Syu’bah dari ‘ashim bin ‘Ubaidillah,dari Abdillah bin Amir bin Rabi’ah, dari ayahnya bahwasanya seorang wanita dari bani Fazarah menikah dengan mahar sepasang sandal.

Kemudian at-Tirmidzi berkata,‛pada bab ini juga diriwayatkan (hadis yang sama) dari ‘Umar, Abi Hurairah,Aisyah dan Abi Hadrad.‛Jalur ‘Ashim didha’ifkan karena buruk hafalannya, kemudian hadis ini dihasankan oleh at- Tirmidzy melalui jalur riwayat yang lain.

Kitab-kitab Yang Memuat Hadis Hasan

Para ulama hadis tidak membukukan kitab khusus yang memuat hadis hasan sebagaimana mereka membukukan hadis sahih dalam satu kitab. Akan tetapi terdapat kitab yang sekiranya memuat banyak hadis hasan di dalamnya, di antaranya;

a. Sunan at-Tirmidzi

b. Sunan Abu Daud

c. Sunan ad-Daruqutni

 

3. Hadis Daif

Daif secara bahasa adalah kebalikan dari kuat yaitu lemah, sedangkan secara istilah yaitu;

‚Apa yang sifat dari hadis hasan tidak tercangkup (terpenuhi) dengan cara hilangnya satu syarat dari syarat-syarat hadis hasan.‛

Dengan demikian, jika hilang salah satu kriteria saja, maka hadis itu menjadi tidak sahih atau tidak hasan. Lebih-lebih jika yang hilang itu sampai dua atau tiga syarat maka hadis tersebut dapat dinyatakan sebagai hadis daif yang sangat lemah. Karena kualitasnya daif, maka sebagian ulama tidak menjadikannya sebagai dasar hukum.

Adapun penyebab kedaifannya karena beberapa hal:

a. Sebab terputusnya sanad secara nyata

1) Mu’allaq adalah apa yang dibuang dari permulaan sanad baik satu rawi atau lebih secara berurutan.

2) Mursal adalah apa yang terputus dari akhir sanadnya yaitu orang sesudah tabiin (sahabat).

3) Mu’dal adalah apa yang terputus dari sanadnya 2 atau lebih secara berurutan.

4) Munqati’ adalah apa yang sanadnya tidak tersambung.

b. Terputus secara khafi (tersembunyi) yaitu:

1) Mudallas adalah menyembunyikan cacat (aib) pada sanadnya dan memperbagus untuk zahir hadisnya.

2) Mursal Khafi adalah meriwayatkan dari orang yang ia bertemu atau sezaman dengannya apa yang ia tidak pernah dengar dengan lafaz yang memungkinkan ia dengar dan yang lainnya seperti qala.

c. Sebab penyakit pada rawi

Penyakit pada rawi terbagi atas 2 penyakit tentang ketakwaan yang meliputi :

1)  Pendusta

2)  Tertuduh dusta

3)  Fasik

4)  Bidah

5)  Kebodohan

Dan penyakit pada dabit (hafalan ) yang meliputi:

1)  Jelek hafalannya

2)  Lalai

3)  Menyelisihi yang s|iqat

4)  Ucapan yang menipu

Klasifikasi Hadis Daif

a. Daif karena tidak bersambung sanadnya.

1)  Hadis Munqati’

Hadis yang gugur sanadnya di satu tempat atau lebih, atau pada sanadnya disebutkan nama seseorang yang tidak dikenal.

2)  Hadis Mu’allaq

Hadis yang rawinya digugurkan seorang atau lebih dari awal sanadnya secara berturut-turut.

3)  Hadis Mursal

Hadis yang gugur sanadnya setelah tabiin. Yang dimaksud dengan gugur di sini, ialah nama sanad terakhir tidak disebutkan. Padahal sahabat adalah orang yang pertama menerima hadis dari Rasul saw.

3)  Hadis Mu’dal

Hadis yang gugur rawinya, dua orang atau lebih, berturut-turut, baik sahabat bersama tabi’, tabi’ bersama tabi’ al-tabi’in maupun dua orang sebelum sahabat dan tabi’.

4)  Hadis Mudallas

Hadis yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan bahwa hadis itu tidak terdapat cacat.

b. Daif karena tiadanya syarat adil

1)  Hadis Maudu’

Hadis yang dibuat-buat oleh seorang (pendusta) yang ciptaannya dinisbatkan kepada Rasulullah secara paksa dan dusta, baik sengaja maupun tidak.

2)  Hadis Matruk dan Hadis Munkar

Hadis yang diriwayatkan oleh seseorang yang tertuduh dusta (terhadap hadis yang diriwayatkannya), atau tampak kefasikannya, baik pada perbuatan ataupun perkataannya, atau orang yang banyak lupa maupun ragu.

c.  Daif karena tidak dabit.

1)  Hadis Mudraj

Hadis yang menampilkan (redaksi) tambahan, padahal bukan (bagian dari) hadis

2)  Hadis Maqlub

Hadis yang lafaz matannya terukur pada salah seorang perawi, atau sanadnya. Kemudian didahulukan pada penyebutannya, yang seharusnya disebutkan belakangan, atau mengakhirkan penyebutan, yang seharusnya didahulukan, atau dengan diletakkannya sesuatu pada tempat yang lain.

3)  Hadis Mudtarib

Hadis yang diriwayatkan dengan bentuk yang berbeda padahal dari satu perawi dua atau lebih, atau dari dua perawi atau lebih yang berdekatan tidak bisa ditarjih.

4)  Hadis Musahhaf dan Muharraf

Hadis Musahhaf yaitu hadis yang perbedaannya dengan hadis riwayat lain terjadi karena perubahan titik kata, sedangkan bentuk tulisannya tidak berubah. Hadis Muharraf yaitu hadis yang perbedaannya terjadi disebabkan karena perubahan syakal kata sedangkan bentuk tulisannya tidak berubah.

d. Daif karena Kejanggalan dan kecacatan

1)  Hadis Syadz

Hadis yang diriwayatkan oleh orang yang maqbul, akan tetapi bertentangan (matannya) dengan periwayatan dari orang yang kualitasnya lebih utama.

2)  Hadis Mu’allal

Hadis yang diketahui ‘Illatnya setelah dilakukan penelitian dan penyelidikan meskipun pada lahirnya tampak selamat dari cacat

e. Daif dari segi matan

1)  Hadis Mauquf

Hadis yang diriwayatkan dari para sahabat, baik berupa perkataan, perbuatan, atau takrirnya. Periwayatannya, baik sanadnya bersambung maupun terputus.

2)  Hadis Maqtu’

Hadis yang diriwayatkan dari tabiin dan disandarkan kepadanya, baik perkataan maupun perbuatannya. Dengan kata lain, hadis maqtu’ adalah perkataaan atau perbuatan tabiin.

Kehujahan Hadis Daif

Khusus hadis daif, maka para ulama hadis kelas berat semacam al-Hafiz Ibnu Hajar al-‘Asqalani menyebutkan bahwa hadis daif boleh digunakan, dengan beberapa syarat:

1. Level kedaifannya tidak parah

Hadis daif sangat banyak jenisnya dan banyak jenjangnya. Dari yang paling parah sampai yang mendekati sahih atau hasan. Maka menurut para ulama, masih ada di antara hadis daif yang bisa dijadikan hujah, asalkan bukan dalam perkara aqidah dan syariah (hukum halal haram). Hadis yang level kedaifannya tidak terlalu parah, boleh digunakan untuk perkara fadail al-a’mal (keutamaan amal).

2. Berada di bawah nas lain yang sahih

Maksudnya hadis yang daif itu kalau mau dijadikan sebagai dasar dalam fadail al-a’mal, harus didampingi dengan hadis lainnya. Bahkan hadis lainnya itu harus sahih. Maka tidak boleh hadis daif jadi pokok, tetapi dia harus berada di bawah nas yang sudah sahih.

3. Ketika mengamalkannya, tidak boleh meyakini kesabitannya

Maksudnya, ketika kita mengamalkan hadis daif itu, kita tidak boleh meyakini 100% bahwa ini merupakan sabda Rasululah saw. atau perbuatan beliau. Tetapi yang kita lakukan adalah bahwa kita masih menduga atas kepastian datangnya informasi ini dari Rasulullah saw..

 

Lampiran 3

GLOSARIUM

Ijmal            : ringkasan, secara umum ikhtisar, tidak terinci

Maknawi     : tentang makna, berkaitan dengan makna, yang tersirat, inti, penting

Masdar        : bentuk asli, bentuk asal, verbal

Mukjizat      : kejadian luar biasa yang dialami nabi yang di luar jangkauan akal manusia

Rida             : rela, suka, senag hati

Risalah        : ringkasan yang dikirimkan, surat edaran, notulensi rapat, keterangan ringkas tentang suatu bahasan ilmu pengetahuan

Tarikh         : Penanggalan, perhitungan tantang tanggal, penanda waktu

Tasrif           : Sistem perubahan bentuk kata dalam bahasa arab yang menandakan waktu, pelaku dan, pekerjaan, benda atau keterangan

 

Lampiran 4

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Wahid Ramli. Ulumul Qur’an, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002

Ahad Syadali,. Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an 1, CV Pustaka setia abadi, Bandung, 1997

Ahmad Syadali. ‘Ulumul Qur’an I. Cet. I; Bandung: Pustaka Setia, 1997.

Al-Alwi Sayyid Muhammad Ibn Sayyid Abbas, Faidl Al-Khobir, Al-Hidayah, Surabaya

Al-Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Litera Antar Nusa, Jakarta, 2000

Al-Shalih, Shubhi, Mabahits fi ‘Ulum al-Quran, Dar al ‘Ilm Li al-Malayin, Beirut, 1977

Al-Shobuny, Mohammad Aly, at-Tibyan fi Ulumil Qur’an, Alam al-Kitab, Beirut

al-Suyuti, Jalaluddin, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Cet.I; Beirut: Muassasah al-Risalah, 2008

Al-Salih, Subhi, Membahas Ilmu – Ilmu Hadis. Pustaka Firdaus: Jakarta, 2000.

Al-Zarqany, Muhammad Abd al-Azhim, Manahil al-Irfan fi Ulum al-Qur’an, Juz I, Isa al-Baby al-Halaby wa Syirkah, Mesir

Factur Rahman. Ikhtisar Musthalahul Hadis. Al-Ma’rif, Bandung, 1985

Hasbi ash-Shidiqi, Tengku Muhammad, Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2009

Hudhari Bik, Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, (Terj. Mohammad Zuhri, Rajamurah Al-Qanaah), 1980,

Ismail, Muhammad Bakri, Dirasat fi Ulum al-Qur’an, Cet. II; Kairo: Dar al-Manar, 1999

Jalal al-Din ‘Abd al- Rahman ibn Abi bakr al-Suyuthi, Tadrib al-RAwi fi Syarh Taqrib an- Nawawi, jilid 1, Beirut: Dar al-Fikr

Kahar Masyur, Pokok-pokok Ulumul Qur’an,Rineka Cipta, Jakarta, 1992

Kamaluddin Marzuki, Ulumul Quran, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, 1994

Khatib, Al.M. Ajjaj. Al Sunah Qobla Al Tadwin.Dar Al Fikr: Beirut, 1997

Mana’ul Quthan, Pembahasan ilmu Al-Qur’an, PT Rineka cipta, Jakarta, 1993

M. Hasbi Ashshiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu alqur’an dan Tafsir, PT Bulan Bintang, Jakarta, 1992

Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, Dana Bakti Primayasa, Yogyakarta, 1998

M. Quraish Shihab, ‚Membumikan‛ Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Cet. XIX; Bandung: Mizan, 1999)

Muhammad Ahmad & M. Mudzakir, Ilmu Hadis (Cet – 10), Pustaka Setia, Bandung, 2000

Muhammad Ahmad. Ulumul Hadis. Pustaka Setia, Bandung, 2004

Nawir Yuslem. MA, ulumul Hadis, Mutiara sumber widya, Jakarta 2001

Rofi’i, Ahmad & Ahmad Syadali. Ulumul Quran Pustaka Setia, Bandung 1997.

Subhi Ash-Shalih, Membahas ilmu-ilmu Al-quran, terjemah Nur Rakhim, Pustaka Firdaus Jakarta, 1993

Suparta, Munzier. Ilmu Hadis, Raja Grapindo: Jakarta, 2002

Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy Sejarah dan Pengantar Ilmu Hadis, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 1998

Zarkasih, M.Ag., Pengantar Studi Hadis, Aswaja Presindo, Yogyakarta, 2012

 

 

Mengetahui,

Kepala Sekolah

 

 

 

LUFIANA, S.S

NBM. 1024550

MAGELANG, ......JANUARI  2025

Guru Mata Pelajaran

 

 

 

KUNI HIRIYANTI, S.Pd

NIP. -

 

 

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar