MODUL AJAR FASE E MADRASAH ALIYAH
MATA PELAJARAN : AL-QUR'AN HADITS
BAB 12 : BIOGRAFI SINGKAT TOKOH-TOKOH ILMU
HADIS DAN KARYANYA
INFORMASI UMUM
A. Identitas Modul
Nama Madrasah : MA MUHAMMADIYAH BLABAK
Nama Penyusun : KUNI HIRIYANTI, S.Pd
Mata Pelajaran : Al-Qur'an Hadits
Kelas / Fase Semester :
X/ E / 2
Elemen : Biografi Singkat Tokoh-tokoh Ilmu Hadis dan
Karyanya
Alokasi waktu : 2 x 45 Menit
Capaian Pembelajaran
Pada akhir Fase E, pada elemen Ilmu
Al-Qur'an, Peserta didik dapat menganalisis hal ihwal ilmu Al-Qur'an tentang
pengertian Al-Quran menurut pendapat para ulama', sejarah turun dan
kodifikasinya, bukti-bukti keautentikan, kemukjizatan, pokok-pokok kandungan,
dan struktur Al-Qur’an, untuk meyakini kebenaran Al-Qur'an dan mengamalkan
pesan Al-Qur'an dalam konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara.
Pada elemen Ilmu Hadis, peserta didik mampu menganalisis hal ihwal tentang ilmu
hadis yang meliputi; perbedaan hadis, sunah, khabar, dan asar, sejarah
kodifikasi dan perkembangan hadis, unsur-unsur hadis, kedudukan dan fungsi
hadis terhadap ayat Al-Qur’an, pembagian hadis, serta tokoh-tokoh ulama hadis
untuk meyakini kebenaran hadis-hadis tersebut bersumber dari Rasulullah saw.,
baik secara sanad dan matan maupun kualitas kesahihannya serta mengamalkan ilmu
hadis agar lebih kritis dalam menerima dan merespon berita di masyarakat dalam
konteks kehidupan berbangsa dan bernegara.
|
Elemen |
Capaian Pembelajaran |
|
Ilmu Al-Qur'an |
Peserta didik dapat
menganalisis hal ihwal ilmu Al-Qur'an yang meliputi; pengertian Al-Quran
menurut pendapat para ulama', sejarah turun dan kodifikasinya, bukti-bukti
keautentikan, kemukjizatan, pokok-pokok kandungan, dan struktur Al-Qur'an,
untuk meyakini kebenaran Al-Qur'an dan mengamalkan pesan Al-Qur'an dalam
konteks kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. |
|
Ilmu Hadis |
Peserta didik mampu
menganalisis hal ihwal tentang ilmu hadis yang meliputi; perbedaan hadis,
sunah, khabar, dan asar, sejarah kodifikasi dan perkembangan hadis, unsur-unsur
hadis, kedudukan dan fungsi hadis terhadap ayat Al-Quran, pembagian hadis,
serta tokoh-tokoh ulama hadis untuk meyakini kebenaran hadis-hadis tersebut
bersumber dari Rasulullah saw., baik secara sanad dan matan maupun kualitas
kesahihannya serta menggunakan ilmu hadis agar selektif terhadap hadis yang
dijadikan dasar beramal, sebagai sarana menanamkan sikap kritis dalam
menerima dan merespon berita di masyarakat dalam konteks kehidupan berbangsa
dan bernegara. |
B Kompetensi Awal
Orang yang mempelajari sejarah Islam sejak zaman dahulu hingga hari
ini, tentu akan menemukan bahwa ahli hadis adalah pengikut Nabi yang paling
kokoh dan teguh mengikuti Nabi Muhammad dalam hal akidah, manhaj, ibadah,
dakwah, muamalah, dan berhujah.
Mereka, ahlul hadis, benar-benar
berada pada titik tertinggi dalam keyakinan dan ketenangan sehingga dapat
menghafal, menjaga hafalan dan mengajarkan atau menularkan hafalannya kepada
generasi sesudahnya.
C. Profil Pelajar Pancasila
(PPP) dan Pelajar Rahmatan lil Alamin (PRA)
§ Profil Pelajar Pancasila yang ingin dicapai
adalah bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis
dan kreatif, bergotong royong, serta kebhinnekaan global.
§ Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin yang ingin dicapai adalah taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar, dan tasamuh.
D. Sarana dan Prasarana
Media : LCD proyektor,
komputer/laptop, jaringan internet, dan lain-lain
Sumber
Belajar : LKPD, Buku Teks, laman
E-learning, E-book, dan lain-lain
E. Target Peserta Didik
Peserta didik cerdas istimewa berbakat dan peserta didik regular
F. Model DAN METODE Pembelajaran
Discovery
learning, Diskusi, Tanya jawab dan
games
KOMPETENSI INTI
A. Tujuan Pembelajaran
§ Peserta didik dapat menghargai semangat dan
karya tokoh-tokoh hadis sebagai khazanah intelektual Islam.
§ Peserta didik dapat mengamalkan sikap kritis
dalam mempelajari tokoh hadis dan kitabnya.
§ Peserta didik dapat menganalisis biografi
tokoh hadis dan kitabnya.
§ Peserta didik dapat
menyajikan hasil analisis biografi tokoh-tokoh hadis dan kitabnya.
B. Pemahaman Bermakna
§ Menganalisis biografi tokoh hadis dan
kitabnya
§ Menyajikan hasil analisis
biografi tokoh-tokoh hadis dan kitabnya
C. Pertanyaan Pemantik
Guru menanyakan kepada peserta didik seputar
materi Biografi Singkat Tokoh-tokoh Ilmu Hadis dan Karyanya
D. Kegiatan Pembelajaran
PERTEMUAN KE-1
Biografi
Imam Malik (93-179 H), Imam Al-Bukhari, Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj
al-Naisaburi, Abu Daud al-Sijistani, Imam al-Turmudzi, Al-Imam al-Nasa’i,
Al-Imam Ibn Majah
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Biografi Imam Malik (93-179 H), Imam
Al-Bukhari, Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Abu Daud
al-Sijistani, Imam al-Turmudzi, Al-Imam al-Nasa’i, Al-Imam Ibn Majah |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Biografi Imam Malik (93-179 H), Imam
Al-Bukhari, Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Abu Daud
al-Sijistani, Imam al-Turmudzi, Al-Imam al-Nasa’i, Al-Imam Ibn Majah |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Biografi Imam Malik (93-179 H), Imam
Al-Bukhari, Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Abu Daud
al-Sijistani, Imam al-Turmudzi, Al-Imam al-Nasa’i, Al-Imam Ibn Majah |
|
Communication |
§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja
kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi
yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang
mempresentasikan. |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Biografi Imam Malik
(93-179 H), Imam Al-Bukhari, Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi,
Abu Daud al-Sijistani, Imam al-Turmudzi, Al-Imam al-Nasa’i, Al-Imam Ibn Majah § Peserta didik kemudian diberi kesempatan
untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
PERTEMUAN KE-2
Karya Imam
Malik (93-179 H), Imam Al-Bukhari, Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj
al-Naisaburi, Abu Daud al-Sijistani, Imam al-Turmudzi, Al-Imam al-Nasa’i,
Al-Imam Ibn Majah
|
KEGIATAN PENDAHULUAN |
|
|
§ Guru
membuka pembelajaran dengan mengucapkan salam. § Melakukan
pembiasaan berdoa, memeriksa kehadiran, kerapihan pakaian, posisi
tempat duduk peserta didik dan kebersihan kelas. § Guru
memberikan motivasi, memberikan pertanyaan pemantik materi yang akan
diajarkan. § Guru
memotivasi peserta didik untuk tercapainya kompetensi dan karakter yang sesuai
dengan Profil Pelajar Pancasila (bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, bernalar kritis dan kreatif,
bergotong royong, serta kebhinnekaan global)
dan Profil Pelajar Rahmatan Lil ‘Alamin (taaddub, tawassuth, tathawwur wa ibtikar,
dan tasamuh) |
|
|
KEGIATAN INTI |
|
|
Kegiatan
Literasi |
§ Peserta
didik diberi motivasi dan panduan untuk melihat, mengamati, membaca dan menuliskannya kembali. Mereka
diberi tayangan dan bahan bacaan terkait materi : Karya Imam Malik (93-179 H), Imam
Al-Bukhari, Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Abu Daud
al-Sijistani, Imam al-Turmudzi, Al-Imam al-Nasa’i, Al-Imam Ibn Majah |
|
Critical
Thinking |
§ Guru
memberikan kesempatan untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin hal yang belum dipahami,
dimulai dari pertanyaan faktual sampai ke pertanyaan yang bersifat hipotetik.
Pertanyaan ini harus tetap berkaitan dengan materi : Karya Imam Malik (93-179 H), Imam
Al-Bukhari, Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Abu Daud
al-Sijistani, Imam al-Turmudzi, Al-Imam al-Nasa’i, Al-Imam Ibn Majah |
|
Collaboration |
§ Peserta
didik dibentuk dalam beberapa kelompok untuk mendiskusikan, mengumpulkan
informasi, mempresentasikan ulang, dan saling bertukar informasi mengenai : Karya Imam Malik (93-179 H), Imam
Al-Bukhari, Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi, Abu Daud
al-Sijistani, Imam al-Turmudzi, Al-Imam al-Nasa’i, Al-Imam Ibn Majah |
|
Communication |
§ Peserta didik mempresentasikan hasil kerja
kelompok atau individu secara klasikal, mengemukakan pendapat atas presentasi
yang dilakukan kemudian ditanggapi kembali oleh kelompok atau individu yang mempresentasikan. |
|
Creativity |
§ Guru
dan peserta didik membuat kesimpulan tentang hal-hal yang telah dipelajari
terkait : Karya Imam Malik
(93-179 H), Imam Al-Bukhari, Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi,
Abu Daud al-Sijistani, Imam al-Turmudzi, Al-Imam al-Nasa’i, Al-Imam Ibn Majah § Peserta didik kemudian diberi kesempatan
untuk menanyakan kembali hal-hal yang belum dipahami |
|
KEGIATAN PENUTUP |
|
|
§ Guru
membimbing peserta didik menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan § Melakukan
refleksi dan tanya jawab untuk mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang
telah dilaksanakan § Guru
mengakhiri kegiatan belajar dengan memberikan pesan dan motivasi tetap
semangat belajar dan diakhiri dengan berdoa. |
|
E. Pembelajaran Diferensiasi
§ Untuk siswa yang sudah memahami materi ini
sesuai dengan tujuan pembelajaran dan mengeksplorasi topik ini lebih jauh,
disarankan untuk membaca materi Biografi Singkat Tokoh-tokoh Ilmu Hadis dan Karyanya dari berbagai referensi yang relevan.
§ Guru dapat menggunakan alternatif metode dan
media pembelajaran sesuai dengan kondisi masing-masing agar pelaksanaan
pembelajaran menjadi lebih menyenangkan (joyfull
learning) sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai.
§ Untuk siswa yang kesulitan belajar topik ini,
disarankan untuk belajar kembali tata cara pada pembelajaran di dalam dan atau
di luar kelas sesuai kesepataan antara guru dengan siswa. Siswa juga disarankan
untuk belajar kepada teman sebaya.
E. ASESMEN / PENILAIAN
1. Asesmen Formatif (selama proses pembelajaran)
a. Asesmen
awal
Untuk mengetahui kesiapan siswa dalam
memasuki pembelajaran, dengan pertanyaan:
|
No |
Pertanyaan |
Jawaban |
|
|
Ya |
Tidak |
||
|
1 |
Apakah
pernah membaca buku terkait ? |
|
|
|
2 |
Apakah
kalian ingin menguasai materi pelajaran dengan baik ? |
|
|
|
3 |
Apakah
kalian sudah siap melaksanakan pembelajaran dengan metode inquiry learning,
diskusi ? |
|
|
b. Asesmen
selama proses pembelajaran
Asesmen ini dilakukan guru selama
pembelajaran, khususnya saat peserta didik melakukan kegiatan diskusi,
presentasi dan refleksi tertulis. Asesmen saat inquiry learning (ketika peserta didik melakukan kegiatan belajar
dengan metode inquiry learning)
Lembar kerja
pengamatan kegiatan pembelajaran dengan metade
inquiry learning
|
No |
Nama Siswa |
Arpak yang diamati |
Skor |
|||||
|
Gagasan |
Aktif |
Kerjasama |
1 |
2 |
3 |
4 |
||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
Nilai akhir x 25 |
||||||||
2. Asesmen Sumatif
a. Asesmen
Pengetahuan
Soal Asesmen Pengetahuan
Jawablah pertanyaan-pertanyaan
berikut ini dengan jawaban yang benar!
1. Sebutkan
beberapa kitab yang ditulis oleh Imam Malik !
2. Sebutkan
Kitab-kitab yang ditulis Imam Bukhari !
3. Sebutkan
kitab-kitab Imam al-Tirmidzi !
4. Tulislah nama lengkap Imam an-Nasai !
b. Asesmen
keterampilan
1) Peserta
didik mempraktikkan berkenalan secara lisan dan tulis
Contoh rubrik
penilaian praktek:
Nama : …………………………………..
Kelas :
…………………………………..
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Kelancaran
(kompetensi gramatikal di aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
2 |
Ketepatan
(kompetensi gramatikal aspek nahwu sharaf) |
20 |
|
3 |
Isi
(kompetensi wacana dan sosiolinguistik) |
20 |
|
4 |
Ucapan/pelafalan
(kompetensi gramatikal aspek bunyi bahasa) |
20 |
|
5 |
Gestur
(kompetensi strategi) |
20 |
|
Total |
100 |
|
Indikator
Penilaian aspek kelancaran (fluency)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
15 - 20 |
|
2 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih efektif |
10 - 14 |
|
3 |
Tidak ada
jeda yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
5 - 9 |
|
4 |
Ada jeda
yang tidak diperlukan, kalimat dan ungkapan yang dipilih kurang efektif |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek ketepatan (accuracy)
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Tidak ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
15 - 20 |
|
2 |
Tidak ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
10 - 14 |
|
3 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih tepat |
5 - 9 |
|
4 |
Ada
kesalahan gramatikal, diksi yang dipilih kurang tepat |
0 - 4 |
Indikator
penilaian aspek isi
|
No |
Aspek
Penilaian |
Skor |
|
1 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi
khusus dari klasifikasi detail |
25 -30 |
|
2 |
Memiliki
struktur teks deskriptif lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, identifikasi, klasifikasi, dan deskripsi
khusus dari klasifikasi kurang detail |
20 - 24 |
|
3 |
Memiliki struktur
teks deskriptif tidak lengkap (deskripsi umum dan deskripsi khusus),
deskripsi umum meliputi definisi, klasifikasi, dan deskripsi khusus dari
klasifikasi kurang detail |
15 - 19 |
|
4 |
Memiliki
struktur teks deskriptif kurang lengkap (deskripsi umum dan deskripsi
khusus), deskripsi umum meliputi definisi, dan deskripsi khusus kurang sesuai |
10 - 14 |
|
5 |
Tidak ada
komponen struktur deskriptif |
1 - 9 |
Petunjuk penskoran:
Penghitungan skor akhir menggunakan rumus:
Skor Perolehan x 10 = ….
2) Peserta
didik membuat kartu nama
Contoh rubrik
penilaian produk kartu nama
|
No |
Nama Siswa |
Perencanaan Bahan |
Aspek Yang Dinilai |
Jml |
|||
|
Proses Pembuatan |
Hasil Produk |
||||||
|
Langkah pembuatan |
Teknik pembuatan |
Bentuk fisik |
Inovasi |
||||
|
1 |
Sultan
Haykal |
|
|
|
|
|
|
|
2 |
Aisy Anindya |
|
|
|
|
|
|
|
3 |
Dias Abdalla |
|
|
|
|
|
|
|
4 |
|
|
|
|
|
|
|
|
5 |
|
|
|
|
|
|
|
|
dst |
|
|
|
|
|
|
|
Keterangan:
Skor antara 1 – 5
Aspek yang dinilai disesuaikan dengan tugas
yang diberikan
F. PENGAYAAN DAN REMEDIAL
Pengayaan
§ Pengayaan diberikan kepada
peserta didik yang telah mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran.
§ Guru memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang lebih variatif dengan menambah keluasan dan
kedalaman materi yang mengarah pada high
order thinking
§ Program pengayaan dilakukan di luar
jam belajar efektif.
Remedial
§ Remedial diberikan kepada peserta didik yang
belum mencapai kompetensi dan tujuan pembelajaran
§ Guru melakukan pembahasan ulang terhadap
materi yang telah diberikan dengan cara/metode yang berbeda untuk memberikan
pengalaman belajar yang lebih memudahkan peserta didik dalam memaknai dan
menguasai materi ajar misalnya lewat diskusi dan permainan.
§ Program remedial dilakukan di luar jam
belajar efektif.
G. REFLEKSI GURU DAN PESERTA DIDIK
Refleksi Guru:
Pertanyaan kunci yang membantu guru untuk merefleksikan
kegiatan pengajaran di kelas, misalnya:
§ Apakah semua peserta didik terlibat aktif
dalam pembelajaran iniv ?
§ Apakah ada kesulitan yang dialami peserta
didik?
§ Apakah semua peserta didik sudah dapat
melampaui target pembelajaran?
§ Sudahkan tumbuh sikap yang mencerminkan
profil pelajar pancasila dan profil pelajar rahmatal lil ‘alamin?
§ Apa langkah yang perlu dilakukan untuk
memperbaiki proses belajar?
Refleksi Peserta Didik:
|
No |
Pertanyaan Refleksi |
Jawaban Refleksi |
|
1 |
Bagian manakah yang menurut kamu hal paling sulit dari
pelajaran ini? |
|
|
2 |
Apa yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki hasil
belajarmu? |
|
|
3 |
Kepada siapa kamu akan meminta bantuan untuk memahami
pelajaran ini? |
|
|
4 |
Jika kamu diminta untuk memberikan bintang 1 sampai 5,
berapa bintang yang akan kamu berikan pada usaha yang telah dilakukan |
|
|
|
LAMPIRAN- LAMPIRAN
Lampiran 1
LEMBAR KERJA PESERTA
DIDIK (LKPD)
Nama : …………………………………..
Kelas : …………………………………..
Diskusikan
bersama teman dan kelompokmu tentang usaha para ulama ahli hadis dalam mencatat
dan menelusuri derajat hadis lalu presentasikan hasilnya di depan kelas.
Lampiran 2
MATERI
BAHAN AJAR
BIOGRAFI SINGKAT TOKOH-TOKOH ULAMA
HADIS
a. Imam Malik (93-179 H)
1) Riwayat Singkat
Keluarga
beliau berasal dari Yaman. Imam Malik tinggal bersama istrinya Fatimah dan tiga
orang anaknya, Yahya, Muhammad dan Hammad. Kesungguhannya dalam menekuni
pengetahuan agama telah menjadikan Imam Malik sebagai
seorang panutan di bidang fikih dan hadis. Bahkan di bidang fikih, ia dikenal
sebagai pendiri salah satu Mazhab Fikih yaitu Mazhab Maliki.
Menurut
Imam al-Suyuti, kitab al-Muwatta’ disusun selama hampir empat puluh tahun. Dan
ia keberatan kalau al-Muwatta’ dijadikan kitab pegangan resmi bagi pemerintah,
sementara kitab yang memuat pendapat lain harus dibuang. Tampaknya ia menyadari
bahwa pendapatnya yang juga dituangkan di dalam al-Muwatta’ ada peluang berbeda
dengan pendapat ulama lain.
Imam
Malik menyadari bahwa Islam yang dipraktikkan di tempat lain tidak harus sama
dengan masyarakat Madinah, yang merupakan masyarakat ideal di dalam
al-Muwatta’. Maka jika kitabnya dipaksakan untuk diberlakukan di semua
masyarakat, ia khawatir justru membingungkan dan tidak menimbulkan maslahat.
Disini ia agaknya hendak menghargai pendapat lain berkembang juga.
2) Kitab
al-Muwatta’
Menurut
Imam Malik, sangat penting untuk mencatat dan mendokumentasikan perilaku Nabi
dan tanggapan atau komentar para sahabat terhadapnya. Bahkan Imam Malik
beranggapan perlunya mendokumentasikan pendapat para penerusnya (tabiin). Oleh
karena itu, di dalam kitab al-Muwatta’ juga didokumentasikan tentang pendapat
para sahabat, tabiin dan bahkan ia menuliskan pendapatnya sendiri.
Kitab
al-Muwatta’ adalah salah satu karya fenomenal Imam Malik yang memuat berita
perilaku Nabi Muhammad saw. (perbuatan, perkataan, sifat dan pembiarannya).
Dalam
pandangan Imam Malik, menuliskan pendapat para sahabat dan tabiin adalah sangat
penting karena ada kejadian yang tidak terjadi di masa Nabi, tetapi terjadi
dimasa sesudahnya. Bisa dikatakan bahwa al-Muwatta’ tidak hanya memuat hadis
Nabi, tetapi juga fatwa lain. Banyak ulama berpendapat bahwa susunan semacam
itulah yang paling tepat dan paling baik pada masanya.
Di
dalam al-Muwatta’ dimuat 1720 hadis. Hadis musnad berjumlah 600 buah, yang
mursal tidak semuanya diterima. Yang mursal 222 buah, yang mauquf 613 dan yang
qaul tabi’in 285 buah.
Menurut
Imam Malik hadis yang dapat diterima harus memenuhi syarat sebagai berikut:
a. Hadis itu tidak
bertentangan dengan al-Qur’an. Atas dasar ini ia menolak hadis yang menyatakan
melarang makan burung apa saja yang berkuku kuat karena hadis ini bertentangan
dengan ayat al- Qur’an.
b. Hadis itu
masyhur atau diamalkan oleh masyarakat Madinah. Imam Malik tidak meriwayatkan
hadis yang tidak terkenal. Ia meninggalkan hadis yang asing.
Beberapa
kitab yang ditulis oleh Imam Malik antara lain adalah :
a. Risalah ila ibn
Wahab fi al-Qadri
b. Kitab an-Nujum
c. Risalah fi
al-‘Aqidah
d. Tafsir li Garib
al-Qur’an
e. Risalah Ii
al-Lais| bin Sa’ad
f. Risalah Ii Abi
Gisan
g. Kitab al-Sir
h. Kitab al-Manasik
i. Kitab al
Muwatta’
b. Imam al-Bukhari
1. Riwayat Singkat
Nama
lengkapnya Abu Abdillah Muhammad ibn Ismail ibn Ibrahim ibn ibn al-Mugirah ibn
Bardizyah al-Jufi al-bukhari. Lahir pada hari Jumat 13 Syawal 194 H di kota
Bukhara. Kegemaran belajar agama dimiliknya semenjak ia masih kecil di kampung
halamanya.
Beberapa
buku tulisan ulama seperti Ibn al-Mubarak (guru ayahnya) dan al-Waki’ sempat
dihafalkannya. Beberapa negeri yang pernah disinggahinya antara lain, Makkah,
Bagdad, Basrah, Kufah, Syam, Himsh, Asqalan, Mesir dan lain-lain.
Riwayat
yang populer tentang kebesaran al-Bukhari sebagai ulama hadis adalah ketika ia
memasuki kota Bagdad. Tidak seorang ulama pun membantah pendapat-pendapatnya.
Karenanya tidak heran kalau hadis riwayat al-Bukhari dinilai paling berkualitas
dibanding dengan riwayat lain. Al-Bukhari wafat di dekat kota Samarqand pada 30
Ramadan tahun 252 H.
2. Karya-karyanya
a. Qadaya
al-Sahabah wa al-Tabi’in
b. Raf’u al-yadain
fi a-Salah
c. Qira’at khalfaa
al-Imam
d. Khalq af’al
al-‘Ibad
e. Al-Tafsir
al-Kabir
f. Al-Musnad
al-Kabir
g. Tarikh al-Sagir
h. Tarikh al-Ausat
i. Tarikh
al-Khabir
j. Al-Adab
al-Mufrad
k. Bir al-walidain
l. Al-Du’afa
m. Al-Jami’ al-Kabir
n. Al-Usyriban
o. Al-Hibah
p. Asma al-Sahabah
q. Al-Wuhdan
r. Al-Mabsut
s. Al-‘Ilal
t. Al-Kuna
u. Al-Fawaid dan
v. Al-Jami’
al-Sahih
3. Al-Jami al-Sahih
Semua
karya al-Bukhari sangat penting dalam ilmu hadis. Tetapi yang paling terkenal
adalah kitabnya al-Jami’ al-Sahih. Kitab ini mulai ditulis ketika ia berada di
Makkah dan berakhir ketika ia berada di Madinah. Dari kesekian ratus ribu hadis
yang dihafalnya, untuk dimasukan di dalam kitabnya ia melakukan salat sunah.
Al-Bukhari
sering memotong bagian hadis untuk dijadikan judul bab, yang kemudian disii
hadis-hadis. Jumlah hadis yang diriwayatkan al-Bukhari sebanyak 9.082 buah,
termasuk yang disebut ulang. Bila tidak diulang jumlah hadis itu 2.602 buah.
4. Kritik terhadap
al-Bukhari
Ada
juga kritik terhadapnya ada kira-kira 110 hadis yang kena sasaran kritik.
Demikian juga ada yang mengatakan bahwa dari 435 orang rijal hadis, ada 80
rijal dinilai daif. Tetapi tentu al-Bukhari lebih mengetahui tentang persepsi
dirinya terhadap tokoh hadis dari pada orang lain. Ada pertimbangan tertentu yang
tidak diperhitungkan ulama lain.
c. Abu al-Husein Muslim ibn al-Hajjaj al-Naisaburi
1. Latar Belakang
Kehidupannya
Imam
Muslim lahir pada 204 H. Keramahannya kepada orang lain telah membuat dirinya sebagai seorang pedagang yang
sukses. Ia dikenal sebagai dermawan Naisabur.
Seperti
pada umumnya ulama lain, ia belajar semenjak kecil tahun 218 H. Pelajaran
dimulai dari kampung halamannya dihadapan para syekh di sana. Hampir semua
negeri pusat kajian hadis tidak luput dari persinggahannya, seperti Irak
(Bagdad), Hijaz, Mesir, Syam, dan lain-lain. Imam Muslim wafat pada 26 Rajab
261 H) di dekat Naisabur.
Banyak
ulama ditemui untuk periwayatan hadis, seperti Imam Ahmad ibn Hanbal, Ishaq,
ibn Rahawih (Guru al-Bukhari juga) dan lain-lain. Di antara mereka
al-Bukharilah yang paling berpengaruh terhadap dirinya dalam metodologi
penelitian hadisnya.
Imam
Muslim mempunyai banyak murid terkenal, seperti Imam al- Tirmidzi, Ibn
Khuzaimah, Abdurrahman ibn Abi Hatim.
2. Kitab Sahihnya
Ada
lebih dari dua puluh buku telah ditulis oleh Imam Muslim. Yang terkenal adalah
Sahih Muslim itu sendiri, nama singkat dari judul aslinya:
Di
dalam kitabnya ini termuat 3.030 hadis (tidak termasuk di dalamnya yang ditulis
berulang-ulang). Jumlah hadis seluruhnya ada lebih kurang 10.000 buah.
Dengan
sebutan Sahih Muslim, penulisnya bermaksud menjamin bahwa semua hadis yang
terkandung di dalamnya adalah sahih.
Menurut
penelitian para ulama, persyaratan yang ditetapkan Imam Muslim bagi sahihnya
suatu hadis pada dasarnya sama dengan persyaratan yang ditetapkan oleh
al-Bukhari. Ibnu Salah mengatakan bahwa persyaratan Muslim dalam kitab sahihnya
adalah :
a. Hadis itu
bersambung sanadnya.
b. Diriwayatkan
oleh orang kepercayaan (s|iqat) dari generasi permulaan hingga akhir.
c. Terhindar dari
syuzuz dan ‘illat.
Persyaratan
ini juga dipergunakan oleh Imam al-Bukhari. Hanya apa yang dimaksud dengan
bersambung sanadnya, ada sedikit perbedaan antara kedua imam ini.
Setelah
melihat prestasi gemilang yang diraih oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, para
ulama generasi berikutnya membanding hasil karya kedua tokoh ini. Dan sikap ini
memang manusiawi. Di antara yang baik, masih saja dipilih, mana yang lebih
baik. Sebagian hasil perbandingan itu adalah:
Menurut
al-Bukhari, seorang periwayat harus benar-benar bertemu dengan pemberi hadis,
kendati hanya satu kali. Di antara indikatornya, bentuk serah terima dengan
ungkapan akhbarana, sami’tu dan sebagainya. Sementara, menurut Imam Muslim,
asal mereka itu semasa sudah dinilai bersambung sanadnya.
Tampaknya
inilah yang menyebabkan para ulama generasi berikutnya menilai Sahih al-Bukhari
lebih tinggi tingkat kesahihannya dibanding dengan Sahih Muslim. Tetapi para
ulama Magribi ada yang berpendapat bahwa Sahih Muslim lebih unggul dari Sahih
al-Bukhari.
Dalam
hal sistematika, tampaknya disepakati bahwa sistematika Sahih Muslim lebih baik
dari pada Sahih al-Bukhari. Dengan sistematika yang bagus ini Imam Muslim telah
memudahkan jalan menelusuri hadis Sahihnya bagi siapa saja yang ingin meneliti.
Sama
baiknya karya al-Bukhari dan Muslim terungkap dalam syair.
Artinya
: Orang-orang bertengkar tentang al-Bukhari dan Muslim di hadapan saya dengan
berkata, mana yang harus didahulukan atau diutamakan? Saya menjawab, ‚Sungguh
al-Bukhari unggul di bidang kesahihan sebagaimana Muslim unggul di bidang
sistematika.‛
Kendati
sikap hati-hati itu sudah dicurahkan sepenuhnya ulama hadis sekelas Imam
Muslim, tetapi ada saja kritik yang muncul. Konon jumlah rijal Sahih Muslim ada
620 orang, 160 antaranya dinilai lemah.
Al-‘Asqalani
mengadakan pembelaan, pemilik rijal lebih mengenal rijalnya dari pada
pengkritiknya. Di samping itu, matan hadis juga tidak luput dari kritik.
Misalnya pada sebuah hadis yang berbunyi:
Artinya:
Barang siapa setiap pagi makan kurma (ajwa) tujuh biji tidak akan dilanda oleh
bahaya racun atau sihir pada hari itu.‛
al-Siba’i
membantah hadis ini dengan pernyataan, sebuah hadis dapat kita terima
kebenarannya selama sanadnya sahih dan matannya juga sahih meskipun secara
ijmal. Persoalannya, pernahkah ilmu kedokteran melakukan penelitian untuk
membuktikan kebenaran hadis tersebut?
d. Abu Daud al-Sijistani
1. Riwayat Singkat
Namanya
adalah Sulaiman ibn al-Asy’as| ibn Ishaq al-Adzawi al-Sijistani. Ia lahir pada
202 H. Belajar ilmu merupakan kesenangannya semenjak masih kecil. Sebelum
mendalami hadis, Abu Daud telah mempelajari al-Qur’an dan bahasa Arab serta
materi lainnya.
Dalam
menempa diri agar menjadi ulama besar, ia malang melintang ke berbagai negeri
seperti Khurasan, Ray, Harat, Kufah dan Bagdad. Banyak guru terkemuka
dijumpainya seperti Abu Amr al-Dharir, Abu al-Walid al-Thayalisi, Sulaiman ibn
Harb, Ahmad ibn Hanbal.
Reputasi
keulamaannya melejit ketika ia tinggal di Basrah. Kala itu Basrah ditimpa
peceklik disebabkan serangan musuh pada tahun 257 H. Abu Ahmad, Gubernur Basrah
yang juga saudara Khalifah al-Muwaffiq meminta agar Abu Daud bersedia tinggal
di sana untuk menjadi guru, khususnya ilmu Hadis.
Abu
Daud Kemudian tinggal di Basrah memenuhi permintaan tersebut. Abu Daud
meninggal di sana pada 16 Syawal tahun 275 H. Di samping ahli bidang hadis, ia
juga ahli di bidang fikih. ini dapat dilihat bahwa kitab sunannya yang bercorak
fikih.
2. Sunan Abu Daud
Imam
Abu Daud menyusun kitab sunannya dengan sistematika fikih. Kitab ini berisi
4.800 hadis sebagai inti dari 500.000 hadis yang dikuasainya dengan baik. Kitab
ini sangat memudahkan pembaca dalam mencari hadishadis hukum.
Abu
Daud mengakui bahwa tidak semua hadis yang ditulisnya sahih. Karenanya ia
memberi catatan bahwa sejumlah hadis lemah yang dimasukkan dalam kitabnya itu
bukan asal masuk saja. Imam Abu Daud tidak memasukkan hadis yang diriwayatkan
dari orang yang matruk al-hadis|.
Dalam
pemikiran Abu Daud, hadis yang kurang sahih masih lebih berbobot dibanding
pendapat ulama. Dari keterangannya ini suatu hadis-hadis Abu Daud berada di
bawah tingkatan Sahih al-Bukhari dan Muslim.
Seperti
halnya kitab hadis induk lain, kitab Sunan Abu Daud disyarahi oleh beberapa
ulama. ‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Daud, tulisan Syamsul Haq Azimabadi
dikenal sebagai kitab syarahnya yang baik. Di samping itu ada lagi Bazl
al-Majhud fi Halli Abi Daud ditulis oleh Khalil Ahmad Ansari.
e. Imam al-Tirmidzi
1. Latar Belakang
Kehidupannya
Imam
al-Tirmidzi lahir pada tahun 209 H di kampung Tirmidz dekat sungai Jaihun.
Semenjak kecil ia senang belajar. Tirmidzi tidak mau ketinggalan dari ulama
hadis lain. Ia juga ikut mengembara ke berbagai negeri pusat ilmu pengetahuan,
seperti Irak, Hijaz, Khurasaan dan lain-lain.
Banyak
guru terkemuka dijumpai agar ilmu mereka mengalir kepadanya seperti al-Bukhari,
Muslim, Abu Daud, Qutaibah ibn Sa’id dan Muhammad ibn Masyr. Ia pengagum berat
al-Bukhari dan ia memang berada di bawah asuhan al-Bukhari. Karenanya ia
mengaku sepanjang hayat tidak menjumpai orang yang sepadan dengan al-Bukhari di
bidang hadis apalagi melebihinya.
Imam
al-Tirmidzi wafat di kampungnya, pada malam senin 13 Rajab tahun 279 H dalam
usia 70 tahun.
2. Karya Imam
al-Tirmidzi
Karyanya
Imam al-Tirmidzi yang terkenal adalah kitab al-Jami’ al- Mukhtasar min Sunan
Rasulillah. Kitab lain yang ditulisnya antara lain al-As|ar al-Muqufah, al-Asma
wa al-Kuna, Asma al-Sahabah, al-Syamail al- Nabawiyyah, al-‘Ilal, al-Tarikh,
al-Zuhd.
Imam
al-Tirmidzi memberi catatan bahwa hadisnya sesuai dengan predikatnya, seperti
sahih atau hasan. Bila ada hadis daif karena mengandung ‘illat, ia menujukkan
‘illatnya. Begitu juga bila hadis itu munkar, ia menunjukkan di mana munkarnya.
Tetapi ia tidak memasukkan di dalam kitabnya hadis yang diriwayatkan dari orang
yang dicurigai bohong.
Al-Tirmidzi
adalah ulama hadis yang pertama sekali mempopulerkan predikat hadis hasan.
Yaitu hadis yang kurang pantas dinilai sahih, artinya hadis tersebut menurut
al-Tirmidzi adalah hadis hasan. Hadis ini bukan daif dan tidak layak dimasukkan
dalam kategori daif.
Jika
para ulama sebelum al-Tirmidzi (seperti ulama fikih pendiri Mazhab empat)
mengatakan bahwa hadis daif untuk kepentingan tertentu dapat dijadikan hujah,
maka yang dimaksudkan adalah hadis hasan menurut al- Tirmidzi. Jadi, bukan
sembarang hadis daif.
f. Al-Imam al-Nasai
1. Latar Belakang
Kehidupannya
Nama
lengkap Imam al-Nasai adalah Imam al-Hafizh Abu Abdirrahman Ahmad ibn Syu’aib
ibn Ali al-Khurasani al-Nasa’i. Dikenal dengan nama Imam Nasai karena
dinisbatkan dengan kampung Nasa, bagian dari negeri Khurasan.
Imam
Nasai lahir pada tahun 215 H. Semenjak kecil ia menuntut ilmu dan mulai
berkelana semenjak berumur 15 tahun. Pusat-pusat studi yang dikunjunginya
antara lain, Hijaz, Irak, Mesir, Syam.
Setelah
berkelana ke sana kemari ia memutuskan menetap di Mesir. Sebagai diketahui
bahwa Imam Syafi’i pernah bermukim dan mempunyai banyak murid di Mesir, bahkan
wafat dan dimakamkan di sana, maka tidak aneh bila Imam Nasai terpengaruh
pemikiran Imam Syafi’i di bidang fikih.
Imam
Nasai dikenal tegas dan pemberani. Ia tidak hanya berfatwa tetapi ikut berjihad
menyertai Gubernur Mesir bersama tentara. al-Nasai wafat di Palestina pada 13
Safar tahun 303 H dan dimakamkan di Baitul Maqdis.
2. Sunan al-Nasai
Mulanya
Imam Nasai menyusun kitab hadis dengan nama al-Sunan al- Kubra. Di dalamnya
dimuat hadis sahih, hasan dan daif. Setelah membaca kitab tersebut, Gubernur
al-Ramlah bertanya, apakah semua hadisnya sahih.
Al-Nasai
menjawab di dalamnya ada yang sahih, ada yang hasan dan ada yang daif.
Kemudian
Imam Nasai kembali memilih hadis-hadisnya. Dari hasil seleksinya itu
tersusunlah kitab al-Sunan al-Mujtaba seperti yang kita dapatkan sekarang.
Meski demikian, masih terdapat juga hadis hasan dan daif dalam kitab
al-Mujtaba.
Tentu
saja terhadap hadis-hadis daif, Imam Nasai menunjukkan di mana letak
kedaifannya. Agaknya ia bermaksud menunjukkan bahwa hadis yang diriwayatkan
oleh ulama lain itu sebenarnya lemah berdasarkan hasil penelitiannya.
Menurut
catatan Prof A’zami, Imam Nasai tidak mau mengambil hadis melalui Ibn Luhai’ah
karena dinilai sangat lemah. Ini menujukkan bahwa Imam Nasai selektif dalam
memimilih rijal. Konon, ia berbeda paham dengan guru yang bernama al-Harits ibn
Miskin. Namun, perselisihan paham ini tidak menghalanginya untuk belajar
kepadanya, kendati tidak menghadiri halaqah gurunya itu.
Untuk
hadis yang melalui jalur al-Harits, ia menulis ‚Saya mendengar hadis ini pada
saat hadis ini dibacakan oleh al-Harits ibn Miskin.‛
g. Al-Imam Ibn Majah
1. Latar Belakang
Kehidupannya
Namanya
al-Imam al-Hafiz Abu Abdillah, Muhammad ibn Yazid al- Qazwaini Ibn Majah. Majah
adalah laqab (nama panggilan) ayahnya. Ibn Majah lahir di Qazwain pada tahun
209 H. Semenjak kecil ia mulai bersekolah dan mengembara ke Irak, Hijaz, Mesir,
Syam dan lain-lain. Ibn Majah wafat pada 22 Ramadhan 273 H.
2. Kitab Sunan
Ibnu
Majah menulis beberapa kitab. Di banding para ulama yang disebut terdahulu,
karya Ibn Majah tergolong sedikit. Tercatat, ia menulis Kitab Sunan, Kitab
Tafsir, dan Kitab Tarikh. Karyanya yang dapat ditemukan sekarang adalah
kitabnya Sunan Ibn Majah. Karyanya yang lain tidak jelas.
Hadis
yang terdapat di dalam kitabnya sebanyak 4.341. Dari jumlah itu, ada 3002 hadis
telah dibukukan oleh penulis Kitab al-Usul al-Sittah artinya masih tersisa
1.339 hadis yang diriwayatkan oleh Ibn Majah sendiri. Ibn Majah tidak memberi
catatan apa-apa tentang nilai hadis yang ditulis di dalam kitab sunannya itu.
Agaknya, penilaian sahih atau tidaknya hadis di dalam kitabnya, diserahkan
kepada pembaca yang mau meneliti.
Dr.
Fuad Abdul Baqi mencatat, dari 1339 hadis itu terdapat 482 hadis yang bernilai
sahih 199 bernilai hasan 619 lemah sanadnya, dan 99 hadis munkar dan makzub.
Sikapnya yang terbuka kepada pembaca itu tampaknya telah menempatkan kitab
sunannya pada peringkat keenam dari kuttubus sittah.
Pada
sisi lain, kitab ini dinilai bermutu tinggi karena paling sedikit dalam pengulangan
hadis, dibanding kitab-kitab lain. Hal ini memudahkan pembaca untuk melacak
hadis yang diriwayatkannya.
Lampiran 3
GLOSARIUM
Ijmal : ringkasan, secara umum ikhtisar, tidak terinci
Maknawi : tentang makna, berkaitan dengan makna, yang
tersirat, inti, penting
Masdar : bentuk asli, bentuk asal, verbal
Mukjizat : kejadian luar biasa yang dialami nabi yang di
luar jangkauan akal manusia
Rida : rela, suka, senag hati
Risalah : ringkasan yang dikirimkan, surat edaran,
notulensi rapat, keterangan ringkas tentang suatu bahasan ilmu pengetahuan
Tarikh : Penanggalan, perhitungan tantang tanggal,
penanda waktu
Tasrif : Sistem perubahan bentuk kata dalam bahasa arab
yang menandakan waktu, pelaku dan, pekerjaan, benda atau keterangan
Lampiran 4
DAFTAR
PUSTAKA
Abdul Wahid Ramli. Ulumul Qur’an, Raja Grafindo Persada,
Jakarta, 2002
Ahad Syadali,. Ahmad Rofi’i, Ulumul Qur’an 1, CV Pustaka
setia abadi, Bandung, 1997
Ahmad Syadali. ‘Ulumul Qur’an I. Cet. I; Bandung: Pustaka
Setia, 1997.
Al-Alwi Sayyid Muhammad Ibn Sayyid Abbas, Faidl
Al-Khobir, Al-Hidayah, Surabaya
Al-Qattan, Manna’ Khalil. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, Litera
Antar Nusa, Jakarta, 2000
Al-Shalih, Shubhi, Mabahits fi ‘Ulum al-Quran, Dar al
‘Ilm Li al-Malayin, Beirut, 1977
Al-Shobuny, Mohammad Aly, at-Tibyan fi Ulumil Qur’an,
Alam al-Kitab, Beirut
al-Suyuti, Jalaluddin, al-Itqan fi Ulum al-Qur’an, Cet.I;
Beirut: Muassasah al-Risalah, 2008
Al-Salih, Subhi, Membahas Ilmu – Ilmu Hadis. Pustaka
Firdaus: Jakarta, 2000.
Al-Zarqany, Muhammad Abd al-Azhim, Manahil al-Irfan fi
Ulum al-Qur’an, Juz I, Isa al-Baby al-Halaby wa Syirkah, Mesir
Factur Rahman. Ikhtisar Musthalahul Hadis. Al-Ma’rif,
Bandung, 1985
Hasbi ash-Shidiqi, Tengku Muhammad, Sejarah dan Pengantar
Ilmu Hadis, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 2009
Hudhari Bik, Tarikh At-Tasyri’ Al-Islami, (Terj. Mohammad
Zuhri, Rajamurah Al-Qanaah), 1980,
Ismail, Muhammad Bakri, Dirasat fi Ulum al-Qur’an, Cet.
II; Kairo: Dar al-Manar, 1999
Jalal al-Din ‘Abd al- Rahman ibn Abi bakr al-Suyuthi,
Tadrib al-RAwi fi Syarh Taqrib an- Nawawi, jilid 1, Beirut: Dar al-Fikr
Kahar Masyur, Pokok-pokok Ulumul Qur’an,Rineka Cipta,
Jakarta, 1992
Kamaluddin Marzuki, Ulumul Quran, PT Remaja Rosda Karya,
Bandung, 1994
Khatib, Al.M. Ajjaj. Al Sunah Qobla Al Tadwin.Dar Al
Fikr: Beirut, 1997
Mana’ul Quthan, Pembahasan ilmu Al-Qur’an, PT Rineka
cipta, Jakarta, 1993
M. Hasbi Ashshiddieqy, Sejarah dan Pengantar Ilmu
alqur’an dan Tafsir, PT Bulan Bintang, Jakarta, 1992
Muhammad Chirzin, Al-Qur’an dan Ulumul Qur’an, Dana Bakti
Primayasa, Yogyakarta, 1998
M. Quraish Shihab, ‚Membumikan‛ Al-Qur’an: Fungsi dan
Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Cet. XIX; Bandung: Mizan, 1999)
Muhammad Ahmad &
M. Mudzakir, Ilmu Hadis (Cet – 10), Pustaka Setia, Bandung, 2000
Muhammad Ahmad. Ulumul Hadis. Pustaka Setia, Bandung,
2004
Nawir Yuslem. MA, ulumul Hadis, Mutiara sumber widya,
Jakarta 2001
Rofi’i, Ahmad & Ahmad Syadali. Ulumul Quran Pustaka
Setia, Bandung 1997.
Subhi Ash-Shalih, Membahas ilmu-ilmu Al-quran, terjemah
Nur Rakhim, Pustaka Firdaus Jakarta, 1993
Suparta, Munzier. Ilmu Hadis, Raja Grapindo: Jakarta,
2002
Teungku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy Sejarah dan
Pengantar Ilmu Hadis, Pustaka Rizki Putra, Semarang, 1998
Zarkasih, M.Ag.,
Pengantar Studi Hadis, Aswaja Presindo, Yogyakarta, 2012
|
Mengetahui, Kepala
Sekolah LUFIANA, S.S NBM.
1024550 |
MAGELANG, ......JANUARI
2025 Guru Mata Pelajaran KUNI HIRIYANTI, S.Pd NIP. - |
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar